Sabtu, 19 Mei 2018

Dusta Termasuk Dosa Besar

Rate this posting:
{[['']]}


DUSTA TERMASUK DOSA BESAR

Oleh : K.H Abdi Kurnia Djohan

Di dalam ajaran Islam, dusta masuk ke dalam kategori dosa besar-jika menggunakan standar Imam Ibnu Hajar al-Haitsami rahimahullāh. Dimasukkannya dusta ke dalam kelompok dosa besar dikarenakan kerugian yang muncul karena perilaku dusta. Kerugian yang lebih besar adalah ketika dusta menyebabkan masyarakat terperosok ke dalam jurang kesengsaraan.

Allah dan Rasul-Nya sangat memerangi dusta. Dan tidak pernah dilakukannya dusta, menjadi jaminan bahwa risalah (ajaran) yang dibawa Muhammad bin Abdullah sholla Allāhu alayhi wa sallam, adalah ajaran yang benar.

Pengakuan itu datang dari Heraklius, Kaisar Romawi Timur ketika bertanya kepada Abu Sufyan:

" Orang ini (Muhammad) mengaku sebagai seorang Nabi dan Utusan Allah. Pernah kamu melihatnya berdusta?"

Abu Sufyan menjawab, " yang kami tahu sejak beliau kanak-kanak, hingga usianya saat ini (53 tahun), beliau tidak pernah dikenal sebagai orang yang suka berdusta. Bahkan kami mengenalnya sebagai orang yang jujur."

Lalu Heraklius menimpali, " kalau begitu, benar bahwa dia adalah utusan Tuhan".

Tidak adanya dusta yang melekat di dalam kehidupan Rasulullāh dibuktikan dari candaannya yang sama sekali tidak dihiasi dengan dusta. Said Hawwa Rahimahullāh di dalam karyanya Arrasul mengutip bagaimana candaan Rasulullah.

" Suatu waktu, Rasulullah didatangi seorang perempuan yang mengadu karena dimarahi suaminya. Rasulullah pun menyarankan agar perempuan memperhatikan apakah suaminya itu mempunyai biji putih di kedua matanya. Sang perempuan pun kembali ke rumah, dan melakukan apa yang disarankan Rasulullah. Di saat sang perempuan memperhatikan mata suaminya, sang suami bertanya kenapa ia begitu antusias memperhatikan wajahnya. Sang perempuan pun menjawab bahwa ia hanya melakukan saran Rasulullah dan bertanya apakah sang suami mempunyai biji putih di matanya. Sang suami tertawa mendengar jawaban istrinya itu. Keduanya saling tertawa karena rupanya Rasulullah telah mendorong mereka untuk berdamai."

Ketidaksukaan Rasulullāh terhadap perilaku dusta adalah karena dusta seseorang dapat disiksa:

وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ

Bagi mereka siksa yang menyakitkan, disebabkan mereka berdusta (Qs al-Baqarah:10)

Rasulullāh bahkan mengidentifikasi dusta sebagai sifat orang-orang munafik:

اَربَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَان مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: اِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَاِذَا حَدَثَ كَذَبَ وَاِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَاِذَا خَاصَمَ فَجَرَ ( رواه البخاري ومسلم والترمذي عن عبد الله بن عامر رضي الله عنه)

Empat perkara bila terdapat pada diri seseorang, maka ia adalah seorang munafik tulen. Dan siapa yang pada dirinya ada satu saja dari sifat itu, maka ia termasuk munafik sampai ia meninggalkannya yaitu apabila diberi amanah, khianat, apabila bicara berdusta, apabila berjanji, ia ingkar dan apabila bermusuhan, ia akan menista lawannya. (Riwayat al-Bukhari, Muslim dan Attirmidzi dari Abdullah bin Amir Radhiyallāhu anhu)

Mari kita periksa diri kita masing-masing, apakah dusta masih menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Jika tidak mau disebut munafik, mari kita berhenti berdusta.

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar