Syaikh Zaini Dahlan; Fitnah Wahhabiyyah

SYAIKH ZAINI DAHLAN; FITNAH WAHHABIYYAH

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Setentang apa yang dituliskan oleh Syaikh Ahmad Zaini Dahlan dalam Fitnah Wahhabiyyah, agaknya hanyalah menguatkan betapa sejarah mengulang kejadiannya sendiri, dimana cerita dan lagu langgamnya sama, namun pelakunya saja yang berbeda. 

Imam Ahmad bin Hanbal –dengan segala kemuliaannya- menjadi satu diantara ulama yang dicatat tinta emas sejarah. Ia orang baik, namun ‘diuji’ dengan pengikut yang ekstrem; begitu al-Hafidz Ibnu Syahin meyebutkan. Dalam cacatatan Ibnul Atsiir, Massa Hanbalian pernah terlibat konflik  pada tahun 447 H dimana saat itu mereka memasuki sebuah masjid di Bab al-Sya'īr hanya untuk melarang Imam men-jaharkan bismillah. Tidak sampai di situ, hegemoni ini berlanjut dengan perintah mengeluarkan semua mushaf agar ayat bismillah dihapus sehingga tidak dibaca lagi. 

Apa yang membuat sikap ekstrem ini muncul, salah satunya adalah anggapan bahwa praktik ‘menyimpang’ -menurut mereka-  dalam ranah fiqih tidak jauh berbeda dengan penyimpangan teologis, atau mungkin nyaris sama, sehingga persoalan yang sesungguhnya tipis menjadi begitu sensitif bagi mereka. 

Sikap seperti itu rupanya diteruskan oleh Wahabi di masa awal kemunculannya. Hegemoni mereka diuraikan oleh Syaikh Zaini Dahlan dalam karya yang penulis sebut di atas. Ia menyebutnya dengan kata fitnah; dalam artian konflik aliran Wahabi. Bukan fitnah dengan pengertian memfitnah -dalam bahasa Indonesia- berupa tuduhan tanpa dasar. Kitab Fitnah Wahhabiyah ini ringkas, untuk mendapatkan informasi yang lebih detail, buku ini mesti disandingkan dengan kitab Tarikh Syaikh Zaini Dahlan yang lain yang berjudul Khulashatul Kalam fi Bayaani Umaraa’ al-Baladil Haram. 

$ads={1}

Dalam buku Khulasah, Syaikh Zaini memaparkan sikap ghuluw Wahhabiah terhadap delegasi haji dari Syam dan Mesir di tahun 1221 H. Kain kiswah untuk ka’bah yang dibawa oleh jamaah haji Mesir saat itu diperintahkan untuk dibakar. Yang menjadi menarik kala itu adalah kebijakan tidak bolehnya masuk ke pelataran Masjidil Haram -setelah tahun itu- bagi yang tidak berjenggot, hal ini mereka landaskan kepada ayat ke 28 pada surat Attaubah yang menyatakan:

يا أيها الذين آمنوا إنما المشركون نجس فلا يقربوا المسجد الحرام بعد عامهم..

‘wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya para Musyrikin itu adalah najis, janganlah mereka mendekat ke Masjidil Haram setelah tahun ini..’’

Dari contoh sikap ghuluw Wahhabiyah yang dipaparkan Syaikh Zaini Dahlan di atas, apakah beliau sedang memfitnah atau buku-buku sejarah yang beliau tulis lantas menjadi  fitnah kepada Wahhabiyah?, hemat kami tentulah tidak. Data-data valid menjadi bukti otentik dalam kajian sejarah, dimana semua itu ada dalam catatan-catatan Syaikh Zaini. Teruntuk pengamat Wahabi, kitab sejarah keluarnya (pemberontakan?) Wahhabiyah  dari kekhalifahan Usmani layak pula dibaca sebagai penambah literasi.

Lalu, jika aliran Wahabi itu 'kejam' dan ekstrem mengapa Syakh Zaini Dahlan bisa hidup damai dan mati dengan tenang di negeri yang didominasi oleh Wahabi?, menjawab hal ini kita perlu kembali ke sejarah Daulah Su’udiyah sendiri dan tarikh Asyrāfil Hijāz.

Syakh Zaini Dahlan memang lahir dan wafat di era Su’udiyah fase kedua yang diprakarsai oleh Turki, Faishal dan keturunannya. Namun daerah kekuasaan mereka kecil dan lemah sekali, dimana Makkah dan Madinah selama Syakh Zaini hidup tidak berada di bawah kekuasaan Saudi fase II, melainkan di bawah pemerintahan Syarif atas nama wakil dari Turki Usmani. Bahkan, hampir seluruh kawasan Hijaz kembali ke pangkuan Asyraf atas nama Daulah Utsmaniyah. Hal ini diinformasikan langsung oleh Syaikh Zaini dalam tarikh-nya. Bila dilihat dari tahun 1300 H yang beliau nyatakan ini, nampak bahwa gerakan wahabi saat itu belum menguasai Haramain; Makkah dan Madinah.

Walhasil, Syaikh Zaini Dahlan memang wafat dengan tenang di Madinah.Tapi itu bukan karena Wahabi kasihan kepadanya, melainkan mereka saat itu lemah dan tersudut karena kuatnya serangan dan pertahanan Turki Usmani. 

Andai kenyataan berbalik saat itu, apa yang menimpa Abul Haris al-Muhasibi yang jenazahnya hanya dishalatkan oleh beberapa orang dan Imam at-Thabari yang terpaksa dikuburkan diam-diam di malam hari demi menghindari ‘keganasan’ oknum Hanbalian; bukan tidak mungkin juga bisa menimpa Syaikh Zaini Dahlan atau yang semisal dengannya.

$ads={2}

___

Apa yang kami tulis ini bukan hendak mengajak membenci dan memusuhi Wahabi atau Salafi hari ini, demi Allah tidak. Tulisan ini kami turunkan hanya untuk menjawab dan meluruskan fakta sejarah dimana salah seorang Ustadz kami –hafizhahullah- menyebut Syaikh Zaini Dahlan -yang Mufti Makkah dan seorang Sayyid itu- telah membuat fitnah dan bukunya berisi fitnah semata. 

Perbedaan pendapat adalah wajar saja; tapi apa yang titik, itu yang akan ditampung.

Oleh: Dzul Ikromi

Demikian Artikel " Syaikh Zaini Dahlan; Fitnah Wahhabiyyah "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama