Ayat Al-Qur'an dan Hadits Tentang Tasawuf beserta Contohnya

Ayat Al-Qur'an dan Hadits Tentang Tasawuf serta Contohnya

AYAT AL-QUR'AN DAN HADITS TENTANG TASAWUF BESERTA CONTOHNYA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Sebelum memasuki pembahasan mengenai Ayat Al-Qur'an dan Hadits Tentang Tasawuf serta Contohnya kami akan menjelaskan kepada sobat rumah-muslimin terkait definisi tasawuf itu sendiri menurut kacamata agama islam. Secara etimologi tasawuf dapat diartikan  menjadi beberapa definisi, yaitu:

1. Ahlu suffah (yang artinya sekelompok orang dimasa Rasulullah yang hidupnya banyak berdiam di mesjid, dan mereka mengabdikan hidupnya untuk beribadah kepada Allah Swt)

2. Safa, (orang-orang yang mensucikan dirinya dihadapan Tuhan-Nya.

3. Shaf (orang-orang yang ketika shalat selalu berada di shaf paling depan)

4. Shuf (artinya bulu domba atau wool)

Selain penjelasan secara etimologi, Tasawuf sendiri secara terminologi yang telah dirumuskan para ahli yaitu:

“Tasawuf ialah bahwa yang Hak adalah yang mematikanmu, dan Hak-lah yang menghidupkanmu”. (Junaidi)

“Memasuki segala budi (akhlak) yang bersifat sunni dan keluar dari budi pekerti yang rendah”. (Juhairi)

“Tanda sufi yang benar adalah berfakir setelah dia kaya, merendahkan diri setelah dia bermegah-megahan, menyembunyikan diri setelah dia terkenal: dan tanda sufi palsu adalah kaya setelah dia fakir, bermegah-megahan setelah dia hina dan tersohor setelah ia tersembunyi”. (Abu Hamzah)

Ayat Al-Qur'an Tentang Tasawuf

Ayat Al-Qur'an Tentang Tasawuf

Al-Qur'an merupakan kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yang berisi ajaran islam di dalamnya, baik syariat, aqidah maupun muamalah. Ketiga tersebut banyak terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur'an. Ayat-ayat Al-Qur'an tidak dapat diartikan atau dipahami secara tekstualis, karena ayat Al-Qur'an merupakan bahasa Al-Qur'an tingkat tertinggi dan tidak bisa dimaknai menurut akal dan penalaran kita saja.

Islam mengatur kehidupan ini secara lahiriyan dan batiniah. Pemahaman mengenai unsur kehidupan yang bersifat lahiriyah dan batiniyah nanti akan melahirkan "tasawuf". Unsur kehidupan tasawuf sudah diimplementasikan oleh Nabi dan para sahabatnya, tentunya berdasarkan dari Al-Qur'an dan As-sunnah.

$ads={1}

Di dalam Al-Qur'an ada ayat-ayat mengenai tasawuf yang didalamnya tertulis makna eksplisit. Seperti dalam QS Al Maidah ayat 54 yang berbunyi:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ يَّرۡتَدَّ مِنۡكُمۡ عَنۡ دِيۡـنِهٖ فَسَوۡفَ يَاۡتِى اللّٰهُ بِقَوۡمٍ يُّحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّوۡنَهٗۤ ۙ اَذِلَّةٍ عَلَى الۡمُؤۡمِنِيۡنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الۡكٰفِرِيۡنَ يُجَاهِدُوۡنَ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوۡنَ لَوۡمَةَ لَاۤٮِٕمٍ‌ ؕ ذٰ لِكَ فَضۡلُ اللّٰهِ يُؤۡتِيۡهِ مَنۡ يَّشَآءُ‌ ؕ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيۡمٌ

Artinya ; “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui”.

Berdasarkan ayat Al-Qur'an diatas, maka kita dapat merinci mengenai "maka eksplisit tasawuf" yang terkandung di dalamnya, yaitu:

1. Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai Allah

2. Bersikap lemah lembut kepada orang-orang dan bersikap tegas kepada orang-orang non muslim (kafir)

Sifat ini merupakan bentuk kecintaan kita kepada Allah Swt. Seseorang yang cinta kepada Allah maka ia akan menjadi seorang yang arif dan bijaksana, selalu tersenyum dan bahagia, memiliki sifat yang lemah lembut karena dirinya dipenuhi oleh sifat Allah yang paling utama yaitu Rahmat/kasih sayang. Inilah yang akan menghasilkan rasa persaudaraan seagama, yang menciptakan sikap toleran terhadap kesalahannya, lemah lembut dalam sifat dan sikapnya termasuk disaat menasehati atau menegur orang lain.

Sikap inilah yang dapat mengantarkan seorang muslim merasakan derita saudaranya, sehingga mencukupi kebutuhannya serta melapangkan segala kesulitannya. Sedangkan sikap tegas terhadap orang-orang kafir yaitu bukan berarti memusuhi personalnya ataupun memaksa mereka untuk masuk ke dalam islam, merusak tempat peribadatannya ataupun mengganggu ketika mereka beribadah. Namun bersikap tegas terhadap upaya-upaya mereka melecehkan agama islam atau kaum muslimin.

Baca juga: Petunjuk Umum Berguru dan Bertarekat dalam Ilmu Tasawuf

3. Berjihad di jalan Allah

Jihad disini bukan hanya sebatas mengangkat senjata (perang), namun upaya-upaya membela islam dengan memperkaya peradabannya dengan lisan dan tulisan. Selain itu menjelaskan pemahaman islam dengan baik, santun namun tetap dalam ruang linkup syariat dan tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Al-Hadist.

4. Tidak takut kepada celaan pencela

Mereka tidak takut dicela/dihina/diejek bahwa mereka tidak memiliki sifat toleran dan mereka memiliki sikap tegas kepada orang kafir  yang memusuhi islam, ia tidak khawatir dituduh fanatik ataupun fundamentalis disaat menegakkan ukhuwah islamiyah.

Mereka meyakini bahwa manusia memiliki rasa mahabbah (cinta) kepada sesamanya karena Allah Swt berdasarkan QS. Al-Maidah ayat 54.

Pada ayat tersebut para ahli sufi menafsirkan bahwa akan datang suatu kaum yang dicintai oleh Allah SWT dan mereka juga mencintai Allah, sebagaimana yang termaktub dalam tafsir al-Misbah Al Habib Quraish Syihab.

Adapun Cinta Allah kepada hamba-Nya yang dipahami oleh mufassir yaitu limpahan kebaikan dan anugerah-Nya. Cinta & karunia-Nya tidak terbatas serta cinta manusia kepada Allah bertingkat-bertingkat, tetapi yang pasti bahwa mencintai Allah adalah dasar dan prinsip perjalanan menuju Allah Ta 'alaa. Sehingga semua tingkatan (maqam) dapat mengalami kehancuran kecuali cinta. Cinta tidak dapat hancur dalam sekejap, Selama ia terus berjalan menuju Allah Subhanahu wa ta 'alaa.

Selain itu, Allah memerintahkan kepada hambanya untuk senantiasa bertaubat membersihkan diri dari segala kotoran dosa untuk memohon ampunan kepada sang khaliq sehingga mendapatkan cahaya dan karunia dari-Nya. Hal ini berdasarkan QS. At-Tahrim ayat 8 yang berbunyi:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِىمِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ يَوْمَ لَا يُخْزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَٰنِهِمْ  

يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَٱغْفِرْ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Artinya:   ”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang beriman bersama dengan dia ; sedang cahaya mereka memancar dihadapan dan disebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan,”Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami ; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Dari ayat diatas, dapat dipahami bahwa seorang yang bertasawuf mesti bertaubat terlebih dahulu untuk menghapus segala dosa-dosa yang pernah diperbuat sebelumnya. Para sufi berpendapat bahwa untuk mencari ridha Allah Ta'alaa mesti bertaubat terlebih dahulu dan meninggalkan segala hal terkait duniawi (urusan dunia) dan menghiasi akhlak mahmudah, dengan demikian kita bisa menuju keridhaan Allah Swt.

Kata taubat dalam tasawuf yaitu taaba-yatubu-taubatan yang artinya kembali. Seperti yang dikutip melalui kitab Manaajil Al-Saairin karya Jalaluddin Rahmat, bahwa taubat merupakan maqam kedua, Sedangkan maqam pertama adalah yaqzhah (kesadaran).

Dalam yaqzhah itu sendiri, kita tiba-tiba disadarkan Allah Swt atas keburukan yang pernah dilakukan selama kita jauh dari-Nya. Bisa jadi asbab musibah yang menimpa diri kita, nasehat dari orang lain ataupun renungan yang kita lakukan sendiri. Allah memiliki berbagai macam cara untuk menyadarkan hamba-Nya. Tetapi dalam tasawuf, bahkan menurut Al Qur'an orang lebih banyak disadarkan oleh musibah.

Selain itu, Allah juga menegaskan bahwa pertemuan manusia dengan Allah dalam QS. Al Baqarah ayat 115 yang berbunyi:

وَلِلَّهِ ٱلۡمَشۡرِقُ وَٱلۡمَغۡرِبُۚ فَأَيۡنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجۡهُ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ 

Artinya:  ”Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Pada ayat diatas, kaum sufi mengartikan bahwa kandungan ayat tersebut adalah "Dimana tuhan ada, disitu tuhan dapat dijumpai". Maksudnya, kapanpun dan dimanapun kita berada saat ini Allah selalu bersama kita karena dzat-Nya tidak dibatas oleh ruang, waktu dan tempat.

Hal ini juga selaras dengan apa yang disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 186:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

Artinya:  ”Jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang diri-Ku, Aku adalah dekat, Aku mengabulkan seruan orang yang memanggil jika ia panggil Aku.”

Dalam surat lainnya yaitu QS. Qaf ayat 16 juga disebutkan:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِۦ نَفْسُهُۥ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ ٱلْوَرِيدِ

Artinya :“Sebenarnya Kami ciptakan manusia dan Kami tahu apa yang dibisikkannya kepadanya, Kami lebih dekat kepadanya daripada pembuluh darahnya sendiri.”

Berdasarkan ayat-ayat diatas, kalangan sufi berpendapat bahwa ketika ingin mencari tuhan tidak perlu jauh-jauh, cukup kembali ke dalam dirinya saja. Maksudnya, kita mesti intropeksi/bermuhasabah diri/merenung atas apa yang telah kita perbuat selama ini dan sejauh mana kita mensyukuri nikmat-nikmat dan anugerah yang telah Allah berikan kepada kita.

Baca juga: Kenapa Sebagian Oknum Sufi Mengaku Dapat Ilmu dari Nabi Khidir?

Ayat Al-Qur’an Tentang Tasawuf Secara Implisit

Makna implisit adalah makna yang tidak secara langsung dinyatakan atau dijelaskan dalam suatu teks atau percakapan. Ini adalah makna yang harus diambil atau disimpulkan oleh pendengar atau pembaca berdasarkan konteks, pengetahuan mereka, atau petunjuk yang tersirat dalam teks atau percakapan tersebut.

Adapun ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi landasan tasawuf secara implisit dapat dilihat dari tingkatan (maqam) dan keadaan (ahwal) para sufi yaitu:

1. Tingkatan Zuhud

Ayat tersebut tercantum dalam QS. An-Nisaa’ ayat 77:

أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوٓا۟ أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ ٱلنَّاسَ كَخَشْيَةِ ٱللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً ۚ وَقَالُوا۟ رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا ٱلْقِتَالَ لَوْلَآ أَخَّرْتَنَآ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ ۗ قُلْ مَتَٰعُ ٱلدُّنْيَا قَلِيلٌ وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ ٱتَّقَىٰ وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا

Artinya:   “Katakanlah kesenangan didunia ini hanya sementara dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa…”

2. Tingkatan Tawakkal 

Ayat tersebut tercantum dalam QS.Thalak ayat 3:

 وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ

Artinya: “Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah mencukupkan (keperluannya).”[14]

3. Tingkatan Syukur 

Ayat tersebut tercantum dalam QS Ibrahim ayat 7:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya:   “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti akan Kami menambahkan (nikmat) kepadamu.”[15]

4. Tingkat Sabar

Ayat tersebut tercantum dalam QS. Al-Baqarah ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya:  “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS Al-Baqoroh:155).

5. Tingkatan Ridha

Ayat tersebut tercantum dalam QS. Al-Bayinah ayat 8:

 جَزَآؤُهُمۡ عِنۡدَ رَبِّهِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِىۡ مِنۡ تَحۡتِهَا الۡاَنۡهٰرُ خٰلِدِيۡنَ فِيۡهَاۤ اَبَدًا ‌ؕ رَضِىَ اللّٰهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُوۡا عَنۡهُ ‌ؕ ذٰلِكَ لِمَنۡ خَشِىَ رَبَّهٗ

Artinya :“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ’Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.”

$ads={2}

Hadits-Hadits Tentang Tasawuf

Hadits-Hadits Tentang Tasawuf

Selain ayat-ayat Al-Qur'an, ada banyak hadis yang dapat kita jumpai keterangan-keterangan tentang kehidupan manusia, diantaranya sbb:

”Senantiasa seorang hamba itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Maka tatkala mencintainya, jadilah Aku pendengarnya yang dia pakai untuk mendengar dan lidahnya yang dia pakai untuk berbicara dan tangannya yang dia pakai untuk mengepal dan kakinya yang dia pakai untuk berusaha ; maka dengan-Ku-lah dia mendengar, melihat, berbicara, berpikir, meninju dan berpikir.”

Pada hadits diatas dapat dipahami bahwa manusia dan tuhan sesungguhnya dapat bersatu. Diri manusia dapat lebih dalam diri tuhan yang selanjutnya dikenal dengan istilah 'fana'. fana'Nya makhluk sebagai mencintai tuhan seperti yang dicintainya. Fana adalah menghilangnya dari pengenalan ghair, baqa adalah pengetahuan tuhan yang diperoleh oleh seseorang yang sudah menghilangnya pengetahuan ghair.

Dalam hal ini nafs kita dalam jalan fana (ubudiyyah yakni penghambaan, ibadah) dan Tuhan dalam jalan baqaa (rububiyyah yakni penguasaan).

 عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

Artinya: “Dari Abi Yahya Suhaib bin Sinan RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda : sangat mengagumkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya segala keadaannya untuknya baik sekali, dan tidak mungkin terjadi demikian kecuali bagi orang mukmin. Kalau mendapat kenikmatan, ia bersyukur, maka bersyukur itu lebih baik baginya. Dan kalau menderita kesusahan ia sabar, maka kesabaran itu lebih baik baginya. (HR. Muslim)

Selain itu pada hadits lainnya,

Dari Umar bin Khattab ra., katanya : Aku mendengar Rasul Allah SAW bersabda :”Semua amal perbuatan itu hanyalah dinilai menurut  masing-masing niatnya, dan setiap orang hanyalah menurut apa yang diniatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya itu kepada keridhaan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk keduniaan atau wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu pun diberi penilaian untuk tujuan apa ia hijrah tadi”.

(H.R. Al-Bukhari).

Dari Ibnu Mas’ud ra. Dari Rasul Allah, bersabda : sesungguhnya jujur itu mendorong untuk beramal saleh, dan sesungguhnya amal saleh itu menunjukkan jalan ke surga. Dan seorang yang benar-benar/terus-menerus berbuat jujur (sehingga menjiwai dan berbudi), ditetapkan disisi Allah sebagai ahli jujur. Dan sesungguhnya dusta itu mendorong untuk berbuat keji dan perbuatan keji itu menyampaikan ke neraka. Dan seorang yang benar-benar/terus-menerus berdusta, ditetapkan disisi Allah sebagai ahli dusta. (Mutafaq Alaih).

Dalam Hadist Qudsi juga dijelaskan yaitu:

 “Tidaklah para hamba yang beribadah kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku fardhukan kepadanya. Dan hamba yang beribadah kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunat, maka Aku juga mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, tangan yang ia pakai memegang dan kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, maka Aku akan melindunginya”.[20]

Hadits diatas menjelaskan sesungguhnya seorang yang mampu meninggalkan syahwatnya dan fokus dalam ketaatan, sehingga ia hanya menggunakan anggota tubuhnya sesuai dengan tujuan penciptanya sebagai taufik hidayah dari Allah Swt.

Hadis ini memberikan pemahaman bahwa rasa cinta Allah kepada hamba-Nya adalah melalui perbuatan-perbuatan sunnah. Oleh sebab itu, Selama hamba tersebut beribadah melalui ibadah sunnahnya hingga mencapai tingkatan cinta kepada-Nya, maka pada saat itu ia telah tenggelam dengan melihat kesucian Allah.

Pengalaman seperti ini adalah derajat terakhir bagi orang-orang yang menuju akhirat dan jalan pertama yang ingin wushul (cepat sampai) kepada Allah Ta'alaa. Dengan mengikuti sunnah-Nya tercapailah makrifat, dengan melaksanakan yang fardhu tercapailah qurbah (orang yang dekat kepada Allah) dan dengan senantiasa melakukan perbuatan sunnah tercapailah rasa cinta (mahabbah) kepada Allah.

Contoh Perilaku Rasul dan sahabat dalam kajian tasawuf

Benih-benih tasawuf sudah ada sejak dalam kehidupan nabi Muhammad SAW. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa dalam hidup, ibadah dan perilaku nabi Muhammad SAW.

Peristiwa dan Perilaku Hidup Nabi. Sebelum diangkat menjadi Rasul, berhari-hari beliau berkhalawat (mengasingkan diri) di Gua Hira, terutama pada bulan Ramadhan disana nabi banyak berzikir dan bertafakur dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pengasingan diri Nabi SAW digua Hira ini merupakan acuan utama para sufi dalam melakukan khalawat. Kemudian puncak kedekatan Nabi SAW dengan Allah SWT tercapai ketika melakukan Isra Mikraj. Di dalam Isra Mikraj itu nabi SAW telah sampai ke Sidratulmuntaha (tempat terakhir yang dicapai nabi ketika mikraj di langit ke tujuh), bahkan telah sampai kehadiran Ilahi dan sempat berdialog dgn Allah. Dialog ini terjadi berulang kali, dimulai ketika nabi SAW menerima perintah dari Allah SWT tentang kewajiban shalat lima puluh kali dalam sehari semalam. Atas usul nabi Musa AS, Nabi Muhammad SAW memohon agar jumlahnya diringankan dengan alasan umatnya nanti tidak akan mampu melaksanakannya. Kemudian Nabi Muhammad SAW terus berdialog dengan Allah SWT. Keadaan demikian merupakan benih yang menumbuhkan sufisme dikemudian hari.

Perikehidupan (sirah) nabi Muhammad SAW juga merupakan benih-benih tasawuf yaitu pribadi nabi SAW yang sederhana, zuhud, dan tidak pernah terpesona dengan kemewahan dunia. Dalam salah satu Doanya ia memohon: ”Wahai Allah, Hidupkanlah aku dalam kemiskinan dan matikanlah aku selaku orang miskin” (HR.at-Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim).

“Pada suatu waktu Nabi SAW datang kerumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar as-Siddiq. Ternyata dirumahnya tidak ada makanan. Keadaan ini diterimanya dengan sabar, lalu ia menahan lapar dengan berpuasa” (HR.Abu Dawud, at-Tirmizi dan an-Nasa-i) .

Ibadah Nabi Muhammad SAW. Ibadah nabi SAW juga sebagai cikal bakal tasawuf. Nabi SAW adalah orang yang paling tekun beribadah. Dalam satu riwayat dari Aisyah RA disebutkan bahwa pada suatu malam nabi SAW mengerjakan shalat malam, didalam salat lututnya bergetar karena panjang dan banyak rakaat salatnya. Tatkala rukuk dan sujud terdengar suara tangisnya namun beliau tetap melaksanakan salat sampai azan Bilal bin Rabah terdengar diwaktu subuh. Melihat nabi SAW demikian tekun melakukan salat, Aisyah bertanya: ”Wahai Junjungan, bukankah dosamu yang terdahulu dan yang akan datang diampuni Allah, mengapa engkau masih terlalu banyak melakukan salat?” nabi SAW menjawab:” Aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur” (HR.Bukhari dan Muslim).

Selain banyak salat nabi SAW banyak berzikir. Beliau berkata: “Sesungguhnya saya meminta ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya setiap hari tujuh puluh kali” (HR.at-Tabrani).

Dalam hadis lain dikatakan bahwa Nabi SAW meminta ampun setiap hari sebanyak seratus kali (HR.Muslim). Selain itu nabi SAW banyak pula melakukan iktikaf dalam mesjid terutama dalam bulan Ramadan.

Akhlak Nabi Muhammad SAW. Akhlak nabi SAW merupakan acuan akhlak yang tidak ada bandingannya. Akhlak nabi SAW bukan hanya dipuji oleh manusia, tetapi juga oleh Allah SWT. Hal ini dapat dilihat dalam firman Allah SWT yang artinya: “Dan sesungguhnya kami (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”.(QS.Al Qalam:4) ketika Aisyah ditanya tentang Akhlak Nabi SAW, Beliau menjawab: Akhlaknya adalah Al-Qur’an”(HR.Ahmad dan Muslim). Tingkah laku nabi tercermin dalam kandungan Al-Qur’an sepenuhnya.

Dalam diri nabi SAW terkumpul sifat-sifat utama, yaitu rendah hati, lemah lembut, jujur, tidak suka mencari-cari cacat orang lain, sabar, tidak angkuh, santun dan tidak mabuk pujian. Nabi SAW selalu berusaha melupakan hal-hal yang tidak berkenan di hatinya dan tidak pernah berputus asa dalam berusaha.

Oleh karena itu, Nabi SAW merupakan tipe ideal bagi seluruh kaum muslimin, termasuk pula para sufi. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 21 yang artinya:”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.”.

Kehidupan Empat Sahabat Nabi Muhammad SAW.

Sumber lain yang menjadi sumber acuan oleh para sufi adalah kehidupan para sahabat yang berkaitan dengan keteguhan iman, ketakwaan, kezuhudan dan budi pekerti luhur. Oleh karena setiap orang yang meneliti kehidupan rohani dalam islam tidak dapat mengabaikan kehidupan kerohanian para sahabat yang menumbuhkan kehidupan sufi diabad-abad sesudahnya.

Kehidupan para sahabat dijadikan acuan oleh para sufi karena para sahabat sebagai murid langsung Rasulullah SAW dalam segala perbuatan dan ucapan mereka senantiasa mengikuti kehidupan Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu perilaku kehidupan mereka dapat dikatakan sama dengan perilaku kehidupan Nabi SAW, kecuali hal-hal tertentu yang khusus bagi Nabi SAW. Setidaknya kehidupan para sahabat adalah kehidupan yang paling mirip dengan kehidupan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW karena mereka menyaksikan langsung apa yang diperbuat dan dituturkan oleh Nabi SAW. Oleh karena itu Al-Qur’an memuji mereka: ” Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk islam) diantara orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah sediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS.At Taubah:100).

Abu Nasr as-Sarraj at-Tusi menulis didalam bukunya, Kitab al-Luma`, tentang ucapan Abi Utbah al-Hilwani (salah seorang tabiin) tentang kehidupan para sahabat:” Maukah saya beritahukan kepadamu tentang kehidupan para sahabat Rasulullah SAW? Pertama, bertemu kepada Allah lebih mereka sukai dari pada kehidupan duniawi. Kedua, mereka tidak takut terhadap musuh, baik musuh itu sedikit maupun banyak. Ketiga, mereka tidak jatuh miskin dalam hal yang duniawi, dan mereka demikian percaya pada rezeki Allah SWT.”

Adapun kehidupan keempat sahabat Nabi SAW yang dijadikan panutan para sufi secara rinci adalah sbb:

Abu Bakar as-Siddiq

Pada mulanya ia adalah salah seorang Kuraisy yang kaya. Setelah masuk islam, ia menjadi orang yang sangat sederhana. Ketika menghadapi perang Tabuk, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, Siapa yang bersedia memberikan harta bendanya dijalan Allah SWT. Abu Bakar lah yang pertama menjawab:”Saya ya Rasulullah.” Akhirnya Abu Bakar memberikan seluruh harta bendanya untuk jalan Allah SWT. Melihat demikian, Nabi SAW bertanya kepada: ”Apalagi yang tinggal untukmu wahai Abu Bakar?” ia menjawab:”Cukup bagiku Allah dan Rasul-Nya.”

Diriwayatkan bahwa selama enam hari dalam seminggu Abu Bakar selalu dalam keadaan lapar. Pada suatu hari Rasulullah SAW pergi kemesjid. Disana Nabi SAW bertemu Abu Bakar dan Umar bin Khattab, kemudian ia bertanya:”Kenapa anda berdua sudah ada di mesjid?” Kedua sahabat itu menjawab:”Karena menghibur lapar.”

Diceritakan pula bahwa Abu Bakar hanya memiliki sehelai pakaian. Ia berkata:”Jika seorang hamba begitu dipesonakan oleh hiasan dunia, Allah membencinya sampai ia meninggalkan perhiasan itu.” Oleh karena itu Abu Bakar memilih takwa sebagai ”pakaiannya.” Ia menghiasi dirinya dengan sifat-sifat rendah hati, santun, sabar, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan ibadah dan zikir.

Umar bin Khattab

Umar bin Khattab yang terkenal dengan keheningan jiwa dan kebersihan kalbunya, sehingga Rasulullah SAW berkata:” Allah telah menjadikan kebenaran pada lidah dan hati Umar.” Ia terkenal dengan kezuhudan dan kesederhanaannya. Diriwayatkan, pada suatu ketika setelah ia menjabat sebagai khalifah, ia berpidato dengan memakai baju bertambal dua belas sobekan.

Diceritakan, Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khatab, ketika masih kecil bermain dengan anak-anak yang lain. Anak-anak itu semua mengejek Abdullah karena pakaian yang dipakainya penuh dengan tambalan. Hal ini disampaikannya kepada ayahnya yang ketika itu menjabat sebagai khalifah. Umar merasa sedih karena pada saat itu tidak mempunyai uang untuk membeli pakaian anaknya. Oleh karena itu ia membuat surat kepada pegawai Baitulmal (Pembendaharaan Negara) diminta dipinjami uang dan pada bulan depan akan dibayar dengan jalan memotong gajinya.

Pegawai Baitulmal menjawab surat itu dengan mengajukan suatu pertanyaan, apakah Umar yakin umurnya akan sampai bulan depan. Maka dengan perasaan terharu dengan diiringi derai air mata , Umar menulis lagi sepucuk surat kepada pegawai Baitul Mal bahwa ia tidak lagi meminjam uang karena tidak yakin umurnya sampai bulan yang akan datang.

Disebutkan dalam buku-buku tasawuf dan biografinya, Umar menghabiskan malamnya beribadah. Hal demikian dilakukan untuk mengibangi waktu siangnya yang banyak disita untuk urusan kepentingan umat. Ia merasa bahwa pada waktu malamlah ia mempunyai kesempatan yang luas untuk menghadapkan hati dan wajahnya kepada Allah SWT.

Usman bin Affan

Usman bin Affan yang menjadi teladan para sufi dalam banyak hal. Usman adalah seorang yang zuhud, tawaduk (merendahkan diri dihadapan Allah SWT), banyak mengingat Allah SWT, banyak membaca ayat-ayat Allah SWT, dan memiliki akhlak yang terpuji. Diriwayatkan ketika menghadapi Perang Tabuk, sementara kaum muslimin sedang menghadapi paceklik, Usman memberikan bantuan yang besar berupa kendaraan dan perbekalan tentara.

Diriwayatkan pula, Usman telah membeli sebuah telaga milik seorang Yahudi untuk kaum muslimin. Hal ini dilakukan karena air telaga tersebut tidak boleh diambil oleh kaum muslimin.

Dimasa pemerintahan Abu Bakar terjadi kemarau panjang. Banyak rakyat yang mengadu kepada khalifah dengan menerangkan kesulitan hidup mereka. Seandainya rakyat tidak segera dibantu, kelaparan akan banyak merenggut nyawa. Pada saat paceklik ini Usman menyumbangkan bahan makanan sebanyak seribu ekor unta.

Tentang ibadahnya, diriwayatkan bahwa usman terbunuh ketika sedang membaca Al-Qur’an. Tebasan pedang para pemberontak mengenainya ketika sedang membaca surah Al-Baqarah ayat 137 yang artinya:…”Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ketika itu ia tidak sedikitpun beranjak dari tempatnya, bahkan tidak mengijinkan orang mendekatinya. Ketika ia rebah berlumur darah, mushaf (kumpulan lembaran) Al-Qur’an itu masih tetap berada ditangannya.

Ali bin Abi Talib

Ali bin Abi Talib yang tidak kurang pula keteladanannya dalam dunia kerohanian. Ia mendapat tempat khusus di kalangan para sufi. Bagi mereka Ali merupakan guru kerohanian yang utama. Ali mendapat warisan khusus tentang ini dari Nabi SAW. Abu Ali ar-Ruzbari , seorang tokoh sufi, mengatakan bahwa Ali dianugerahi Ilmu Laduni. Ilmu itu, sebelumnya, secara khusus diberikan Allah SWT kepada Nabi Khaidir AS, seperti firmannya yang artinya:…”dan telah Kami ajarkan padanya ilmu dari sisi Kami.” (QS.Al Kahfi:65).

Kezuhudan dan kerendahan hati Ali terlihat pada kehidupannya yang sederhana. Ia tidak malu memakai pakaian yang bertambal, bahkan ia sendiri yang menambal pakiannya yang robek.

Suatu waktu ia tengah menjinjing daging di Pasar, lalu orang menyapanya:”Apakah tuan tidak malu memapa daging itu ya Amirulmukminin (Khalifah)?” Kemudian dijawabnya:”Yang saya bawa ini adalah barang halal, kenapa saya harus malu?”.

Abu Nasr As-Sarraj at-Tusi berkomentar tentang Ali. Katanya:”Di antara para sahabat Rasulullah SAW Amirulmukminin Ali bin Abi Talib memiliki keistimewahan tersendiri dengan pengertian-pengertiannya yang agung, isyarat-isyaratnya yang halus, kata-katanya yang unik, uraian dan ungkapannya tentang tauhid, makrifat, iman, ilmu, hal-hal yang luhur, dan sebagainya yang menjadi pegangan serta teladan para sufi.

Kehidupan Para Ahl as-Suffah. Selain keempat khalifah di atas, sebagai rujukan para sufi dikenal pula para Ahl as-Suffah. Mereka ini tinggal di Mesjid Nabawi di Madinah dalam keadaan serba miskin, teguh dalam memegang akidah, dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Diantara Ahl as-Suffah itu ialah Abu Hurairah, Abu Zar al-Giffari, Salman al-Farisi, Mu’az bin Jabal, Imran bin Husin, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas dan Huzaifah bin Yaman. Abu Nu’aim al-Isfahani, penulis tasawuf (w. 430/1038) menggambarkan sifat Ahl as-Suffah di dalam bukunya Hilyat al-Aulia`(Permata para wali) yang artinya: Mereka adalah kelompok yang terjaga dari kecendrungan duniawi, terpelihara dari kelalaian terhadap kewajiban dan menjadi panutan kaum miskin yang menjauhi keduniaan. Mereka tidak memiliki keluarga dan harta benda. Bahkan pekerjaan dagang ataupun peristiwa yang berlangsung disekitar mereka tidak lah melalaikan mereka dari mengingat Allah SWT. Mereka tidak disedihkan oleh kemiskinan material dan mereka tidak digembirakan kecuali oleh suatu yang mereka tuju.

Diantara Ahl as-Suffah itu ada yang mempunyai keistimewahan sendiri. Hal ini memang diwariskan oleh Rasulullah SAW kepada mereka seperti Huzaifah bin Yaman yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW tentang ciri-ciri orang Munafik. Jika ia berbicara tentang orang munafik, para sahabat yang lain senantiasa ingin mendengarkannya dan ingin mendapatkan ilmu yang belum diperolehnya dari Nabi SAW. Umar bin Khattab pernah tercengang mendengar uraian Huzaifah tentang ciri-ciri orang munafik.

Adapun Abu Zar al-Giffarri adalah seorang Ahl as-Suffah termasyur yang bersifat sosial. Ia tampil sebagai prototipe (tokoh pertama) fakir sejati. Abu Zar tidak pernah memiliki apa-apa, tetapi ia sepenuhnya milik Allah SWT dan akan menikmati hartanya yang abadi. Apabila ia diberikan sesuatu berupa materi, maka materi tersebut dibagi-bagi kepada para fakir miskin.

Begitu juga Salman Al Farisi salah seorang Ahli Suffah yang hidup sangat sederhana sampai akhir hanyatnya. Beliau merupakan salah satu Ahli Silsilah dari Tarekat Naqsyabandi yang jalur keguruan bersambung kepada Saidina Abu Bakar Siddiq sampai kepada Rasulullah.

Daftar Pustaka: Anwar, Rosihon dan Mukhtar Solihin. Ilmu Tasawuf, Bandung : Pustaka Setia, 2006, Departemen Agama RI.  Al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung : Diponegoro, 2005. Rahmat, Jalaluddin. Meraih Cinta Ilahi ; Pencerahan Sufistik, Bandung:Remaja Rosdakarya, 2001. Sayyid Abi Bakar Ibnu Muhammad Syatha, Missi Suci Para Sufi, Yogyakarta : Mitra Pustaka, 2002. Shayk Ibrahim Gazuri Ilahi, Anal Haqq, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996. Shihab,  Quraish. Tafsir al-Misbah, Jakarta : Lentera Hati, 2001. Rosihon Anwar  dan Mukhtar Solihin, Ilmu Tasawuf, (Bandung : Pustaka Setia, 2006), hlm.16.

Source: joelbuloh.blogspot.com

Editor: Rumah-muslimin

Demikian Artikel " Ayat Al-Qur'an dan Hadits Tentang Tasawuf beserta Contohnya "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jamaah -

Redaksi

Rumah Muslimin Grup adalah Media Dakwah Ahlusunnah Wal jama'ah yang berdiri pada pertengahan tahun 2017 Bermazhab Syafi'i dan berakidah Asyariyyah. Bagi sobat rumah-muslimin yang suka menulis, yuk kirimkan tulisannya ke email kami di dakwahislamiyah93@gmail.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close