Taubat Kewajiban Seorang Hamba


Taubat, Kewajiban Seorang Hamba 

Guru Mulia Al-Habib Umar bin Hafidz.:

"Kewajiban bertobat tampak jelas dalam berbagai ayat. Hadis dan ucapan salaf. -- Orang yang mata hatinya terbuka dan bersinar terang laksana mentari, ia dapat melihat kewajiban bertobat sejelas-jelasnya (walau seandainya tidak ayat maupun Hadis yang menjelaskannya). --- Sedangkan orang-orang yang mata hatinya belum terbuka, jiwanya belum bening (bersih), dan cahaya pemahamannya belum bersinar, ia baru dapat melihat kewajiban bertobat tersebut setelah mendengar berbagai ayat dan Hadis.

Sesungguhnya ada salik yang tuna netra (buta) yang membutuhkan seorang penuntun untuk membantunya berjalan dan ada pula salik yang sehat penglihatannya, ia hanya perlu diberi petunjuk di awal langkahnya dan kemudian ia mampu berjalan sendiri.

Begitu pula dalam menempuh jalan Agama, di antara manusia ada yang terbatas kemampuannya, yang dalam setiap langkahnya harus bertaklid serta mempelajari ayat-ayat Al-Quran atau Hadis Rasulullah saw, di mana terkadang ia mengalami kesulitan dan akhirnya kebingungan. ---- Orang yang semacam ini, meskipun berusia panjang, dan kuat usahanya, maka ia masih terbatas dan langkahnya pendek.

Di antara manusia ada pula orang yang sa’id (beruntung;berbahagia), orang yang hatinya dilapangkan oleh Allah untuk memeluk Agama Islam dan ia berjalan di atas cahaya Allah. --- Bagi orang semacam ini, dalam perjalanannya menuju Allah, petunjuk kecil saja sudah mampu menyadarkannya.

Meskipun jalan yang ia tempuh penuh rintangan, berliku-liku dan melelahkan, sedikit petunjuk kecil telah mampu membimbingnya untuk menempuh jalan tersebut. Karena memiliki cahaya hati yang begitu kuat, ia mampu mengambil petunjuk dari sedikit penjelasan yang disampaikan kepadanya, seakan-akan ‘minyaknya‘ hampir menyala meskipun belum disentuh api. Dan apabila telah disentuh api maka ia adalah cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki.

Orang yang demikian keadaannya, ketika ingin bertobat, maka dengan cahaya mata hatinya ia mampu melihat hakikat tobat serta maksud dari kewajiban bertobat, sehingga ia tidak lagi meragukan kepastian kewajiban bertobat.

Ia mengetahui bahwa yang dimaksud dengan kewajiban adalah sesuatu yang dapat mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan abadi dan menyelamatkannya dari kehancuran abadi. Dan di negeri kekekalan tidak ada kebahagiaan kecuali dalam perjumpaan dengan Allah Ta’ala, kedekatan dan keridhaan-Nya. Dan setiap orang yang terhijab dari Allah adalah orang yang celaka.

كلا إنهم عن ربهم يومئذ لمحجوبون .15 . ثم انهم لصال الجحيم .16

Sekali-kali tidak, Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka. Kemudian, Sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. (Al-Muthaffifin, 83:15-16)

Wallahu a'lam Bishowab

Allahumma Sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa Shobihi wasalim
  

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama