Peran Penting Sayyidah Hajar dalam Sejarah Idul Adha

PERAN PENTING SAYYIDAH HAJAR DALAM SEJARAH IDUL ADHA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Beberapa hari yang lalu kita baru saja merayakan hari raya Idul Adha. Hari raya ini biasa disebut dengan hari raya haji atau hari raya kurban. Setiap kali memperingati hari raya yang jatuh pada tanggal tanggal 10 Dzulhijjah ini kita selalu mengingat akan dahsyatnya peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim dan anaknya, Ismail. Hingga Allah mengabadikannya di dalam Alqur’an. Betapa Nabi Ibrahim harus berbesar hati merelakan buah hatinya untuk dikorbankan semata-mata atas perintah Tuhannya.

Namun, dalam rangkaian peristiwa besar itu, kita tidak boleh melupakan sosok perempuan tangguh dan tabah dalam merespon risalah yang dibawa suaminya, Ibrahim. Dia adalah Sayyidah Hajar. Kisah Sayyidah Hajar merupakan inspirasi bagi semua perempuan, bukan hanya bagi perempuan muslim saja. Kisah itu bermula dari ketabahan dan keikhlasannya menjalankan perintah Tuhan karena keyakinannya akan janji-Nya. Ini menunjukkan bagaimana tindakan seorang perempuan telah diabadikan ke dalam salah satu rukun Islam.

Sayyidah Hajar adalah istri kedua dari Nabi Ibrahim. Ia adalah seorang budak sahaya berkulit hitam yang dihadiahkan oleh raja Mesir kepada Nabi Ibrahim untuk dijadikan istri. Dalam status sosial pada saat itu, Hajar hampir tak punya makna dan disia-siakan. Istri pertama Nabi Ibrahim adalah Sayyidah Sarah, yang nantinya akan melahirkan Nabi Ishaq. Namun sebelum Sayyidah Sarah mempunyai anak, Sayyidah Hajar terlebih dahulu mempunyai anak bernama Ismail. 

Sayyidah Sarah yang cemburu melihat Sayyidah Hajar karena terlebih dahulu dikaruniai anak setelah sekian lama menunggu, merasa kecewa dan tidak ingin tinggal seatap dengannya. Semata-mata demi menjaga perasaan Sayyidah Sarah, Hajar rela untuk pergi menjauh dari rumah. Nabi Ibrahim kemudian memindahkan Sayyidah Hajar dan Ismail kecil ke sebuah lembah gurun nun jauh dan gersang. Daerah yang tidak berpenduduk dan juga tidak ada sumber air yang diketahui. 

Di tengah padang tandus Sayyidah Hajar hanya berbekal sebuah tas berisi kurma dan sedikit air. Hajar dan bayinya, atas perintah Allah, ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim sendirian tanpa adanya seorang pun yang menemani dan membantunya. Itu adalah lambang ketaatan dan ketaqwaan. Ia yakin, bahwa Tuhannya tidak akan menelantarkannya. 

$ads={1}

Sayyidah Hajar adalah sosok ibu yang sangat bertanggung jawab. Seorang ibu yang memiliki cinta yang tulus. Ia merawat anak tercintanya seorang diri di lembah gersang berhadapan dengan rasa sepi, takut, tanpa adanya figur suami. Kendati demikian, Hajar tidak menuntut Ibrahim untuk tinggal bersamanya. Sebelum kepergian Nabi Ibrahim, Hajar hanya bertanya apakah kepergiannya ini merupakan perintah Allah? Nabi Ibrahim hanya mengiyakan pertanyaannya sambil berjalan menjauh. Tak lama setelah itu, ketika Nabi Ibrahim sudah sampai di bukit, dimana sudah tidak terlihat oleh istrinya, kemudian ia berdo’a dan menengadahkan tangan ke langit untuk memohon keselamatan keduanya.

Setelah ditinggal Nabi Ibrahim dalam waktu yang cukup lama, perbekalan yang tersedia mulai habis. Air susu pun sudah mengering. Melihat anaknya kelaparan dan kehausan, Hajar berlari kesana kemari menuju bukit Shofa dan Marwa berharap ada air yang dapat diminum. Sayyidah Hajar semakin panik karena tidak ada apapun yang ia dapatkan. Ia bangkit berlari lagi ke bukit Shofa dan Marwa sampai tujuh kali mengelilinginya. Tetapi ia tak pernah menyerah pada penderitaan, tak pernah menyerah pada keadaan. Ia terus bergerak dan terus berusaha. Hajar tidak mau hanya pasrah tanpa upaya. Sayyidah Hajar tidak mau hanya menunggu sambil menanti mu’jizat turun dari langit. Ini adalah bentuk ketaqwaan yang sebenarnya, berserah diri memohon kepada Allah, namun disertai dengan usaha mencarinya. 

Sampai pada akhirnya, Ismail kecil yang menangis kehausan menghentakkan kakinya ke tanah. Jentakan kaki tersebut memunculkan sumber mata air yang sekarang kita kenal dengan air zam-zam. Karena pengobanan hidupnya yang tak terhingga itu, Allah mengabadikannya dalam wajib haji yaitu sa’i, berlari lari kecil antara bukit Shafa dan Marwa.

Baca Juga: Zakat Fitrah dengan Uang Seharga 2,5 kg atau 3 kg Beras Apakah Sah?

Setelah lama berpisah, Nabi Ibrahim datang membawa cobaan yang tak terkira beratnya bagi Sayyidah Hajar. Ia membawa perintah merelakan putra semata wayangnya yang dibesarkan sendirian dengan penuh pengorbanan untuk dijadikan qurban, ritual mendekatkan diri kepada Allah. Namun, situasi tidak menggoyahkan keimanan Sayyidah Hajar untuk tetap teguh menuruti perintah Allah sebagai wujud totalitas dalam penghambaan.

Peran Sayyidah Hajar merupakan peran utama terjadinya ibadah qurban, Sebab, tanpa kesabaran dalam berjuang merawat dan mendidik putranya Ismail yang menjadikannya memiliki budi pekerti luhur serta ketaqwaan dan ketaatannya mematuhi semua yang diperintahkan oleh Allah, Nabi Ibrahim tak akan sempurna menjalankan perintah Tuhannya.

Oleh: Muhamad Saib Abdillah, Santri Mansajul Ulum dan Mahasiswa Zawa Ipmafa

Demikian Artikel " Peran Penting Sayyidah Hajar dalam Sejarah Idul Adha "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Redaksi

Rumah Muslimin Grup adalah Media Dakwah Ahlusunnah Wal jama'ah yang berdiri pada pertengahan tahun 2017 Bermazhab Syafi'i dan berakidah Asyariyyah. Bagi sobat rumah-muslimin yang suka menulis, yuk kirimkan tulisannya ke email kami di dakwahislamiyah93@gmail.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close