Jangan Menghakimi dan Mengungkit Dosa Masa Lalu Seseorang

JANGAN MENGHAKIMI DAN MENGUNGKIT DOSA MASA LALU SESEORANG

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Sebagian dari kita -kalau enggan mengatakan semuanya- pasti pernah melakukan sebuah dosa yang akan sangat memalukan jika dosa itu sampai terlihat oleh orang lain. Sehingga kita-pun sangat berusaha untuk menjaganya agar jangan sampai hal memalukan itu tercium ke masyarakat umum.

Namun tak bisa dipungkiri, kadang teman-teman kita memang sudah ada yang tahu akan aib kita itu, entah karena memang tahu dari omongan orang lain atau memang aib itu tercipta karena bersamanya. Sebaliknya, kita-pun mungkin banyak tahu akan aib orang lain atau malah teman kita sendiri, baik aib yang sifatnya rahasia publik atau memang aib yang mungkin hanya segelintir orang yang tahu, atau bahkan hanya kita saja yang tahu.

Walhasil, kita semua memang tak terlepas dari yang namanya aib, bagaimanapun posisi kita sekarang. Boleh jadi, kita dianggap baik sekarang, itu bukan karena memang kita benar-benar baik, tapi hanya saja aib kita sedang ditutup oleh Allah. Muhammad Bin Wasi’ berkata :

لو كان للذنوب ريح ما جلس إلي أحد

“Seandainya dosa-dosa itu ada baunya maka tidak seorangpun yang mau duduk bersamaku”

Darisana seharusnya kita bisa sadar, betapa harusnya kita tidak sembarangan membicarakan aib seseorang. Baik dalam konteks bercandaan apalagi konteks kesengajaan. Karena tentu kita tidak ingin aib kita sampai dikonsumsi banyak orang. Oleh karenanya, Nabi SAW benar-benar memperingatkan hal ini dalam sabdanya :

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فيِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

“Barang siapa yang mau menutup ( tidak membicarakan ) aib saudara muslimnya, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat”

Menutup rapat aib orang lain ini, bukan saja karena di larang agama, tapi memang akibatnya bisa sangat fatal. Taruh saja bagi orang yang dulunya preman, bandar narkoba atau apapun itu, lantas sadar dan berusaha untuk senantiasa berubah dan mau berjamaah di Masjid, apalagi si preman ini dulunya memang sudah bisa mengaji secara fasih, jadi ia sesekali di suruh jadi Imam, maka dalam kasus seperti ini jangan sampai membawa-bawa masa lalunya yang cukup kelam itu dengan alih-alih tidak pantas menjadi Imam hanya karena dulunya pernah melakukan beragam dosa besar. Andaikan orang ini sampai di usik akan masa lalunya lagi -yang mana ia sudah sekuat tenaga  melenyapkan ingatannya akan masa lalunya itu-, dan hal ini sampai mengakibatkan hatinya menjadi berontak, terus memutuskan untuk kembali lagi ke masa kelamnya itu, maka kalian-lah yang akan menanggung seluruh dosanya dan bertanggung jawab besar akan keterputus-asaannya.

$ads={1}

Saya teringat akan kisah teman saya yang sekarang di Mesir. Dulu bandelnya luar biasa di sekolah. Sampai-sampai cap anak nakal-pun tak luput tersemat di dirinya oleh semua guru. Singkatnya, ada momen yang membuat ia benar-benar sadar. Akhirnya, ia berusaha berbenah diri, belajar mati-matian, les kesana kemari. Tibalah waktu ujian semester pertama tingkat akhir. Nilainya menjadi bagus-bagus, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tentunya ia sangat senang dan bangga akan kerja kerasnya ini. Tapi tak berselang lama, Wali Kelasnya justru menuduh bahwa hasil dari nilainya itu adalah hasil contekan. Walhasil, itu membuatnya benar-benar terpukul dan marah besar. Ia tak lagi mau belajar, tak mau menghadiri les-les nya yang sudah diikutinya selama ini. Baginya, buat apa berubah, kalau perubahannya saja tak dipercaya. Kisah ini bukan kisah yang mengada-ada, tapi memang benar adanya. 

Marilah kita menghargai setiap orang yang mau berbuat baik, terlepas dari betapa kelam atau buruknya masa lalunya. Jangan campuri dengan kisah masa lalunya. Kita sendiri tak tahu, boleh jadi mereka jauh lebih mulia di mata Allah di banding kita.

Apa kita sudah lupa, betapa dulu para Sahabat juga mantan pelaku dosa besar? Mantan pembunuh, mantan pezina, mantan penjudi, dan mantan-mantan yang lain. Tapi berkat taubatnya yang sungguhan itu, Allah memuliakannya untuk bisa membersamai Nabi dalam berjuang menegakkan panji-panji Islam.

Apa kita juga lupa, Fudhail Bin Iyadh, gurunya para Ulama yang dulunya juga seorang perampok? Atau Malik Bin Dinar? Ahli Hadits dan juga perowi yang mantan preman, yang hampir segala kemaksiatan katanya pernah dilakukannya?  juga Al-Hafi seorang Ulama besar yang mantan pemabuk itu? Semua nama-nama besar ini adalah secuil kisah orang-orang mulia yang dulunya adalah mantan pemaksiat dan pendosa. Tapi lihat bagaimana Allah memuliakan mereka? 

Setiap kita pasti punya masa lalu, dan setiap kita juga berhak dan wajib untuk berubah menjadi lebih baik. Jadi, jangan pandang sinis siapapun itu yang mau berbuat kebaikan, meskipun kita tahu perjalanan kelam hidupnya. Jangan sekali-kali membicarakan masa lalunya hanya karena kepentingan dirimu. Kita ini adalah orang yang masih penuh misteri hidup di dunia, siapa yang selamat dan tidaknya, kita juga belum tahu. Boleh jadi kita yang senantiasa berbuat baik, tapi ujung-ujungnya celaka? Atau justru mereka yang pernah berbuat buruk, lantas bertaubat, Allah telah mengampuninya. Siapa yang tahu? 

Wallahu A'lam

Turoobul Aqdam

Kairo, 18 July 2022

Demikian Artikel " Jangan Menghakimi dan Mengungkit Dosa Masa Lalu Seseorang "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama