Habib Nabiel Bercerita Tentang Manaqib Habib Munzir Al-Musawa


Habib Nabil bin Fuad Al-Musawa (Habib Ir Nabiel Fuad Al Musawa, M Si,) bercerita tentang Manaqib dari pada Shulthonul Qulub Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa

Habib Nabil mengatakan bahwa beliau menerapkan kelembutan dalam berdakwah. Metode dakwahnya adalah kelembutan, sehingga membuat banyak orang bersimpati kepada beliau. Berkat kelembutan dan kesantunan beliau, jamaahnya dalam Majelis Rasulullah SAW makin bertambah banyak,

Beliau juga menggunakan metode dakwah dengan cara menyentuh hati para jamaah. Dakwah baliau timbul dari hati, tanpa ada perlakuan dan perkataan kasar. Hal inilah yang membuat guru beliau Al'-'Allamah Al-Habib Umar bin Hafidz sangat kagum kepada beliau, dan menjuluki Habib Munzir sebagai "Shulthonul Qulub" (Sang Raja Sanubari). Julukan ini tentu bukan julukan sembarangan, melainkan hanya didapatkan oleh orang yang benar-benar bisa menguasai hati dan sanubari manusia, salah satunya adalah Al-Habib Munzir.

Beliau memliki cita-cita untuk menjadikan kota Jakarta sebagai KOta Sayyidina Muhammad SAW. Semasa hidup, beliau sangat istiqomah untuk mewujudkan cita-citanya tersebut. Untuk tujuan dan cita-cita mulia ini, beliau kemudian menyulut semangat teman-teman seperjuangan alumni angkatan pertama Darul Musthoda untuk mendirikan majlis dan berjuang bersama dalam berdakwah.

Berkat keistiqomahan dan keikhlasan beliau, Dakwah nya makin meluas hingga jutaan jamaah, serta menyentuh semua kalangan dari berbagai wilayah, mulai dari Jabodetabek, Jabar, Banten, Jateng, Jatim, Bali, Mataram, Kalimantan, Sulawesi, sampai ke Papua.

Seperti sudah diberi isyarat dalam mimpinya bahwa ia akan wafat di usia 40 tahun. Beliau menuturkan mimpinya sebagai berikut :

“Rasulullah SAW menghibur saya dalam mimpi jka saya sedih memikirkan ummat, suatu waktu saya mmpi bersimpuh dan memeluk Rasullah SAW dan berkata wahai Rasulullah SAW aku rindu padamu, jangan tinggalkan aku lagi, biar Allah butakan saja mataku ini asal aku bisa jumpa denganmu, atau Allah matikan aku sekarang, aku tersiksa di dunia ini sebab kerinduan yg amat sangat padamu." Di akhir2 sy bermimpi Rasulullah SAW menepuk bahu dan berkata : "Munzyr tenanglah, sebelum usiamu mencapai 40 tahun kau akan berjumpa dengan diriku. ”

Habib Munzir wafat pada 15 September 2013, setelah ditemukan tak sadarkan diri dirumahnya dan langsung dilarikan ke RS Cipto Mangunkusumo, berselang 2 jam kemudian. Setelah menjalani pemeriksaan medis, dokter menyatakan bahwa ia telah tiada, menurut hasil pemeriksaan, Habib Munzir meninggal sb serangan jantung.

Sebelum wafat Habib Munzir jg pernah dioperasi karena ada cairan diperutnya. Penyakit tersebut sempat menganggu aktivitas beliau dalam berdakwah. Meskipun sedang dirundung sakit, soal urusan dakwah, Habib Munzir, menurut kakaknya Habib Nabil, tak pernah memikirkan sakit. Sungguh banyak Tauladan yang patut untuk kita tiru dari sosok tokoh yg hidupnya penuh dengan perjuangan dan cinta yang luarbiasa pada dakwahnya Nabi SAW.

Semoga kita semua dapat meneruskan perjuangan dakwah beliau terutama untuk mewujudkan cita-cita beliau, yaitu menjadkan kota Jakarta Sebagai Kota Sayidina Muhammad SAW. Aamiin ya Rabbal 'Alamiin.

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim
  

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama