Muhammad Nuruddin: Khutbah Akidah

MUHAMMAD NURUDDIN: KHUTBAH AKIDAH

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Pernahkah Anda mendengar seorang khatib naik ke atas mimbar untuk membahas bukti rasional tentang keberadaan Allah, kenabian nabi Muhammad Saw, atau membuktikan bahwa al-Quran itu benar-benar firman-Nya? Dan hari akhirat itu benar-benar ada? Kalaupun ada, rasanya masih jarang ada khatib yang menyentuh tema-tema semacam itu.

Padahal, dalam bangunan ilmu keagamaan, apa yang tadi kita sebutkan itu masuk dalam kategori ajaran pokok agama (ushūluddīn), yang kalau saja tidak kita pastikan kebenarannya, maka iman kita tidak dipandang sah dalam kacamata agama. Kalau iman tidak sah, maka amal perbuatan bisa melayang sia-sia. Berhubung ini masalah pokok, maka harusnya setiap Muslim perlu tahu dalil-dalil umum ttg pokok-pokok akidah itu. 

Di sisi lain, di luar sana masih banyak orang-orang yang mengira bahwa masalah iman itu hanyalah masalah penerimaan, bukan masalah ada atau tidak adanya bukti. Sebagai konsekuensi dari cara pandang semacam ini, tidak jarang, misalnya, kita jumpai orang-orang yang menyuarakan pemisahan antara klaim iman dengan klaim ilmiah. Iman itu satu hal. Kajian ilmiah itu hal yang lain lagi. Sejarah itu bicara fakta. Iman hanya bicara sesuatu yang kita terima.

Karena itu, boleh saja, kata mereka, Anda mengimani Nabi Muhammad Saw sebagai nabi. Tapi dalam kajian ilmiah, pada akhirnya dia harus ditempatkan sebagai manusia biasa. Karena klaim kenabian itu, menurut mereka, hanyalah klaim dogmatis, yang nggak ada bukti ilmiahnya sama sekali. Sementara dalam kajian ilmiah kita dituntut untuk bersikap lebih objektif. Bukankah ada orang yang berpandangan begitu? 

$ads={1}

Anda, kata mereka, boleh mengimani al-Quran sebagai wahyu ilahi. Tapi ketika Anda mengkaji al-Quran sebagai objek kajian ilmiah, maka Anda harus menyingsingkan klaim itu terlebih dulu. Lalu memposisikannya sebagai teks sejarah biasa yang sejajar dengan teks-teks sejarah yang lain. Dan memang itulah yang dilakukan oleh para pengkaji di Barat pada umumnya. Kenapa mereka bisa berpikir begitu? 

Jawabannya seperti yang saya sebutkan tadi. Karena sejak awal mereka mengira bahwa iman dalam agama itu hanya soal penerimaan saja. Bukan sebuah klaim yang dilandasi oleh bukti-bukti ilmiah. Berhubung dia berlandaskan pada penerimaan, maka standar kebenarannya juga bersifat subjektif. Sudah tidak terhitung berapa kali saya menyimak orang-orang yang teracuni oleh pandangan semacam ini.

Padahal, kalau kita merujuk pada penjelasan para ulama Muslim, sejak awal Islam sudah memberikan rumusan yang tegas dan jelas, bahwa sesuatu yang dijadikan pokok keimanan itu harus berlandaskan pada bukti yang meyakinkan. Dan sesuai dengan fakta yang ada. Bukan hanya sebatas dogma yang diwarisi secara turun temurun semata. Pokok keimanan tidak boleh didasarkan pada sangkaan apalagi keragu-raguan. 

Bayangkan, sebagai contoh kecil, sebuah hadits yang sanadnya terbukti sahih pun, ketika mengkaji masalah pokok akidah, itu masih bisa ditunda penerimaannya kalau dia terbukti bertentangan dengan hukum akal yang bersifat pasti, atau ayat al-Quran yang bersifat qath’i. Dalam masalah akidah, ayat yang dijadikan sandaran harus bersifat qath’i, dan hadits yang bisa dijadikan rujukan harus terbukti mutawātir. Karena itulah yang sudah jelas meyakinkan. 

Para ulama menerima hadits ahad jika diposisikan sebagai dalil pendukung. Atau dijadikan dalil dalam masalah cabang akidah yang kebenarannya masih bersifat zhanni. Itupun harus terbukti sahih melalui penyeleksian dan penelitian yang ketat. Tidak boleh bertentangan dengan hadits lain yang lebih sahih. Apalagi bertentangan dengan ayat al-Quran yang bersifat qath’i. Kalau iman itu hanya masalah penerimaan, lantas kenapa para ulama Muslim perlu menerapkan aturan seketat itu? 

Para ulama Muslim juga berselisih tentang keabsahan imannya orang yang bertaklid. Sah atau tidak? Sebagian mengatakan sah, sebagian mengatakan tidak. Kalau iman itu hanya sebatas penerimaan, dan tidak harus berlandaskan pada bukti, lantas kenapa harus muncul perdebatan semacam itu? Kenapa nggak dianggap sah saja semuanya? Ya itu sebagai bukti kecil, bahwa iman versi Islam itu memang berbeda dengan iman versi agama lain. 

Baca juga: Aqidah Adalah: Pengertian, Fungsi, Tujuan dan Contoh Aqidah Akhlak dalam Islam

Masyarakat awam perlu tahu ini. Mereka perlu tahu bahwa dasar-dasar agama mereka itu bersandar pada bukti-bukti yang meyakinkan dan masuk akal. Mengingat bahwa tema-tema semacam ini kerap dikemas dengan bahasa-bahasa yang sulit, maka kita perlu menampilkannya dengan bahasa yang lebih mudah. Agar jangkauannya bisa lebih meluas. 

Dalam buku ini saya sudah menyertakan 5 dari 40 khotbah yang terkait dengan masalah pokok-pokok akidah (ushūl al-‘aqāid). Dari mulai tema tentang pembuktian keberadaan Allah, kenabian Nabi Muhammad Saw, kebenaran Islam, keberadaan alam akhirat, dan bukti keilahian al-Quran. Semuanya dikemas dengan gaya bahasa khotbah dan memuat pilihan kata yang mudah. 

Tema-tema di atas tentu masih bisa disusul dengan tema-tema yang lain. Namun, karena keterbatasan halaman, kita hanya membatasi pada lima tema itu saja. Dalam soal keyakinan, kita nggak boleh ikut-ikutan. Harus tahu dalil-dalil keyakinan kita secara umum. Dan buku ini menyajikan sejumlah pembahasan terkait tema yang sangat penting itu.

Oleh: Muhammad Nuruddin

Demikian Artikel " Muhammad Nuruddin: Khutbah Akidah "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jamaah -

Redaksi

Rumah Muslimin Grup adalah Media Dakwah Ahlusunnah Wal jama'ah yang berdiri pada pertengahan tahun 2017 Bermazhab Syafi'i dan berakidah Asyariyyah. Bagi sobat rumah-muslimin yang suka menulis, yuk kirimkan tulisannya ke email kami di dakwahislamiyah93@gmail.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close