Memahami Nadzom Zubad 'Orang yang Beramal Tanpa ilmu, Amalnya Tertolak Tidak Diterima'

Keterangan Foto:Sidna Syekh Abdul Aziz Asy-Syahawi tengah menyampaikan khutbah Jum'at di Masjid Jami' Kajen.

MEMAHAMI NADZOM ZUBAD 'ORANG YANG BERAMAL TANPA ILMU, AMALNYA TERTOLAK TIDAK DITERIMA'

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Dalam Kitabnya “Risalah Al-Mu’awanah”, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad menukil sebuah kisah dari Syekh Ibnu ‘Arobi dalam Kitabnya Al-Futuhat Al-Makkiyah, bahwa ada seorang ahli ibadah dari negeri Maroko yang senantiasa merawat Keledai Betina yang telah dibelinya. Keledai itu tidak ia gunakan untuk apapun, hanya dipelihara di dalam rumah. Orang-orang sekitar pada heran, untuk apa Keledai Betina itu dibeli kalau tidak ia pergunakan untuk apapun. Seorang ahli ibadah itupun menjawab, bahwa Keledai Betina itu ia pelihara tak lain dan tak bukan adalah untuk menjaga kemaluannya dari perbuatan zina. Ketika ia diberi tahu akan samanya keharaman bersenggama dengan hewan, ia-pun menangis tersedu-sedu dan menyesali perbuatannya.

Ada sebuah kisah yang penulis dengar langsung dari seseorang yang bersinggungan dengan tokoh dalam kisah ini. Lagi-lagi terkait ahli ibadah yang kali ini ia mengaku telah menganut sebuah ajaran dari salah satu thoriqoh. Jamak diketahui, betapa rawannya ranah ini, jika ilmu tentang syari’at masih amat lemah, apalagi sama sekali tak terjamah. Dikisahkan, orang ini mengaku senantiasa ibadah siang malam, mengamalkan seluruh wirid yang diberikan. Hanya saja, katanya, orang ini memang sudah merasa di level yang amat tinggi, hingga ia punya keyakinan kalau ia bisa mandiri tanpa gurunya lagi. Selang beberapa lama, ia mulai bercerita ke orang-orang kalau ketika ia sholat, dibelakangnya selalu ada para Malaikat yang menjadi makmumnya. Makin merasa lebih tinggi lagi derajatnya. Tak beberapa lama, ia mengaku kalau dibisiki malaikat bahwa kiblat yang benar bukanlah barat, melainkan utara. Anehnya, orang ini percaya-percaya saja, harusnya kan bisa ia cek lewat Maps atau aplikasi penunjuk kiblat. Ia-pun menyuruh orang-orang sekitar dan terkhusus keluarganya untuk sholat menghadap utara. Untungnya, tidak ada yang mengikutinya termasuk istrinya.

Suatu kali, bapak menelepon dan ditengah obrolannya, beliau bercerita : kalau ada kejadian lucu ketika di masjid. Yaitu ketika berlangsung sholat Isya’ yang telah berjalan dua rokaat, tiba-tiba ada makmum masbuq yang sholatnya dipercepat agar ia bisa bersalam bersama Imam. Ketika mendengar cerita itu, dengan bahasa bapak ketika bercerita, saya-pun seketika tertawa terbahak-bahak karena baru mendengar kejadian seperti itu. Padahal kalau didalam Fikih sudah jelas. Kalau ia berniat makmum, maka konsekuensinya ia harus mengikuti Imam dari setiap gerakannya ; tidak boleh ketinggalan atau mendahului Imam dua rukun fi’li secara beruntun, baik rukun fi’li yang panjang ataupun yang pendek. Jika demikian, maka sholatnya menjadi batal.

$ads={1}

Kisah-kisah di atas adalah sebagian kisah dari orang-orang yang beribadah, atau melakukan suatu perbuatan yang ia rasa benar, tapi karena ketidak-tahuannya ia tidak menyadarinya kalau ibadah atau perbuatannya itu ternyata tidak benar menurut syariat. Itulah mengapa, termasuk ilmu yang wajib dan harus dipelajari oleh setiap muslim, adalah ilmu yang berhubungan langsung dengannya atau yang biasa disebut dengan Ilmu Hal, agar supaya apa yang dilakukannya sesuai dengan syari’at agamanya. Dalam safari dakwahnya Syekh Abdul Aziz Asy-Syahawi di Indonesia-pun yang termasuk dikampanyekan berulang kali oleh beliau adalah mendorong belajar Fikih untuk membenarkan ibadah, belajar Tauhid untuk meluruskan akidah, dan belajar Tasawuf untuk membersihkan jiwa. Bagi Beliau, semua ini adalah keniscayaan yang musti diperhatikan oleh seorang muslim. 

Dengan alasan demikian, saya adalah termasuk orang yang sangat menyarankan adanya pengajian Kitab-kitab untuk orang awam di masjid setiap desa, meskipun seminggu atau dua minggu sekali. Harapannya tentu adalah untuk membersamai mereka yang tidak tahu akan ilmu agama, sehingga tidak ada lagi kasus-kasus seperti di atas yang terjadi. Kita tahu, peran masjid tidaklah terbatas hanya untuk sarana ibadah saja, melainkan juga pendidikan keagamaan. Mulai pendidikan anak-anak yang di ajarkan baca tulis Al-Qur’an beserta Fikih dasar, remaja-remaja perempuan yang diajarkan Fikih kewanitaan, dan para orang dewasa yang diajarkan Ilmu-ilmu keagamaan.

Bagaimana kita bisa sampai tujuan, kalau jalan menuju kesana saja kita tidak tahu. Oleh karenanya, belajar Ilmu Keagamaan itu sangat penting untuk mengantarkan kita pada tujuan, dan menyelamatkan kita dari kesasatan serta kebinasaan. Saya teringat analogi yang luar biasa dari Syekh Adham Al-Asimiy -Hafidzahullah- dalam salah satu muhadhorohnya ; Andaikan kita dihadapkan dengan sebuah jalan yang sangat berbahaya, yang kita dituntut untuk melewatinya, tapi kita diberikan sebuah buku petunjuk agar kita bisa selamat darinya, niscaya kita akan benar-benar serius mempelajari dan membaca buku petunjuk itu agar kita tidak binasa dan selamat sampai tujuan. Buku petunjuk itu adalah syari’at agama, sedangkan jalan yang sangat berbahaya itu adalah dunia yang kita dituntut untuk menjalani kehidupan di dalamnya.

Wallahu A’lam

Kairo, 23 Juli 2022

Turoobul Aqdam

Demikian Artikel " Memahami Nadzom Zubad 'Orang yang Beramal Tanpa ilmu, Amalnya Tertolak Tidak Diterima' "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama