Mengapa Hadis Musalsal Bil Mahabbah?

MENGAPA HADIS MUSALSAL BIL MAHABBAH?

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Dalam tradisi periwayatan sanad di era mutakhir, seringkali masyaikh kita memberikan Ijazah ‘Āmmah dengan memperdengarkan dua hadis dengan sanad bersambung sampai Rasulullah ﷺ. Pertama, Hadis Musalsal Bil Awwaliyah. Kedua, Hadis Musalsal Bil Mahabbah. Mengapa dari ribuan hadis yang ada, kedua hadis ini yang dipilih dalam tradisi pengijazahan?

Jawaban yang kerap kita dengar:

Sebab kedua hadis tersebut memuat pesan “Kasih Sayang” (Al-Rahmah) dan “Cinta”(Al-Mahabbah). Dari tradisi ini Masyaikh Isnad ingin membuka kesadaran sang murid bahwa tujuan mempelajari hadis adalah untuk memantaskan diri menjadi pewaris sang Nabi, sebagaimana dahulu Imam Malik, Imam Al-Syafi’i, Imam Al-Bukhari, Imam Ibnu Hajar dan para ulama lainnya yang menguasai ilmu zahir dan batin. Untuk memantaskan diri menempati maqam ini, sang murid perlu menanamkan dalam diri sifat yang menjadi esensi utama pengutusan sang Nabi, yaitu Rahmah, “Dan tiadalah kami mengutusmu, selain sebagai Rahmat bagi seluruh alam.”(QS. Al-Anbiya: 107). 

Sifat Rahmah dan Mahabbah ini tidak muncul dengan sendirinya, melainkan dengan memperbanyak membaca hadis-hadis Rasulullah, terutama yang berkaitan dengan dimensi kerahmatannya. Agar terpancar sifat rahmah tersebut dari hati, pemahaman, pandangan dan jiwa sang Nabi ke dalam sanubari sehingga menyebar luas ke seluruh darah daging dan sekujur tubuh. 

Guru kami Syaikh Zakaria Ahmad Talib menambahkan alasan lain. Filosofi hadis Musalsal Bil Mahabbah juga patut diberikan perenungan mendalam pada aktornya, yaitu Muadz bin Jabal. Sosok sahabat muda inspiratif yang sangat dijadikan role model seorang murid dalam belajar ilmu dan tarbiyah suluk. Patut dicermati bagaimana prosesnya sehingga Muadz mendapatkan predikat luar biasa dengan mendapatkan ungkapan dari Rasulullah, “Wahai Muadz, sesungguhnya aku mencintaimu.”

Suatu keistimewaan yang tidak ditemukan pada para sahabat lain. Betul, Abu Bakr adalah pendamping Rasulullah di gua. Betul bahwa, “Tidaklah Umar menapakai suatu jalan, melainkan setan akan takut melewati jalan tersebut.” Dan keistimewaan tersendiri masing-masing sahabat dari Rasulullah. Tetapi hanya Muadz seseorang yang meraih keistimewaan ini. Pernyataan Rasulullah “Aku mencintaimu”

$ads={1}

Tetapi di balik keistimewaan ini tersimpan cerita fluktuatif.

Muadz adalah sahabat dari kalangan Anshar Madinah yang paling pertama masuk Islam, dengan tercatat menghadiri peristiwa pengikraran janji setia Bai’ah Aqabah II. Kala itu ia masih berusia 18 tahun, sebagai pemuda yang dagunya belum ditumbuhi jenggot. 

Sebagai pemeluk Islam yang baru, ia menyaksikan sahabat muhajirin senior yang hebat-hebat seperti Abu Bakr, Umar, Usman, Ali dan lain-lain yang telah besar sumbangsing perjuangannya kepada Islam. Dengan semangat mudanya yang menyala-nyala, ia berdoa kepada Allah agar bisa sampai kepada maqam mereka. Doa itu ia ejawentahkan dengan aksi nyata, aktif belajar agama langsung kepada Rasulullah, serta menghafal dan memahami Al-Qur’an.

Melihat himmah dan kecerdasan yang dimiliki Muadz, Rasulullah mendeklarasikan suatu keistimewaan Muadz di hadapan para sahabat, “Yang paling menguasai fikih halal dan haram di antara kalian adalah Mu’adz”.

Tidak hanya itu, karena kekuatan hafalan Al-Qur’annya ia dijadikan sebagai khalifah resmi Rasulullah untuk mengimami Masjid Quba, masjid bersejarah yang pertama dibangun oleh Rasulullah dalam perjalanan hijrahnya, masjid yang dipuji oleh Allah dalam QS. Al-Taubah ayat 108. Saat itulah Muadz di usianya yang masih sangat muda, menjadi pusat perhatian karena telah meraih prestasi yang begitu prestisius. 

Namun, pada suatu hari, Muadz membuat suatu kesalahan. 

Ia mengimami shalat fajar dengan membaca Surat Al-Baqarah full. Sangat panjang.

Memang memanjangkan shalat dilakukan oleh Rasulullah, tetapi ketika yang menjadi makmumnya adalah Abu Bakr, Umar dan sahabat-sahabat lainnya yang berada di bawah tarbiyah Rasulullah. Berbeda dengan Mu’adz yang basis makmumnya merupakan pekerja, dengan kondisi geografis Quba yang merupakan lahan perkebunan kurma. Mu’adz tidak memperhitungkan situasi tersebut. Sehingga salah seorang sahabat yang menjadi makmumnya bernama Hazm bin Ubay bin Ka’ab terbebani dengan panjangnya shalat kala itu. Ia pun mundur dari shaf, melakukan mufaraqah, lalu menyelesaikan shalatnya sendiri.

Usai shalat, mengetahui apa yang dilakukan Hazm, Muadz sedih dan tersinggung. Bagaimana mungkin sekelas sahabat melakukan tindakan tersebut. Berkembanglah pandangan miring terhadap Hazm.

Hazm pun sedih dan pergi mengadu kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, saya adalah pekerja kebun, saya harus mendatangi pohon-pohon kurma saya untuk menyiraminya atau memetik buahnya ketika hari masih gelap sebelum matahari terbit.”

Mendengar pengaduan tersebut, Rasulullah memanggil Muadz dan memarahinya, “Afattānun Anta Ya Mu’adz?” (Apakah kau ingin menjadi tukang pembuat fitnah wahai Mu’adz?) Diulanginya kata tersebut tiga kali. “Cukuplah kau membaca Surat Al-A’la, atau Wa Al-Syamsi Wa Dhuhāhā, atau surat-surat pendek yang sesuai dengan kondisi mereka.”

Mendapatkan teguran tersebut, Muadz bersedih. Keistimewaan “Yang paling menguasai fikih Halal dan Haram” serta “Khalifah Rasulullah di Quba” seakan runtuh seketika oleh, “Afattānun Anta Ya Mu’adz?”

$ads={2}

Ia pun menyediakan waktunya untuk merenung, bertaubat atas kesalahannya, menangis di hadapan Tuhannya.

Setelah Rasulullah mengetahui kesungguhan tazkiyah Mu’adz dengan merasakan makna “al-Inkisar” (hancur lebur di hadapan Allah) dan “al-Dzull” (hina dina di hadapan-Nya), Rasulullah pun memanggil Mu’adz. Dan tibalah puncak keistimewaan itu, dengan ucapan Rasulullah kepadanya yang sampai saat kini terus menerus menjadi tradisi periwayatan: “Wahai Mu’adz sesungguhnya aku mencintaimu, maka jangan pernah kau meninggalkan setiap usai shalat untuk membaca:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Dari kisah Mu’adz ini, kita dapat mengambil pelajaran, beginilah siklus seorang murid dalam proses suluknya kepada Allah. Ada kalanya dia terjatuh dalam kesalahan. Tidak mengapa seorang murid melakukan salah, tetapi bagaimana ia mengelola agar kesalahan tersebut tidak terus-menerus berulang dan menjadikannya sebagai momen ia merasa hina dina, menangisi dosa yang telah ia perbuat, khusyu’ bermunajat memohon ampunan-Nya, berazam untuk menggantikan kesalahan yang telah ia perbuat dengan kebaikan.

Maka di sinilah pula, seorang murid membutuhkan kepada Syaikh Tarbiyah yang senantiasa mengingatkan dan menyadarkannya ketika salah. Sebab seringkali seorang murid setelah mendapatkan suatu prestasi menjadi jumawa dan sering lalai akan kesalahan.

Pelajaran selanjutnya, 

“Aku mencintaimu”. Lantas apa pembuktian cinta Rasul kepada sahabatnya? Jika seorang ibu yang mencintai anaknya, melihat anaknya menangis, sang ibu akan memberinya uang, membelikannya mainan, atau es cream. Tetapi itu semua adalah kecintaan duniawi. Sedangkan para sahabat tidak membutuhkan hal-hal duniawi.

Maka dari hadis di atas, mengajarkan kita bahwa kecintaan itu kuncinya adalah dengan memperbanyak dzikir. Baik itu dzikir usai shalat, dzikir sebelum tidur, sesudah bangun, wirid pagi hari, wirid petang hari, dzikir ketika bepergian, dzikir ketika kembali, memperbanyak membaca seperti Hizb Imam Al-Syadzili, Ratib Al-Haddad, Hizb Imam Al-Nawawi, dan wirid-wirid harian lainnya yang mesti dirutinkan.

Dzikir-dzikir inilah yang akan menyala-nyalakan cinta di dalam sanubari, cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada semua makhluk-Nya. Cinta kepada sunnah, sehingga senang untuk berziarah kepada masyaikh, menghadiri majelis pembacaan hadis.

Maka hadis Musalsal Bil Mahabbah ini, meski singkat dan sangat mudah dihafal zikirnya. Tetapi jika dihayati dan betul-betul diamalkan pesannya, akan menuntun sang murid menuju jalan-jalan kebaikan yang begitu luas.

Oleh: Zeyn Ruslan

Demikian Artikel " Mengapa Hadis Musalsal Bil Mahabbah? "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jamaah -

Redaksi

Rumah Muslimin Grup adalah Media Dakwah Ahlusunnah Wal jama'ah yang berdiri pada pertengahan tahun 2017 Bermazhab Syafi'i dan berakidah Asyariyyah. Bagi sobat rumah-muslimin yang suka menulis, yuk kirimkan tulisannya ke email kami di dakwahislamiyah93@gmail.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close