Ruang tahanan Mbah Hasyim Asy'ari di Lapas Mojokerto

RUANG TAHANAN MBAH HASYIM ASY'ARI DI LAPAS MOJOKERTO

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Suatu sore di Mojokerto yang mulai sepi. Suasana memang tidak seramai tahun-tahun lalu. Penguasa lama telah tumbang dan yang baru telah datang. Biar berganti ya tetap saja mereka adalah penjajah. Antara Belanda dan Jepang keinginannya sama untuk menguasai dan menguras kekayaan bumi kita meskipun mereka mengaku sebagai saudara tua. Jepang menerapkan hukum perang yang membuat hidup tidak tenang.

Seorang pemuda sedang duduk di dalam ruang dia di tahan. Ruangan sempit yang telah akrab dengannya karena sudah hampir setahun dia diami. Pemuda itu ditangkap tentara Jepang karena peristiwa rayahan pada maret 1942. Rayahan adalah kejadian perampasan oleh orang pribumi terhadap harta milik asing yang ditinggal lari pemiliknya. Banyak orang yang ditangkap dan kemudian dilepas lagi setelah barang rampasan diserahkan pada Jepang. Sedangkan pemuda itu tidak bisa mengembalikan apa-apa karena memang tidak ada barang yang diambilnya, dia menyerang onderan (kecamatan) dan distrikan (kawedanan) yang ada di gedeg.

Kegiatan menunggu waktu sholat maghrib sesungguhnya bukan hal baru baginya. Hanya situasinya yang berbeda. Dulu menunggu adzan dipergantian hari dilakukannya di depan guthekan, sebutan kamar yang dihuni santri di pesantren. Kini dia menanti di ruang sempit sel penjara. Pemuda itu sejak kecil akrab dengan pesantren. Dia pernah nyantri di Termas Pacitan lalu dilanjutkan di Tebu ireng Jombang. Saat menunggu di penjara hari berganti terasa lambat.

Kamar yang dihuni pemuda itu terbilang istimewa. Sel yang ada diawal deretan ruang penjara. Karena letaknya itu sel tersebut diberi nomor identitas 1, sel nomor satu. Sebelum sel nomor satu terdapat pintu jeruji yang membatasi antara dunia penjara dengan dunia bebas. Sel nomer satu berdampingan dengan ruang tata usaha penjara. Antara kedua ruang itu terdapat lubang angin. Dari lubang angin itu yang membuat sel nomor 1 menjadi istimewa. Dari lubang angin itulah beberapa pembicaraan dapat dia dengar. Lebih istimewa lagi karena lubang angin itulah yang memberi cahaya pada malam hari. Ketika semua sel gelap gulita hanya sel nomer 1 yang temaram oleh cahaya lewat lubang angin. Cahaya sisa dari lampu 250 watt yang terpasang di ruang tata usaha penjara.

Baca Juga: Kisah Mbah Hasyim Asy'ari buat Cemas Van Der Plas

Setahun hidup di tahanan Poerwo Tengah membuatnya akrab dengan sipir penjara. Salah seorang sipir itu bernama Abdul Djalil. Sipir itu akrab dengan si pemuda sebab Jalil kenal dengan ayahnya. Lewat sipir itula dia mendapat kiriman makanan dari rumahnya. Kiriman makanan diantar keluarganya ke rumah Jalil dan kemudian diserahkan pada si pemuda yang tidak doyan dengan ransum penjara. Jalil juga menyelundupkan selembar selimut yang cukup untuk mengusir dingin lantai penjara serta udara malam. Dari sipir itu dia tahu bahwa penjara Mojokerto akan mendapat kiriman tahanan baru dari luar kota. Sayangnya Jalil tidak tahu siapa tahanan yang dimaksud. Kepala penjara, orang Jepang tidak menginformasikan tentang tahanan kiriman dimaksud.

Kusak-kusuk tentang akan datangnya tahanan sebenarnya pernah dia dengar dari pembicaraan para pegawai penjara di ruang tata usaha. Karena itu dia menanyakan pada Jalil siang tadi saat Jalil memberikan jatah makannya. Dia semakin penasaran sebab Jalil mengaku tidak tahu siapa tahanan yang akan datang. Seperti apa orang itu yang membuat kepala penjara menutup informasi terhadap anak buahnya sendiri.

"Saya kurang tahu, tapi sepertinya tahanan itu bukan orang sembarangan. Saya melihat kepala penjara sekarang tampak pusing setekah tahu adanya kiriman tahanan itu,"ungkap Jalil saat menjawab pertanyaannya siang tadi.

$ads={1}

Sebelum suara adzan magrib terdengar dari masjid agung alun-alun Mojokerto, pemuda itu melihat pintu gerbang penjara dibuka. Beberapa orang tentara Jepang masuk membawa seorang tahanan tua. Tahanan itu mengenakan sorban dan berkain sarung, pakaian khas kyai Jawa. Penjagaan pada tahanan tua itu terlihat ketat padahal yang dikawal sepertinya orang tua tanpa daya. Jangankan mampu lolos dari penjara, untuk lari dari kejaran tentara saja tidak bakalan mampu. Tahanan tua dengan terompah kayu itu digelandang menuju sel tahanan.

Saat rombongan pengawal itu lewat depan selnya, dia sekilas melihat tahanan tua itu. Meski sekilas dia tahu siapa tahanan yang beberapa hari belakangan menjadi bahan pembicaraan. Walau sekilas saat melintas dia kenal betul sosok itu. Dia adalah Mbah Hasyim Asyari, pengasuh Pesantren Tebu ireng tempatnya mondok dulu. Tahanan itu adalah gurunya, kyainya.

Di rumah tahanan Poerwotengah, Mbah Hasyim yang menjadi panutan kyai se pulau Jawa itu ditempatkan di sel tahanan nomor 2, tepat bersebelahan dengan ruangannya. Pemuda itu tidak tahu sebab apa mbah Hasyim di tahan Jepang. Maklum saja karena ketika Jepang datang tidak lama kemudian dia masuk tahanan. Kecuali itu, informasi juga dibatasi oleh Jepang. Radio maupun koran diawasi ketat oleh penjajah yang mengaku sebagai saudara tua orang Jawa tersebut.

Saat mbah Hasyim sudah masuk ke sel tahanan, si pemuda memanggil Jalil yang bau selesai memeriksa tiap ruangan. "Pak Jalil, tolong berikan selimut saya ini pada tahanan sebelah. Dia adalah guru saya, Mbah Hasyim" ujar pemuda itu sambil menyerahkan selimut satu-satunya.

Hari itu, Senin 11 April 1943, hari dimana Kyai Haji Hasyim Asyari dipindahkan dari rumah tahanan Jombang ke Mojokerto, Pemuda santri Tebu Ireng itu adalah Mansyur Solikhi yang kelak menjadi komandan Lasykar Hizbullah Karesidenan Surabaya. Lasykar Hizbullah itu sendiri dibentuk atas usaha Wahid Hasyim, putra tertua Mbah Hasyim Asyari.

Oleh: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

Demikian Artikel " Ruang tahanan Mbah Hasyim Asy'ari di Lapas Mojokerto "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama