Memaknai Hilangnya Beban (Taklif) Syarat Bagi Wali

MEMAKNAI HILANGNYA BEBAN (TAKLIF) SYARIAT BAGI WALI

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Dalam kitab Thobaqotus Syafiiyyah al Kubro diterangkan bahwa pengertian hilangnya taklif (ارتفاع التكليف) bagi wali adalah bahwa ibadah itu sudah menjadi bentuk kegiatan yang disukai, serta gizi untuk jiwanya, dimana ia tidak sabar untuk segera bisa mengerjakannya, sehingga hal itu tidaklah menjadi beban untuknya. 

Diillustrasikan bagai seorang anak anak yang dibebani untuk datang ke maktab (sekolah), dan di bawa paksa ke tempat itu, bila ia sudah mempunyai pengetahuan, maka kegiatan itu adalah sesuatu yang paling nikmat baginya, dirinya tidak sabar untuk melakukannya dan tidak ada beban baginya. Dan taklif terhadap orang yang sedang kelaparan untuk memakan makanan yang lezat adalah hal mustahil, sebab ia makan dengan keinginannya dan menikmati apa yang dilakukannya, maka apa artinya taklif baginya...

Bila demikian maka taklif terhadap wali Allah adalah perkara yang mustahil, dan taklif hilang dari wali dalam arti yang demikian, bukan bermakna bahwa wali tidak puasa dan tidak shalat, meminum khamr atau melakukan zina.

Hal itu mustahil sebagaimana membebani orang yang merindukan untuk melihat orang yang dirindukan dan mencium kedua kakinya serta merendah kepadanya, sebab hal itu adalah puncak kenikmatan dan keinginannya. Maka demikianlah gizi jiwa seorang wali dalam mengingat (yang dirindukan) secara kontinyu, serta melaksanakan perintah dan merendah dengan hatinya. Tidak mengkin untuknya menyertakan badan dan hati untuk merendah kacuali dalam bentuk sujud, hingga hal itu menjadi kenikmatan paripurna dalam merendahkan diri dan penghormatan hingga bersatunya kenikmatan badan dan hati.

$ads={1}

Bahkan karena kenikmatan seorang wali dari melakukan bangkit ibadah untuk Allah dengan melakukan kunut dan munajat sampai ia tidak merasakan sakit karena kakinya bengkak, hingga dikatakan padanya: bukankah Allah telah mengampuni engkau terhadap apa yang telah engkau perbuat dan yang belum kau perbuat... Maka ia berkata: apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur...

طبقات الشافعية الكبري 6/279:

بل معنى ارتفاع التكليف من الولي أن العباده تصير قرة عينه وغذاء روحه بحيث لا يصبر عنه فلا يكون عليه كلفة فيه وهو كالصبي يكلف حضور المكتب ويحمل على ذلك قهرا فإذا أنس بالعلم صار ذلك ألذ الأشياء عنده ولم يصبر عنه فلم يكن فيه كلفة وتكليف الجائع تناول الطعام اللذيد محال لأنه يأكله بشهوته و يلتذ به فأي معنى لتكليفه فإذا تكليف الولي محال والتكليف مرتفع عن الولي بهذا المعنى لا بمعنى أنه لا يصوم ولا يصلي ويشرب ويزني . وكما يستحيل تكليف العاشق النظر إلى معشوقه وتقبيل قدميه والتواضع له لأن ذلك منتهى لذته وشهوته فكذلك غذاء روح الولي في ملازمة ذكره وامتثال أمره والتواضع له بقلبه لا يمكنه إشراك القالب مع القلب في الخضوع إلا بصورة السجود فيكون ذلك كمالا للذة الخضوع والتعظيم حتى يشترك في الالتذاذ قلبه وقالبه كما قيل:

ألا فاسقني ضمرا وقل لي هي الخمر ※※ أي ليدرك سمعي لذة اسمه كما أدرك ذوقي طعمه 

بل تنتهي لذة الولي من القيام لله قانتا مناجيا إلى أن لا يدرك ألم الورم في القدم فيقال له ألم يغفر الله لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر فيقول أفلا أكون عبدا شكورا .

Oleh:  Kyai Faisol Tantowi 

Demikian Artikel " Memaknai Hilangnya Beban (Taklif) Syarat Bagi Wali "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama