Rabu, 18 September 2019

Menghindari Fanatik Golongan (Ashobiyah) Dengan Akhlakul Kharimah

Rate this posting:
{[['']]}

MENGHINDARI FANATIK GOLONGAN (ASHOBIYAH) DENGAN AKHLAKUL KHARIMAH

RUMAH-MUSLIMIN -  Sahabat Rumah Muslimin. Seperti yang kita ketahui, Bahwa didalam agama islam disebutkan oleh Nabiyuna Muhammad SAW. Bahwa Islam akan terbagi menjadi 73 Golongan, Seperti sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam melalui riwayat Imam Thabrani sebagai berikut : 

افترقت اليهود على إحدى أو اثنتين وسبعين فرقة ، وافترقت النصارى على إحدى أو اثنتين وسبعين فرقة ، وستفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة، الناجية منها واحدة والباقون هلكى. قيل: ومن الناجية ؟ قال: أهل السنة والجماعة. قيل: وما السنة والجماعة؟ قال: ما انا عليه اليوم و أصحابه »

“orang-orang Yahudi bergolong-golong terpecah menjadi 71  atau 72 golongan, orang Nasrani bergolong-golong menjadi 71 atau 72 golongan, dan umatku (kaum muslimin) akan bergolong-golong menjadi 73 golongan.  Yang selamat dari padanya satu golongan dan yang lain celaka. Ditanyakan ’Siapakah yang selamat itu?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Ahlusunnah wal Jama’ah’. Dan kemudian ditanyakan lagi, ‘apakah assunah wal jama’ah itu?’ Beliau menjawab, ‘Apa yang aku berada di atasnya, hari ini, dan beserta para sahabatku (diajarkan oleh Rasulullah SAW dan diamalkan beserta para sahabat)’
Dimana Ahlusunnah wal jama'ah yang dipahami oleh menurut para ulama adalah mereka yang mengikuti mahdzab Imam As Syafi'i, Hanafi, Maliki Wal Hanbali. Dan berpegang teguh pada akidah Asy'ariyyah wal Maturudiyah.
  
Orang-orang yang berjalan diatas Manhaj Ahlusunnah Wal Jama'ah, Insya Allah mereka termasuk golongan orang-orang yang selamat di dunia dan di akhirat. Sanad-sanad keilmuan guru-guru kita tentunya bersambung hingga Rasulullah SAW. Namun dibalik itu, walaupun manhaj Aswaja adalah mayoritas golongan di seluruh dunia, Tapi banyak pula perbedaan pendapat dalam urusan Khilafiyah wal Furu'iyah dikalangan Ahlusunnah Wal Jama'ah. 
Perbedaan ini terjadi karena para Ulama Aswaja yang mengambil " Kutipan/Kitab/Kalam " dari ulama yang berbeda pendapat tentunya.
Menyikapi hal ini, Kita sebagai muslim tentunya harus mengikuti apa kata guru yang kita ikuti dalam berependapat (berfatwa), Oleh sebab itu perlu khidmat disuatu majelis atau belajar kepada seseorang guru yang memiliki tarekat (jalan) yang serupa, Berharap agar apa yang kita pelajari teruslah sama dan tak berbeda dalam memahami agama ini dengan baik.
Namun, Akhir-akhir ini gesekan-gesekan antara sesama ulama ahlusunnah wal jama'ah terus terjadi karena adanya perbedaan pendapat diantara kalangan para ulama. Hal ini menyebabkan retaknya hubungan yang selama ini telah terjalin sebagaimana mestinya, Keretakan ukhuwah islamiyah terus terjadi dan tidak berhenti hingga saat ini.
Hal ini di picu karena adanya perbedaan pendapat dan para petinggi ulama aswaja tidaklah ada sedikitpun inisiatif untuk melakukan musyawaroh untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi hingga saat ini. Bahkan cenderung mereka sendiripun ikut perseteruan didalamnya. Budaya tabayun hilang dikalangan umat, Caci makian terus dilakukan, Laknat melaknatpun dilontarkan, Bahkan su'ul adab kepada para Habaib dan ulamapun tak segan mereka lakukan.
Pristiwa ini akan terus berlanjut jika para pemuka agama tidak ada sedikitpun bermusyawarah dan melahirkan kesepakatan yang menyejukan umat. 

Didalam hadist Riwayat Muslim, Rasullullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 

“Seorang muslim itu bersaudara terhadap muslim lainnya, ia tidak boleh menganiaya dan menghinanya. Seseorang cukup dianggap berlaku jahat karena ia menghina saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim).
Berpegang teguh pada hadist ini perlu kita lakukan, Agar lisan kita ini terselamatkan dari api nerakanya Allah SWT. Sesama muslim adalah saudara, namun saat ini dikalangan umat muslim, Muslim itu bukan saudara baginya, namun musuh yang seakan-akan harus diperangi dan dihabisi. 
Inilah yang terjadi jika para ulama tidak mengorganisir umatnya secara baik, Apalagi mereka yang turut serta berseteru didalamnya.
Sebagai muslim tentunya kita tidak boleh berashobiyah (fanatik golongan), Kita harus dapat membedakan mana yang HAQ (benar) dan mana yang BATHIL (salah). Tentunya sesuai dengan manhaj Ahlusunnah Wal Jama'ah yang tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah.

Maka kita yang telah hidup di zaman yang penuh fitnah seperti saat ini, Teruslah berpegang teguh pada talinya Allah SWT. Teruslah menjaga tali silaturahim dengan baik, walaupun itu dengan orang yang tidak sependapat dengan kita, Tentunya dengan kekonsitensian kita dalam memegang fatwa/pendapat ulama yang kita ikuti.  
Ketika mereka caci maki, dan menghina kita. Maka biarlah, jangan turut berlarut didalamnya. Jikalah demikian, apa bedanya kita dengannya?, Menasehati dan Berdo'a adalah jalan terbaik yang harus kita lakukan. 
Persaudaraan semakin lama semakin memburuk, Entah sampai kapan. Apakah hingga Imam Mahdi As datang? Wallahu a'lam Bishowab.
Berharap persaudaraan negeri ini menjadi membaik, Bukan karena terbelahnya negeri ini. Tapi karena kelapangan dada mereka (setiap muslim) yang menerima segala perbedaan yang ada.
Wallahu a'lam Bishowab
Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim
dakwahislamiyah93@gmail.com
  
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar