Wednesday, September 16, 2020

Riwayat Singkat Awal Bani Alawi dan Para Tokohnya

Rate this posting:
{[['']]}


RIWAYAT SINGKAT AWAL BANI ALAWI DAN PARA TOKOHNYA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Bani Alawi adalah salah satu cabang dari keturunan Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian tidak semua keturunan Nabi Muhammad itu Bani Alawi. Sebelum diuraikan tentang Bani Alawi, perlu dijelaskan secara singkat tentang keturunan Nabi Muhammad Pada umumnya.

Keturunan Nabi Muhammad berasal dari dua cucu beliau, Al-Hasan dan Al-Husein, yang lahir dari perkawinan putri kesayangan beliau, Sayyidah Fathimah Az-Zahra dengan Imam Ali bin Abi Thalib. Keturunan Al-Hasan yang umumnya disebut syarif ( bentuk jamaknya asyraf ). banyak tersebar di Timur Tengah dan Afrika Utara, sedangkan keturunan Al-Husein yang umumnya ddisebut sayyid ( bentuk jamaknya sadah), banyak tersebar di Timur Tengah dan Timur Jauh, serta Asia Tenggara. Sedangkan Indonesia lebih dikenal dengan sebutan habib atau kata jamaknya Habaib.

Keluarga sadah atau habaib yang ada di Indonesia hampir seluruhnya berasal dari keturunan Alwi bin Ubaidilah bin Ahmad (Al-Muhajir) bin Isa ar-rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-Uraidhi bin Ja'far Ash-Shadiq bin Muhammad Al Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali (Ibn Abi Thalib) dan Sayyidah Fathimah Az Zahra, binti Rasulillah Muhammad SAW.

Baca Juga :

Situs Peninggalan Rasulullah SAW Dihancurkan, Rumah Lawrence ( Agen Inggris ) Di Renovasi

Kisah-Kisah Masjid Ditutup Karena dilanda Wabah

Kisah Habib Ali Al Jufri Bertemu Dengan Seorang Atheis

Imam Ahmad bin Isa sikap dan akhlaknya sama dengan para sesepuhnya. Beliau seorang yang alim, amin (mengamalkan ilmunya), hidup bersih dan wara'. Beliau menguasai ilmu-ilmu zhahir dan ilmu-ilmu futuhat al-bathin, hidup terhormat dan disegani, mempunyai kedudukan yang terpandang di Iraq dan memiliki kekayaan yang cukup banyak.

Imam Ahmad bin Isa yang lebih dikenal dengan panggilan Al-Muhajir hidup di Bashrah, di zaman kekuasaan Bani Abbas atau kekhalifahan Abbasiyah. Beliau seorang imam yang sangat dihormati, hidup di zaman dimana banyak para imam yang sangat masyhur seperti Imam Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Ishaq, dan juga para imam Ahlul Bait yang lain.

Sedangkan di Bashrah ada Ibnu Al-Qazzaz, Ash-Shan'ani, Al-Haratsi, dan Muhammad bin Ahmad al-Bishri yang wafat tahun 327H. Lalu kemudian datang di bashrar al-Mas'udi dan Ath-Thabari. Dengan demikian Imam Ahmad bin Isa hidup di zaman yang penuh hal-hal yang saling bertentangan.

Di satu sisi, majunya berbagai ilmu, diantaranya fiqih, tafsir, adab/sastra dan ilmu filsafat, dan di sisi yang lain terjadi pristiwa-pristiwa politik berdarah, ketakutan, kekhawatiran, dan suasana yang penuh dengan fitnah dan pertentangan.

Kondisi yang demikian diperburuk dengan pemberontakan kaum Qaramithah dan serangan mereka atas Bashrah di tahun 310 H ( 922 M ), yang membuat orang-orang yang sabar pun tidak mampu lagi bersabar. Ketika mereka memasuki Bashrah,  Imam Ahmad bin Isa sedang berada di tengah-tengah keluarga dan saat itu penduduk Bashrar berada dalam kegelisahan dan kekhawatiran sebagaimana disampaikan oleh sahabat beliau, Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Karena keadaan tidak memungkinkan lagi untuk tetap tinggal di sana, dan ia yakin bahwa berangkat berhijrah pada saat itu merupakan pilihan yang terbaik, maka ia memutuskan untuk meninggalkan Iraq. Ia meninggalkan sebagian hartanya dan sebagian anak-anaknya.

Sebenarnya kehidupan Imam Ahmad di Bashrah saat itu sangat terhormat dan menikmati beberapa keistimewaan, disebabkan beliau adalah pemimpin keluarga al-Uraidhiyah, yang dinisbahkan kepada Al-Imam Ali al-Uraidhi. Selain itu, ia dan ayahnya adalah naqib para syarif. Mereka berdua juga imam dan pemuka besar orang-orang Bashrah, serta merupakan bintang-bintang ulama pada masanya. Walaupun demikian ia telah mengambil keputusan yang kuat, untuk meninggalkan Iraq dan berhijrah, dengan tujuan awal ke Madinah.

Pada tahun 317 H (929 m), di masa pemerintahan al-Muqtadir Billah (290-320H/903-932 M), Berangkatlah Imam Ahmad bin Isa dengan istrinya, Zainab binti Abdullah bin al-Hasan bin Ali al-Uraidhi, juga anaknya, Ubaidillah bin Ahmad serta istrinya, Ummul Banin binti Muhammad bin Isa, dan cucu beliau Ismail, yang diberia gelar "Ibn Ubaidillah", serta diikuti oleh 70 Orang pengikutnya, sedangkan saudaranya, Imam Muhammad bin Isa, serta sebagian dari anak-anaknya yaitu Muhammad Ali, dan Hasan bersama keluarga mereka, tetap tinggal di Bashrah, Iraq. Kafilah besar ini berjalan mengendarai unta melalui jalan darat, karena masa itu tidak ada perjalanan lewat laut, melewati daerah Syam (Syria) yang jauhnya mencapai 712 mil.

Setelah Imam Ahmad al-Muhajir sampai di Madinah, dan menetap di sana selama satu tahun, masuklah orang-orang Qaramithah ke Mekkah di bawah pimpinan Abu Thahir bin Abi Said, pada tanggal 17 Dzulhijjah 317 H ( 25 jANUARI 930 M ) mereka mencabut Hajar Aswad ini kosong. Selama itu orang-orang yang tawaf meletakkan tangannya untuk tabarruk di bekas tempat Hajar Aswad selama 22 Tahun. Pada tahun 318 H ( 931 M ) Imam Ahmad bin Isa menuju Mekkah untuk menunaikan ibadah haji bersama keluarganya. Di sana beliau mendengar apa yang telah dilakukan orang-orang Qaranuthah dan mendengar pula berkembangnya orang-orang khawarij di Jazirah Arab Selatan. Dengan adanya hal tersebut, beliau memutuskan berangkat ke Yaman melewati daerah Hijaz, Asir, dan sampai ke Yaman. Lalu beliau masuk terus ke arah timur, yaitu ke daerah Hadramaut.

Mengenai Hijrahnya Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir ke Hadramaut, al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam bukunya, Rsialatul Muawanah, mengatakan Imama Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali Ar-Uraidhi bin Imam Ja'far ash-Shadiq, ketika menyaksikan munculnya bid'ah, pengumbarang hawa nafsu dan perbedaan pendapat yang makin meruncing, maka beliau hijrah dari negerinya (Iraq) ke Madinah, dan kemudian berlanjut sampai ke Hadramaut. Setelah itu beliau tinggal di sana hingga wafat.

Mengapa Imam Al-Muhajir memilih Hadramaut dan tidak pergi ke Khurasan yang hijau, atau tinggal di Hijaz atau di daerah Yaman selain Hadramaut, sebagaimana anak-anak pamannya tinggal? Mengapa tidak tinggal di Mesir yang hati penduduknya selalu beserta Ahlul Bait sejak permulaan Islam? Mengapa pula tidak tinggal di Sind Hindia yang banyak terdapat keluarga Abu Thalib dan pengikut mereka? Apakah beliau sengaja pergi untuk benteng terhadap orang-orang Qaramithah yang telah maju menguasai Amman, atau mengapa pula Imam Ahmad tidak masuk ke suatu negeri yang di sana terdapat kekayaan atau sesuatu yang lain yang memikat hatinya?

Tidak ada seorang pun yang mengetahui dengan jelas, mengapa Imam Ahmad  memilih tinggal di Hadramaut. Sebagian riwayat mengatakan bahwa beliau sebelum keluar dari Madinah, berziarah ke maqam Rasulullah SAW, dan beliau mendapatkan petunjuk ( bisyarah ) untuk hijrah ke Hadramaut dan tinggal di sana, menjaga anak keturunannya agar terhindar dari fitnah. Di Daeereah yang baru ini, beliau memulai dakwahnya, dengan lemah lembut dan menginfaqkan hartanya di Jalan Allah.

Makam Imam Ahmad bin isa al-Muhajir

Metode dakwah dengan pendekatan seperti ini, berharap menarik banyak orang-orang Khawarij yang semula menentang dan melawan beliau menjadi sadar dan akhirnya bertaubat di tangan beliau. Beliau wafat di Husaisah di tahun 345 H ( 956 Masehi ), Imam Ahmad mempunyai dua anak yaitu Ubaidillah dan Muhammad. Ubaidillah hijrah  bersama ayahnya ke Hadramaut, sedangkan Muhammad tetap tinggal di Iraq. Dengan maksud memperkuat keilmuannya, Imam Ahmad mengutus anaknya, Ubaidillah pergi ke Mekkah untuk belajar tasawuf, ilmu akhlak kenabian, dari guru besar Ahlu Sunnah, Al Imam Al Allamah Abu Thalib Al-Makki yang wafat tahun 386H (996 M).

Sumber : Buku Thariqah Alawiyah Tasawuf Bani Alawi yang ditulis oleh Sayyid Zen Umar Sumaith Hal 3-12

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

 

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment