Minhaj At-Thalibin, Bacaan Tukang Sayur Zaman Imam Nawawi

MINHAJ AT-THALIBIN, BACAAN TUKANG SAYUR ZAMAN IMAM NAWAWI

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Dalam pondasi fikih mazhab Syafi'i kitab "MINHAJUTH THALIBIN" karya Imam an-Nawawi merupakan suatul hal yang pokok harus dipelajari oleh segenap santri, ulama bahkan seorang mufti sekalipun. Karena memang di kitab ini rumusan penting mazhab Syafi'i dikupas tuntas oleh Imam an-Nawawi. Dan dewasa ini pun dikalangan pondok pesantren kitab "AL-MINHAJ" sering dijadikan ujian kelulusan santri, dan juga banyak dipelajari saat santri ingin lulus dari pondok.

Tapi ada hal yang menarik di sini, seperti yang kami dengar dan disampaikan oleh guru kami. Jadi, dahulu di zaman Imam an-Nawawi rhm., beliau memandang ilmu itu sulit untuk diperoleh ia harus berguru langsung kepada sosok alim besar, melazimi barulah ilmu itu akan didapat. Di sini Imam an-Nawawi memandang tak semua bisa seperti itu. Bagaimana dengan tukang sayur, atau pedagang yang ada di pasar. Mereka akan kesulitan untuk melazimi seorang guru terus-menerus dalam majelis hingga ilmu didapat. Walhasil, Imam an-Nawawi merumuskan ilmu-ilmu fikih yang ada di dalam kitabnya berjudul, "AL-MINHAJ"

$ads={1}

Ketika kitab ini beredar di masanya, maka tukang sayur dan para bakul pedagang pun bisa bernafas lega sebab waktu yang sedikit tersebut bisa mereka gunakan juga untuk mempelajari ilmu-ilmu syariat berkat hadirnya kitab "AL-MINHAJ." Dengan kata lain, sejatinya Imam an-Nawawi merumuskan "al-MINHAJ" tak hanya untuk para pelajar tapi juga untuk tukang sayur, dan bakul di pasar. Tentu zaman terus berubah, tukang sayur di masa dahulu bacaannya adalah "al-MINHAJ."

Nah, muncul lah ulama-ulama setelah Imam an-Nawawi dan kembali merumuskan ilmu-ilmu syariat seperti kitab yang paling tipis yakni, "SAFINATUN NAJAH, TAQRIB, SULLAMUT TAUFIQ" dan banyak kitab-kitab lainnya. Semua itu dirumuskan untuk mempermudah bagi siapa saja dalam memahami ilmu syariat ini. Hal dan fakta menarik yang kami ingin ungkapkan di sini adalah betapa kita (umat saat ini) begitu jauh levelnya dengan segelintir tukang sayur dan bakul pedagang di masa Imam an-Nawawi.

YA ALLAH, jangankan "AL-MINHAJ" (mungkin di antara kita banyak baru dengar ada kitab namanya "AL-MINHAJ", baru awal lihat lagi), kitab tipis seperti SAFINAH saja hingga harus "berabad-abad" kita pelajari, boleh jadi sampai sekarang di antara kita ada yang belum khatam SAFINAH. Tapi sudah berani berkoar dan berfatwa menyalahkan sana-sini. Kata Ustadzuna orang seperti ini derajat kebodohannya dua kali; pertama orang ini bodoh sebab tidak tahu kedudukan ijtihad, kedua ia bodoh terhadap dirinya sendiri.

Begitulah hal ihwal ulama dan orang dahulu. Sehingga membuat diri kita yang merasa pandai ini seharusnya malu dan tak akan lebih tinggi dari tukang sayur di masanya Imam an-Nawawi. Jangan pula coba untuk bandingkan diri kita dengan ulama pada masa lalu. Dan inilah faktanya derajat atau level kita, kami katakan kembali tak akan lebih tinggi dari seorang tukang sayur masa lalu.

*Dinukil dari intisari kajian bersama Ustadzuna Umar Husain as-Saqqaf, MJA.

Sumber: Mohsen Basheban

Demikian Artikel " Minhaj At-Thalibin, Bacaan Tukang Sayur Zaman Imam Nawawi "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jamaah - 

Redaksi

Rumah Muslimin Grup adalah Media Dakwah Ahlusunnah Wal jama'ah yang berdiri pada pertengahan tahun 2017 Bermazhab Syafi'i dan berakidah Asyariyyah. Bagi sobat rumah-muslimin yang suka menulis, yuk kirimkan tulisannya ke email kami di dakwahislamiyah93@gmail.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close