Tasawuf Sebagai Dasar Thariqah Alawiyah

TASAWUF SEBAGAI DASAR THARIQAH ALAWIYAH

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Ketika Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir hijrah ke Hadramaut, beliau juga membawa ajaran tasawuf, serta berpegang pada akidah Ahlusunnah Wal Jama'ah dan Mazhab Syafi'i untuk berdakwah.

Walaupun demikian beliau juga tetap mengamalkan ajaran Ahlul Bait, ajaran para pendahulunya. Kemudian ajaran tasawuf mulai menyebar lebih luas pada masa anak beliau, Imam Ubaidillah bin Ahmad, dan terus meluas dari masa ke masa, sampai puncaknya pada zaman al-Ustadz al-A'zham al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba Alawi. Tasawuf berkembang seiring dengan bertambahnya keturunan al-Muhajir serta perkembangan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum.

Al-Faqih al-Muqaddam berguru kepada banyak guru besar dalam bidang ilmu fiqih dan tauhid, menghafal al-Qur'an, dan mendalami ilmu tasawuf, sehingga menjadi imam besar yang menjadi rujukan para ulama. Pada masa itu beliau mencetuskan ajaran tasawuf yang dikenal dengan Thariqah Alawiyah. Pendekatan ilmu fiqih dan tasawuf digunakan untuk memperkuat dakwah beliau.

$ads={1}

Nama beliau dikenal sampai ke Maghrib (Maroko) sehingga menarik perhatian seseorang tokoh sufi di sana, yaitu Syeikh Abu Madyan. Tokoh ini mengutus Syeikh Abdurrahaman al-Muq'ad untuk menemui al-Faqih al-Muqaddam untuk dijadikan salah satu muridnya. Sesampai di Mekkah  menuju perjalanan ke Tarim, Hadramaut, Syeikh Abdurrahman meninggal dunia. Sebelumnya beliau berpesam kepada Syeikh Abdullah Ash-Shaleh untuk meneruskan  amanat dan tugas dari gurunya. Maka atas nama gurunya yaitu Syeikh Abu Madyan, Syeikh Abdullah membai'at dan mengenakan khirqah berupa sebuah baju Sufi kepada al-Faqih al-Muqaddam. Walaupun setelah itu beliau menjadi tokoh sufi, namun beliau terus menekuni ilmu fiqih dan ilmu-ilmu lain.

Beliau berhasil memadukan konsep keilmuan dengan ajaran tasawuf. Sejak itu tasawuf banyak diikuti oleh masyarakat Hadramaut, terutama Bani Alawi.

Tasawuf menjadi metode dasar dakwah beliau yang menitikberatkan pada pendekatan akhlak dan kebersihan hati dalam mengajak orang berbuat baik. Beliau meninggalkan cara kekerasan dalam berdakwah. Dalam riwayat kekerasan dalam berdakwah. Dalam riwayat yang sangat terkenal, setelah beliau masuk dalam dunia tasawuf, beliau mematahkan pedangnya Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar tetap dijalankand engan cara pendekatan yang berbeda, seseorang menghindari kekerasan, sehingga banyak sekali orang yang tertarik dan berguru kepada beliau pada masa beliau ini sebenarnya telah dimulai pengenalan asas atau fondasi Thariqah Alawiyyah walaupun dengan cara yang tidak ketat. Utamanya adalah menyucikan diri dari penyakit hati, dan memantapkan ilmu tauhid dan fiqih sehingga gabungan ini menjadi cabang keilmuan yang sangat menarik pada masa itu.

Sebenarnya Thariqah Alawiyah sejalan dengan tarekat Sufi yang lain dalam metode rohani secara umum. Hanya saja ia memilih keistimewaan dengan sifat Salafiyahnya yang nyata, yaitu mengikuti segala yang ditempuh oleh para tokoh pendahulunya dan menekankan pengalaman ilmu yang merupakan tiang utamanya. Ungkapan yang lebih khusus diberikan oleh al-Imam Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih, "Salah satu thariqah sufi yang dasarnya adalah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW, induknya adalah penyaksian bahwa segala anugerah berasal dari Allah (Syuhudul-Minnah). Yang dimaksud adalah mengikuti nash dengan cara pandang khusus dan memurnikan tokoh agama (ushul) untuk mendekati pencapaian makrifat (wushul). Secara lahiriyah, thariqah ini merupakan bagian dari ilmu-ilmu agama dengan menjalankan amalan yang dianjurkan, dan secara  batinniah adalah mewujudkan kedudukan spritual (ahwal), serta, secara adab adalah menjaga rahasia, dan cemburu (ghirah) bila rahasianya terbuka. "

$ads={2}

Lebih jauh Imam Abdurrahman Bilfaqih menjelaskan, "Secara lahiriah, mengamalkan ilmu dengan bijak seperti yang diajarkan oleh Imam al-Ghazali. Sedangkan secara batiniah sama dengan yang diterangkan oleh Thariqah Syadziliyah, yaitu tahqiq al-haqiqah wa tajrid at-tauhid (mewujudkan hakikat dan mengupas tauhid ) yaitu tasawuf dzauqi, dalam kandungannya berupa maqamat rohani yang tinggi dalam berhubungan dengan Allah SWT serta menghapus sifat kemanusiaan yang dimiliki agar dapat menyaksikan fenomena-fenomena ketuhanan. Itulah puncak perjalanan para salik yang disebut as-Syar Fillah (perjalanan di jalan Allah). Muhajadah mereka yang paling besar adalah bersungguh-sungguh dalam menyucikan hati. Thariqah ini memiliki keistimewaan dengan menjauhkan diri dari penampilan yan berlebihan sebagaimana yang terdapat pada sebagian thariqah tasawuf yang lain, karena inti Thariqah Alawiyah adalah mewujudkan makna suluk batin, seperti ikhlas, tawakal, zuhud, perhatian terhadap kehidupan akhirat, dan tetap memegang adab sebagaimana yang diajarkan oleh Imam al-Ghazali, serta selalu menuntut ilmu dan mengamalkannya.

Thariqah Alawiyah memiliki keistimewaan yaitu di samping sebagai metode dalam tarbiyah (pengajaran) dan suluk, ia juga merupakan unsur utama menyebarkan Islam dan masuknya orang-orang ke dalam agama ini secara berbondong-bondong pada wilayah geografis yang sangat luas. Melalui India, menuju Malaysia, Burma, Indonesia, Filipina, Sri Langka, dan hampir seluruh Asia Tenggara, Pantai Timur Afrika, dan sebagainya.

Thariqah ini juga bersifat terbuka dan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan masyarakat yang mengamalkannya. Faktor ini memeberikan andil yang besar dalam penyebaran yang cepat ke berbagai bangsa dengan masuknya unsur adat istiadat lokal yang bisa diterima, tanpa  mengorbankan prinsip-prinsip agama atau asas yang menjadi pilar didalam tarekat ini. Dengan berjalannya waktu dari satu generasi ke generasi berikutnya, Thariqah Alawiyah diamalkan dan diajarkan oleh Syeikh Abudrrahman Saggaf bin Muhammad Maulad-Dawilah, dan dialnjutkan oleh anaknya, Syeikh Umar Muhdhar yang sangat terkenal dengan kedermewanann dan keilmuannya dan menjadi tokoh tasawuf di zaman itu.

Masjid Umar Muhdhor di Tarim

Menurut Muhammad bin Abu Bakar As-Sili, beliau adalah imam yang sudah mencapai derajat mujtahid mthlaq dalam ilmu syariat dan wafat ketika sedang sujud dalam shalat Dzuhur. Kepoknan beliau, Syeikh Abdullah Alaydruus (Al-Akabar) bin Abu Bakar as-Sakra, dan Ali bin Abu Bakar as-Sakran, keduanya sangat  terkenal sebagai ulama besar dalam ilmu syariat, tasawuf, dan bahasa. Mereka giat dalam berdakwah dan tekun dalam beribadah. Syeikh Ali bin Abu Bakar as-sakran menulis wirid yang terkenal dan sangat banyak dibaca orang hingga abad ke 21 ini.

Imam Abdullah al-Haddad menyebutkan bahwa beliau adalah salaf Al Ba Alawi terakhir yang harus ditaati dan diteladani. Generasi para tokoh sadah Al Ba Alawi diakhiri dengan tokoh tasawuf besar di zamannya yaitu Syeikh Abu Bakar bin Salim yang dikenal dengan Fakhrul Wujud. beliau seorang Wali Allah yang sangat tinggi ilmunya dan sangat dermawan. 

Makam Syekh Abu Bakar bin Salim, Inat, Hadramaut

Banyak qasidah yang berisi meunjat kepada Allah, serta bacaan doa yang berupa wirid yang disusun oleh beliau, di antaranya al-Wird al-Kabir dan al-Wird ash- Shagir. Syeikh Abu Bakar bin Salim mempunyai anak bernama Husein yang merupakan syeikh dan guru bagi banyak ulama di zaman itu.

Turun temurun ajaran ilmu syariat da tasawuf dari mulai zaman Al-Faqih al-Muqaddam, sampai abad  ke-11, disampaikan oleh para imam. Setelah masa itu tokoh Ulama al Ba Alawi tersebut mulai dikenal dengan sebutan habib. Di zaman itu salah seorang murid Habib Husein bin Syeikh Abu Bakar bin Salim yaitu Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas, seorang alim yang sangat tawadhu' dan ahli ibadah meneruskan ajaran yang dibawa oleh guurnya. Beliau menyusun Ratibul Attas yang sampai kini secara rutin dibaca dan diamalkan di berbagai tempat. Saat itu panggilan habib lebih dikenal sebab tokoh-tokoh tersebut sangat dicintai (mahbub) oleh murid-muridnya dan masyarakat di lingkungannya.

Qubah Makam Shohibur-Ratib Al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Attas

Habib Umar selalu didampingi oleh pembantu dekatnya yaitu Syeikh Ali Baras. Kecintaan Habib Umar kepada pembantunya ini luar biasa, sehingga ia berwasiat, jika ia telah wafat dan ada orang yang membacakan al-Fatihah untuk beliau, harus menyertakan nama Syeikh Ali Baras, selain itu, salah satu sahabat dan juga murid khusus beliau adalah al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad, seorang tokoh ulama Al Ba Alawi yang mempunyai daya pikir, daya ingat, dan kemampuan menghafal yang luar biasa. Beliau adalah tokoh sufi serta pembaharu di zamannya yang pemikirannya menjadi dasar tasawuf bagi keturunan Bani Alawi sampai masa kini.

Sejak kecil beliau sudah menghafal Al-Qur'an, menguasai ilmu syariat dan tasawuf, serta memiliki kemampuan bahasa yang tinggi. Karena kemampuan dan ketokohan beliau ini maka masyarakat memanggilnya Imam. Dari sinilah Thariqah Alawiyah disempurnakan dengan pola pengajaran yang lebih luas sehingga menjadi lengkap sebagai thariqah ammah, bisa diajarkan dan diamalkan oleh setiap insan muslim. Beliau adalah seorang pembaharu yang meletakkan lima dasar ajarna agar seseorang dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi.

Beliau juga menyusun doa dan dzikir yang dapat mengantarkan manusia menuju kekehidupan yang lebih tenang secara batinian dan terlindungi secara lahiriah. Doa dan dzikir tersebut berbentuk bacaan dan amalan pagi dan sore ang dikenal dengan nama Al-Wirdul-Lathif dan Ratibul Haddah. Walaupun Imam Abdullah bi Alawi Al -Haddad mempunyai keterbatasan dalam penglihatannya, tetapi mata hati beliau lebih tajam, sehingga pada era beliau ini, Mulailah dilakukan penulisan terhadap ilmu-ilmu agama, tasawuf dan syair-syair (diwan) yang berisi munajat kepada Allah dan nasehat yang tidak hanya ditujukan untuk Bani Alawi saja tetapi juga muslimin pada umumnya. Ia termasuk tokoh yang sangat prpoduktif dalam menulis banyak sekali kitab-kitab karangannya yang menjadi rujukan para ahli Tasawuf dan keluarga Alawiyin sampai kini. Di antara kitab-kitab beliau yang sangat popular adalah Risalah al Muawanah, ad-Da'wah at-Tammah, al-Fushul al-Ilmiyah, Tatsbitul-Fuad, an-Nsa'ih ad Diniyyah, dan lain-lain.

Selain anak belau yang bernama Habib Hasan bin Abdullah Al Haddad, beliau mempunyai tujuh orang murid yang terkenal ketokohannya. Murid utama Imam Haddad adalah al-Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi yang meneruskan pengajaran thariqah ini dan melakukan penyempurnaan serta mendefinisikan lima pilar pokok Thariqah Alawiah, yaitu ilmu, amal, wara', al-khauf, dan ikhlas, ke dalam pola pengajaran tasawuf yang lebih mudah untuk diamalkan. Murid keduanya adalah Habib Abdurrahaman bin Abdullah Bilfaqih, yang sangat dikenal sebagai seorang alim besar yang mempunyai andil besar dalam memberikan penjelasan tentang ajaran Imam al-Haddad.

Murid ketiga beliau adalah Habib Muhammad bin Zein bin Sumaith. Beliau penulis utama kitab-kitab tentang pemikiran dan nasehat-nasehat Imam al-Haddad yang sampai kini hasil tulisannya tersebar di masyarakat. Beliau berjasa besar dalam melestarikan ajaran Imam al-Haddad. Murid keempat adalah Habib Umar bin Zein bin Sumaith, yang merupakan adik Habib Muhammad bin Zein bin Sumaith. Ia adalah ayah dari al-Habib al-Quthb Ahmad bin Umar bin Sumaith. Murid kelima adalah Habib Umar bin Abdurrahman al-Bar. Murid keenam adalah Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf, dan murid ketujuh Habib Muhammad bin Umar bin Thaha ash-shafi Assegaf. Tidak berlebihan jika dikatakan penyebaran Thariqah Alawiyah sampai kini adalah hasil dari peran besar ulama-ulama ini.

Menurut Imam al-Haddad, salah satu makna dan pengertian tasawuf adalah mengganti penyakit hati dan akhlak yang rusak dengan keberishan hati dan akhlak yang terpuji. ini merupakan ringkasan makna tasawuf yang sederhana. Sebenarnya seorang bisa dikatakan sebagai sufi jika ia mampu mencapai tingkat ainul yaqin yang tinggi. Tetapi jika seseorang baru sampai pada tingkat mujtahid, ia baru mencontoh ahli tasawuf, tetapi belum sampai pada tahap seorang Sufi. Siapapun yang berusaha mengikuti mereka, tetapi belum sempurna usahanya, berarti ia telah mencontoh hal-hal yang baik, sebagaiman hadits Rasulullah SAW :

" Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia adalah bagian darinya " (HR. Abu Daud, at Tirmidzi, dan an-Nasa'i)

Sedangkan tingkat ihsan dalam pengertian tasawuf, yaitu sebagaimana dikatakan Rasulullah SAW dalam salah satu hadits :

" Bahwa engkau beribadah kepada Allah sepertinya engkau melihat Dia, dan jika engkau tidak bisa melihat-Nya sebenarnya Dia Melihat Engkau. "

Sebagaimana dikatakan oleh Al Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih, ilmu tasawuf dapat dibagi menjadi dua. Pertama, Ilmu ar'Raqa'iq dan ilmu al-Haqa'iq. Ilmu Raqa

iq adalah ilmu yang diamalkan, sedangkan ilmu Haqa'iq adalah ilmu batin yang mampu meneropong hati (mukasyafah).

Sedangkan yang keddua adalah Ilmu Ladunni, ialah ilmu yang diberikan dari Allah SWT tanpa suatu ikhtiar atau mujahadah yang lazim namun dengan tetap mengikuti proses belajar sebagai suatu kewajiban kepada orang-orang tertentu atau auliya yang berhati bersih, di antaranya berupa ilmu Ketuhanan atau Tauhid yang berhubungan dengan pemahaman sifat-sifat Allah dan dzat-Nya. Ilmu ini mampu memberikan pengetahuan yang luas, tentang ilmu dunia dan ilmu akhirat, dan ilmu tentang yang zahir dan batin.

Thariqah ini merupakan tarekat khsus berupa suatu perjalanan tasawuf sebagaimana diterangkan dalam kitab Qutul Qutub oleh Imam Abu Thalib al-Makki, dan Imam as-Suhrawardi, tentang Isyraq yang antara lain meyakini bahwa wacana filosofis merupakan bagian dari perjalanan spritual seseorang. Juga kitab Ihya Ulumuddin dan Minhajul Abidin Karya Imam al-Ghazali, yang keseluruhannya berdasar Al-Qur'an dan SUnnah. karya Imam al-ghazali Ihya Ulumuddin sangat terkenal, menjadi kitab rujukan tasawuf sampai kini, bahkan sebagian ulama mengatakan jika telah membaca dan mempelajari kitab ini, sudah tidak perlu lagi membaca kitab-kitab tasawuf yang lain. Salah satu dari ulama yang secara rutiin membaca dan mempelajari Ihya Ulumuddin adalah Syeikh Syu'aib Abu Madyan. Atas dasar konsep tasawuf para pendahulu ini, dasar-dasar Thariqah alawiyah dibuat, diperkaya dengan ajaran-ajaran para Imam Al Ba Alawi yang terdahulu.

Referensi :

- Kitab Yas-Alunaka fi ad-Din wa al-Hayat Jilid V Karya Syaikh Ahmad Asy'Syarbashi
- Dr. Idrus Alwi Masyhur, dalam buku Silsilah Suci Bani Alawi
- Al Allamah al -Habib Zein bin Ibrahim bin Sumaith dalam Al-Manhaj as-sawiy Ushul Thariqah as-sadah Al Ba'Alawi diambil dari kitab Iqdal-Yawaqit al-Jauhariyyah (33-44)
- Dr. Musthafa al-Badawi dalam kitab Al-Imam al-Haddad Mujaddid al-Qarn ats-Tsani Asyar al-Hijri.
- Dr. Abdurrahman bin Abdullah Assegaf dalam kitab Tabyin Ma'alim Thariqah as-Sadah al-Ba Alawi al-Akarim

Source : Dikutip melalui Buku Thariqah Alawiyah karangan Sayyid Zen Umar Sumaith

Editor Rumah Muslimin : Hendra, S

Demikian aritkel " Tasawuf Sebagai Dasar Thariqah Alawiyah "

Semoga bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aallihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama