Apakah Bertawassul Kepada Wali Dapat Merusak Akidah?

APAKAH BERTAWASSUL KEPADA WALI DAPAT MERUSAK AKIDAH?

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Sepanjang hidup di Mesir, baru kali ini saya dapat kesempatan untuk berziarah ke makam Imam as-Suyuthi dengan masuk ke dalam ruang kuburannya. Biasanya para peziarah hanya bisa berdiri di depan pintu luar. Entah ini kebijakan baru atau bukan, saya tidak tahu. Tapi, yang jelas, bisa mencium kuburan orang alim, yang namanya tersiar luas ke berbagai belahan dunia, bagi saya adalah sebuah kebahagiaan. 

Biasanya, kalau berziarah, di samping membaca doa-doa, saya suka menghayati seolah-olah Imam yang diziarahi itu hidup. Karena pada hakikatnya memang mereka hidup di alam mereka masing-masing. Dan mereka bisa mendengar kita. Namanya ziarah, ya kita memperkenalkan diri, minta agar didoakan, mengucapkan salam hormat, dan lain-lain. Persis kalau kita berkunjung kepada orang saleh yang masih hidup.

Apakah itu masalah? Apakah bertawassul dengan para wali yang sudah wafat itu dapat merusak akidah? Muslim yang berakidah lurus bisa membedakan antara "minta didoakan oleh orang saleh" dengan "menjadikan orang saleh sebagai tujuan kita berdoa." Jelas itu dua hal yang berbeda. Minta didoakan mah sama siapa aja juga boleh. Yang nggak boleh itu kalau menjadikan mereka sebagai tujuan kita berdoa. Karena semua doa harus tertuju kepada Allah Swt. 

Saya suka heran dengan orang-orang yang memandang musyrik para peziarah kubur, yang bertawassul kepada para wali itu. Seolah-olah kita ini para penyembah patung, yang menjadikan mereka sebagai sesembahan selain Allah! Lalu setelah itu diberlakukanlah kepada kita ayat-ayat yang turun untuk meluruskan keyakinan kaum musyrik. Padahal kita ini Muslim, yang tak memeluk keyakinan syirik itu sama sekali.  

Masyarakat jahiliyyah dulu percaya Allah. Tapi, pada saat yang bersamaan, mereka pun menjadikan patung-patung sebagai sesembahan lain selain Allah. Alhasil, patung-patung itu dipertuhan, disembah, diyakini bisa memberikan manfaat, menolak mudarat, dan lain-lain. Patung itu dijadikan perantara menuju Allah, tapi juga sekaligus dijadikan sesembahan selain Allah. Makanya mereka disebut musyrik.

$ads={1}

Nah sekarang siapa di antara kaum Muslim yang menjadikan para wali itu sebagai sesembahan selain Allah? Atau menjadikan mereka sebagai perantara, tapi juga sesuatu yang disembah selain Pencipta alam semesta? Siapa di antara mereka yang menjadikan para wali itu sebagai tujuan dalam berdoa, lalu mereka diyakini bisa memberikan manfaat dan menolak mudarat karena diri mereka sendiri? Tidak ada. 

Itu hanya ada dalam khayalan orang-orang Wahabi. Rasulullah Saw, seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits, tidak mengkhawatirkan kemusyrikan bagi umatnya. Yang beliau takutkan bagi umatnya ialah urusan dunia yang memang bisa menimbulkan fitnah dan menjadi bahan sengketa. Alhasil, orang wahabi itu mengkhawatirkan sesuatu, yang sebetulnya tidak dikhawatirkan oleh nabinya sendiri! 

Baca juga: Tawassul Harus Didahului Amal

Sebagai orang awam kita perlu belajar mencintai manusia-manusia pilihan. Para wali itu adalah hamba-hamba Allah yang punya kedudukan khusus. Datangilah mereka, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Anda menghadiahkan bacaan yang baik kepada mereka sewaktu di dunia, mungkin di akhirat nanti mereka yang akan menuntun kita menuju pintu sorga. 

Bukan hanya nabi yang akan memberikan syafaat, tapi para wali juga akan diberikan keistimewaan itu. Semakin banyak wali yang Anda ziarahi, maka semakin banyaklah orang saleh yang kelak akan mengenali Anda. Bisa mencintai orang saleh itu adalah anugerah. Dan tak dapat diragukan lagi, bahwa Imam as-Suyuthi adalah salah satu imam dari para wali Allah yang saleh itu.

Oleh: Muhammad Nuruddin

Demikian Artikel " Apakah Bertawassul Kepada Wali Dapat Merusak Akidah? "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jamaah -

Redaksi

Rumah Muslimin Grup adalah Media Dakwah Ahlusunnah Wal jama'ah yang berdiri pada pertengahan tahun 2017 Bermazhab Syafi'i dan berakidah Asyariyyah. Bagi sobat rumah-muslimin yang suka menulis, yuk kirimkan tulisannya ke email kami di dakwahislamiyah93@gmail.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close