Memandang Penindas Sebagai Saudara


Memandang Penindas Sebagai Saudara

Habib Ali jifri : Nabi Muhammad saw, berkata "bantulah saudaramu, saat dia menjadi penindas ataupun saat dia tertindas".

Para sahabat bertanya, " Bagaimana caranya kami membantunya saat dia adalah sang penindas?"

Rasulullah saw membalas "Cegahlah dia" (sahih Bukhari)
Kebanyakan kita sudah akrab dengan kata-kata rasululah saw ini, namun saya ingin mengajak kita untuk fokus pada kata-kata yang sering kita dengar saat kita membaca hadis ini tapi jarang dikaji.

yaitu kata kedua, saudaramu(akhaka). ya rasulullah apakah mungkin saya menganggap seorang penindas sebagai seorang saudara?! IYA..karena jika kamu tidak memandangnya dengan cara demikian kamu tidak akan bisa mencegahnya dari penindasan yang dia lakukan. Mencabut pohon penindasan dari jiwa adalah pekerjaan berat dan leih sulit dibanding menghilangkan/mencabut penindasan dari muka bumi. Menghilangkan penindasan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang penuh kasih sayang.

Makna ini berhubungan dengan realitas kasih sayang. Jika kasih sayang tidak ada di hati maka kasih sayang Allah swt 
tidak akan diberikan/diturunkan.

Suara kebencian, dan hasutan banyak terdengar akhir-akhir ini. masing-masing pihak menyakiti satu sama lain, dan tidak sekedar saling menumpahkan darah, namun juga dalam pergaulan sehari-hari.

Saya membicarakan keadaan saat masing-masing pihak merasa sebagai pihak yg membela kebenaran. Kebenaran hanya diberikan kepada orang yang hatinya mendahulukan Allah swt daripada dirinya sendiri. Saat mereka membela kebenaran mereka meneladani cara rasulullah saw.

Dengan berdiri diatas panggung dan menyebut nama orang2 tertentu dengan sikap merendahkan mereka(melaknat dengan mengatakan mereka tidak berada dalam kebenaran), bukan berarti kita membela kebenaran. Bukan begini cara nasehat diberikan, dan bukan begini pula cara membela kebenaran.

Marilah kita berpisah dari majelis ini dengan merenungkan ayat Allah "bahwa orang2 yg akan selamat hanyalah orang yang datang kepada Allah swt dengan hati bersih" (26:89)

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholi 'ala sayidina muhammad nabiyil umiyi wa 'ala 'alihi wa shohbihi wa salim

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama