Pernyataan Resmi Markaz Al-Jilani Terkait Ismuh Ruh Buya Arrazy

PERNYATAAN RESMI MARKAZ AL-JILANI TERKAIT ISMUH RUH BUYA ARRAZY

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Beberapa bulan terakhir, masyarakat kita dihebohkan dengan video pengajian yang disebarkan secara masif melalui media sosial tentang nama Ruh, Ismu Ruh, atau Ismu Sulthan.

Dalam video tersebut, Arrazy Hasyim menetapkan adanya nama ruh, yang berbeda dengan nama lahir seseorang. Dia melegitimasi pendapatnya tersebut dengan mengatakan bahwa Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani lah yang mempopulerkan nama ruh, sebagaimana dalam kitab "Ghunyatut Thalibin."

Benarkah demikian?

Maulana Syaikh Prof. Dr. Muh. Fadhil Jailani - Hafizahullah - selalu mengingatkan kami tentang wasiat Tuan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani ra, " Ketahuilah wahai anakku, bahwa tarekat kita dibangun di atas Al-Qur'an dan Sunnah. " (Kitab "Nahrul Qadiriyah", Karya: Syaikh Prof. Dr. Muh Fadhil Jailani, Hal 86, Cet. Markaz Jailani Istanbul)

Maklum diketahui, dalam menisbatkan sebuah pendapat kepada seorang alim haruslah berdasarkan penelusuran (telaah) menyeluruh atas perkataan dan perbuatannya, baik yang terdokumentasikan dalam karya-karyanya dan/atau dari karya-karya tentangnya.

Atasa dasar ini, kami bermaksud mendudukkan "Ismuh Ruh" di hadapan Tuan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani ra. di dunia, sebelum Akhirat.

Bismillahirrahmanirrahim,

Kitab "Ghunyatut Thalibin" dan Ismuh Ruh

Pada "Kitab Adab al-Muridin", pasal terkait "Iradah, Murid, dan Murad", Tuan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani ra. Secara berurutan menjelaskan tentang gambaran laku seorang murid  hingga ia meraih derajat seorang murad. Murid adalah pemula dan murad adalah penghujung jalan yang dilalui seorang murid. Meski keduanya atas kehendak (iradah) Allah SWT.

Baca Juga: Buya Arrazy: Imam Mahdi Muncul di Indonesia, Maulana Abati Termasuk Ciri-cirinya?

Ditengah penjelasannya tersebut, Tuan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani ra. Menjelaskan:

" Dan ia(murid) digelari/dijuluki dengan julukan (istimewa) yang dengannya ia berbeda dengan kekasih-kekasih Allah (yang lain). Kemudian ia masuk ke dalam golongan hamba-hamba terkhusus Allah. Dan ia dinamai/dipanggil (dengan) nama-nama (asma) yang tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Dan ia juga akan menyaksikan rahasia-rahasia yang dikhususkan untuknya." (Ghunyatut Thalibin, Vol. 3, Hal 319, Tahkik: Syaikh Prof. Dr. Muh, Fadhil Jailani)

Satu barus kalimat inilah yang ditafsirkan oleh Arrazy untuk menguatkan asumsinya terkait nama ruh. Padahal, jika kita membaca satu baris tersebut dengan seksama, Tuan Syaikh Al-Jailani ra. tidak menyebutkan dengan tegas bahwa itu adalah nama-nama ruh. Tuan Syaikh Al-Jailani ra. hanya menjelaskan tentang kedudukan Murid dan Murad, perbedaan keduanya, dan proses untuk mencapinya. Bahkan, Tuan Syaikh Al-Jailani ra. menegaskan bahwa nama-nama yang tersemat pada Seorang Murid hanyalah Allah yang mengetahuinya.

Bahkan secara tegas Tuan Syaikh Al-Jailani ra. mengatakan bahwa tidak ada yang mengetahui nama-nama (asma') tersebut selain Allah SWT.

Kemudian Tuan Syaikh Al-Jailani ra. mengutip Sabda Rasulullah SAW:

" Tidaklah hambaku mendekat kepadaku dengan perkara-perkara sunnah hingga aku mencintainya, aku menjadi pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan hatinya. Denganku ia mendengar, melihat, berbicara, berpikir, dan berbuat " (HR. Bukhari, Ahmad, Ibnu Hibban dan Tabrani)

Dengan mengutip hadis tersebut, seakan Syaikh menegaskan bahwa nama-nama kekasih pilihannya adalah para wali-waliNya.

$ads={1}

Tuan Syaikh Al-Jailani ra. lalu menutup pembahasan ini dengan

"Dan hal itu (perbedaan Murid dan Murad) akan jelas bagimu dengan (potret kisah) Nabi Musa as. dan Nabi kita Muhammad saw.. Nabi Musa as adalah seorang murid sedangkan Nabi kita saw adalah seorang murad. Perjalanan Musa as. berkahir di bukit Tursina, sedangkan Nabi kita saw diperjalankan menuju 'Arsy dan Lahul Mahfuzh. jadi,  murid adalah sang pencari, sedangkan murad adalah yang dicari..." (Ghunyatut Thalibin, Tahkik: Syaikh Prof. Dr. Muh Fadhil Jailani, Vol,3 Hal 321, Cet. Markaz Jailani Istanbul)

Jelas dan lugas, bahwa Tuan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani ra. hanya menjelaskan tentang proses menuju Maqam Murad dari Maqam Murid dengan melaksanakan perintah-Nya mengikuti kehendak-Nya dalam ketaatan. Hingga Allah SWT menganugerahkan julukan, nama, dan panggilan sebagai seorang wali Allah swt. Bukan menjelaskan tentang nama ruh, ismuh ruh, atau ismu sulthan.

Dan rancunya lagi, menurut Arrazy setiap orang dapat mengetahui nama ruhnya hanya dengan mendaftarkan diri, untuk kemudian ditanyakan kepada pewaris hari Rasulullah saw, seutuhnya, wali al-Ghauts.

Faktanya, Tuan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani ra. amat sangat gamblang menafikan ketidakmampuan perangkat keras dan lunak yang dimiliki manusia untuk mengetahui hakikat ruh dan detil tentangnya.

Kitab Tafsir Al-Jailani dan Ruh:

" Dan mereka bertanya kepadamu (wahai rasul yang sempurna) tentang ruh, katakanlah "Ruh itu termasuk urusan tuhanku, sedangkan kalian hanya diberi pengetahuan hanya sedikit. " (QS. Al-Isra: 85)

Di akhir, Tuan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani ra. menjelaskan:

" Akhir kesempulan dari bab ini, bahwa orang-orang yang tersingkap bagi mereka tabir rasa, mereka hanya mengetahui ruh berada di tubuh. Dari hal itu, mereka mengetahui bahwa segala sesuatu lahir dan hidup, sumber pertumbuhan dan perkembangannya adalah dari proses transmisi tersebut.

Ini adalah akhir dari apa yang mungkin untuk dijelaskan dan disampaikan tentang ruh. Sedangkan mengetahui esensi dan hakikatnya adalah perkara yang tidak mampu diketahui oleh kemampuan manusia. " (Tafsir Al-Jailani, Tahkik Syaikh Prof. Dr. Muh. Fadhil Jailani, Vol III, Hal 155, Cet. Markaz Jailani Istanbul)

Kitab "Sirrul Asrar" dan Ruh:

Dalam "Sirrul Asrar" pasal ketiga tentang "Lapak Perjuangan Ruh di dalam Jasad", Syaikh Al-Jailani ra. menjelaskan empat jenis ruh: Ruh Jasmani, Ruh Rawwan, Ruh Sultani, dan Ruh Qudsi. (Kitab Sirrus Asrar, Tahkik Syaikh Prof. Dr. Muh. Fadhil Jailani, Hal 35-39, Cet. Markaz Jailani Istanbul)

Dalam penjelasannya, tidak sedikit pun Syaikh Al-Jailani ra. menjelaskan tentang ismuh ruh dalam pembahasan ini, baik implisit ataupun eksplisit.

Baca Juga: Kesesatan Cafe Babe Gue (Al Badr): Sholawat Lebih Wajib Daripada Shalat, Morotin Uang Jama'ah Dll

Seandainya ismu ruh memang ada, maka ruh mana yang dimaksud? Ruh jasmani, Ruh Rawwan, Ruh Sulthani, atau Ruh Qudsi.

Hal ini semakin memperjelas kerancuan pendapat Arrazy Hasyim. Dan tidak lain, ia hanya ingin melegitimasi pendapatnya dengan perkataan Syaikh Al Jailani ra. yang hakikatnya tidak ada kaitan sama sekali dengan ismuh ruh.

Kami hanya ingin menjelaskan, bahwa Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani ra. tidak pernah menuliskan dan mengatakan tentang nama ruh dalam karya-karyanya.

Mursyid kami, Syaikh Prof. Dr. Muh Fadhil jailani juga memastikan bahwa selama 44 tahun berkhidmah kepada karya-karya sang kakek, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani ra. tidak memiliki pendapat tentang ismu ruh. Dan yang menisbatkan hal tersebut kepada Syaikh Al-Jailani adalah sebuah kedustaan atas nama Syaikh.

$ads={2}

Jadi, jangan sekali-kali menisbatkan sebuah pendapat kepada seseorang yang tidak pernah mengatakannya. Terlebih kepada seorang imam dan Quthbhul Auliya "'Aqthab Seperti Syaikh Abdul Qadir Al Jailarani ra. yang masyhur dengan jelas gelar Sulthonul Auliya' wal Ghoutsul A'dzom.

Jakarta, 18 April 2022/17 Ramadan 1443 H

Seketariar Markaz Al-Jailani Asia Tenggara

Ali Syahbana, Lc, Ma

Azka Fuady, Lc








Sumber: Fanspage Facebook Markaz Al-Jilani

Demikian Artikel " Pernyataan Resmi Markaz Al-Jilani Asia Tenggara Terkait Ismuh Ruh Buya Arrazy "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama