PEMBAHASAN MAKRIFAT DI MEDIA SOSIAL SESAT, INI PENJELASANNYA
RUMAH-MUSLIMIN.COM | TASAWUF - Di tengah derasnya arus informasi digital saat ini, pembahasan keagamaan termasuk tasawuf dan makrifat mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Platform seperti TikTok, YouTube, dan Facebook menjadi ruang bebas bagi siapa saja untuk berbicara tentang agama, tanpa selalu dibarengi dengan kapasitas keilmuan yang memadai. Akibatnya, tidak sedikit pemahaman yang tersebar justru menyimpang dari ajaran yang lurus, khususnya dalam hal makrifat dan tasawuf.
Fenomena ini kemudian memunculkan kegelisahan di kalangan ulama, salah satunya disampaikan oleh Abdul Wahab Ahmad. Beliau menyoroti bagaimana pembahasan makrifat yang beredar di media sosial kerap kali tidak memiliki dasar yang kuat dalam tradisi keilmuan Islam yang otoritatif.
“Pembahasan makrifat ala medsos, di TikTok, YouTube, FB dsb hampir semuanya sesat. Kalau Wahabi menyerang mereka, maka Aswaja harus bantuin wahabinya. Kalau Wahabi menyerang mereka atas nama menyerang Tasawuf, maka biarin saja sebab Tasawuf ala medsos itu sesat karena itu bukan jalan tasawuf yang benar yang dibela Aswaja.
Kalau ada orang yang mengagumi pembahasan makrifat ala medsos, berarti orangnya masih belum nyampe, belum mencicipi ilmu yang asli. Dia seperti lalat yang menemukan air comberan lalu jatuh cinta pada rasanya kemudian merasa kagum pada dirinya yang seolah menemukan air sejati yang tidak diminum oleh manusia lainnya. Padahal manusia lainnya tidak meminum itu sebab tahu itu hanya comberan.”Tulis Kyai Abdul Wahab Ahmad
Tulisan Kyai Abdul Wahab Ahmad ini menyoroti fenomena makrifat ala media sosial, misalnya di platform seperti TikTok, YouTube, dan Facebook. Menurut beliau, sebagian besar pembahasan makrifat di media sosial ini tidak sesuai dengan tasawuf yang asli bukan hanya berbeda gaya atau metode, tetapi menyimpang dari ajaran sufi yang benar, yang memiliki sanad keilmuan, guru yang membimbing, dan praktik spiritual yang autentik.
$ads={1}
Beliau juga menyinggung sikap Aswaja terhadap kritik dari pihak lain, khususnya Wahabi. Bila serangan dilakukan karena konten tersebut sesat, Aswaja tidak perlu ragu mendukung tindakan itu, karena yang diserang memang sesuatu yang salah. Namun, jika serangan dilakukan atas nama “menyerang tasawuf,” maka biarkan saja. Hal ini karena tasawuf ala medsos bukan tasawuf yang sebenarnya, sehingga tidak layak dibela atas nama menjaga tradisi sufi yang benar.
Selanjutnya, Kyai menekankan bahwa orang yang mengagumi pembahasan makrifat ala medsos belum memahami ilmu tasawuf yang asli. Ia menggunakan perumpamaan lalat yang menemukan air comberan: orang tersebut merasa telah menemukan sesuatu yang luar biasa, padahal hakikatnya itu adalah sesuatu yang kotor dan tidak layak dikagumi. Pesan moralnya jelas: jangan mudah terpesona oleh klaim spiritual instan, karena makrifat sejati memerlukan bimbingan, latihan, dan kedalaman hati.
Intinya, tulisan ini merupakan peringatan untuk lebih selektif dalam menerima ilmu spiritual, terutama yang tersebar di media sosial. Tasawuf sejati bukan soal viralitas atau sensasi, melainkan proses panjang membersihkan hati, berlatih akhlak mulia, dan mendekatkan diri kepada Allah. Sementara itu, tasawuf ala medsos hanya menimbulkan kekaguman dangkal, tanpa membawa perubahan batin yang nyata.
Sumber: Kyai Abdul Wahab Ahmad
Editor: Rumah-muslimin/Hendra,s
(Rumah Muslimin)

