Takwil dan Tafwidh Dalam Mazhab Ahlussunnah Wal Jamaah

TAKWIL DAN TAFWIDH DALAM MAZHAB AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Masalah sifat mutasyabihat(seperti istiwa, yad, dll) itu ada banyak maslak untuk memahaminya, semua disesuaikan tergantung tingkat keilmuan manusia, jadi ada beberapa tingkat dalam memahaminya dalam mazhab ahlussunnah wal jamaah, semuanya benar karena tidak bertentangan dengan nash qat'I, tidak juga bertentangan dengan qaidah bahasa arab, tidak juga bertentangan dengan logika salimah yang qat'I juga. 

Karena inti dari pemahaman itu adalah tanzih(mensucikan) zat dan sifat ilahiyah, agar manusia tidak menisbatkan suatu sifat yang gak pantas bagiNya. Sehingga keimanan seorang muslim bersih dari segala syubhat. Jadi masing-masing orang mempunyai cara sendiri dalam mentanzih sesuai tingkat pemahamannya, yang semuanya dibolehkan dalam syariat islam, inilah penjelasannya:

1. Ammatul awam: ya mereka gak kepikiran ketika baca alquran dan artinya, lewat aja, yang penting bisa bermanfaat, tilawahnya ibadah, bahkan ketika merenungkan artinya pun, mereka gak merasa terganggu hingga harus mempertayakannya, bahkan gak kepikiran kalau ini mutasyabihat, mereka sangat ramai, mereka orang yang punya fitrah salimah dalam berislam. Cara terbaik agar mereka mentanzih Allah adalah mendiamkan mereka, karena mereka ini tidak perlu tafwidh atau takwil. Yang penting kita jaga agar selalu mentanzih, baik dengan ilmu atau zikir seperti memperbanyak bacaan subhanallah, tanpa perlu mengetahui istilah tafwidh dan takwil.

2. Awam mustaqqaf yang hatinya muthmain: mereka punya wawasan, seperti pernah ngaji waktu kecil dan paham dasar aqidah, walau hanya dilevel TPA, jadi walaupun kepikiran ketika lewat ayat tersebut, dan dia tau kalau itu mutasyabihat, dia juga tau bahwa mutasyabihat serahkan pada dalil muhkam, dalam masalah ini laisa ka mislihi syaiun(tidak ada sesuatu yang sama denganNya), masalah detailnya sepenuhnya diserahkan pada allah dan ulama yang lebih tau. Nah tafwidh seperti ini yang sering kita lakukan, dan tafwidh ini memang terbaik bagi orang seperti ini, cara terbaik agar dia tetap mentanzih allah swt adalah dengan menekankan bagusnya tafwidh seperti ini bagi dirinya. Ilmu tambahan bagi dia cuma satu, jika dia mulai was-was dia tau keulama mana dia merujuk

$ads={1}

3. Awam Mutsaqaf yang hatinya was-was, dalam masalah ini, dia punya wawasan dan pernah ngaji, dan tentu punya nalar kritis sebagai mustaqqaf, tapi dia belum sempat mempelajari serius dan berjenjang masaah aqidah, jadi yang cocok untuk dia agar dia tetap mentazih Allah swt adalah penjelasan yang menjelaskan kaidah umum aqidah yang tidak terlalu sulit tapI tajam nalarnya, dan untuk itu mudah dilakukan dengan takwil, tentu saja takwil yang kita bicarakan tetap dalam koridor tanzih, tanpa ta'thil tentunya

4. Thalib il-ilm mubtadi: mereka yang belajar ilmu aqidah secara berjenjang tapi belum bisa memahami dengan detail hakikat zat dan sifat atau hubungan keduanya, masih tahap pemula dalam belajar ilmu kalam(kayak ummul barahin, jauharah, dll), ada tiga maslak disini:

Pertama maslak takwil tanpa ta'thi, dengan tetap tanzih, ini cara mudah memasukkan pemahaman tanzih kedalam pikiran mereka, itu dengan menunjuk salah satu makna yang rajih.

Yang kedua, tafwidh level lanjutan dengan tetap mentanzih, bagaimana itu? Mengatakan apa yang dikatakan dalam ayat mutasyabihat seperti ain, yad, dll sebagai sifat bagi zat, sebagaimana qudrah, iradah, dll, hanya saja tidak bisa dipahami hakikatnya, jadi disini tafwidh murni

Ketiga, tafwidh yang mix dengan takwil, dimana kita tetap mentakwil dengan makna yang cukup syarat, baik secara bahasa, logika dan syariat jika ada lebih dari makna, maka kita tidak mentarjihkan salah satu makna, tapi mentafwidh pada tuhan makna mana yang dipahami dari salah satu itu, jadi mix disini antara takwil dan tafwidh.

Baca Juga: Asy'Ariyah diikuti Orang-orang Cerdas Karena Terbukti Kecerdasannya

5.  Thalib ilm mutaqaddimin dan ulama  zahir dalam ilmu aqidah: mereka punya kesamaan karena mulai memahami  masalah detail ilmu ini, jadi otomatis mereka paham dengan detail haqiqat zat dan sifat, serta hubungan diantara keduanya. Mereka sudah melewati banyak jenjang dalam belajar ilmu aqidah, bagi mereka baik tafwidh atau takwil sama saja, karena mereka tau hakikat keduanya menuju tanzih allah, merekalah yang mengarahkan awam untuk tafwidh atau takwil, adapun bagi mereka sama saja. Tahqiqnya, baik tafwidh dan takwil keduanya bisa tidak bertentangan. Makanya jangan aneh jika ada sebagian ulama ahlussunnah yang kadang melakukan tafwidh dan kadang mentakwil, tergantung siapa yang dihadapi dan tergantung keadaannya ketika bertanya gimana. Jadi jika ada dua pendapat, ga mesti bertentangan, apalagi dikatakan ruju dari pendapat awal, khususnya jika beliau gak menjelaskan bahwa beliau telah ruju dari pendapat sebelumnya, atau sarinah lainnya.

Oleh: Fauzan Inzaghi

Demikian Artikel " Takwil dan Tafwidh Dalam Mazhab Ahlussunnah Wal Jamaah "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama