Selasa, 27 Oktober 2020

Penyebab Rusaknya Ilmu Agama (Islam) Karena Dicampurnya Dengan Epistemologi Barat

Rate this posting:
{[['']]}

PENYEBAB RUSAKNYA ILMU AGAMA (ISLAM) KARENA DICAMPURNYA DENGAN EPISTEMOLOGI BARAT

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Di antara sebab rusaknya ilmu agama (Islam) adalah dicampurnya ilmu agama itu dengan epistemologi Barat. Percampuran itu ditandai dengan mengukur pemahaman pembelajar ilmu agama dengan gelar-gelar akademis versi Barat seperti Doktor, Ph.D, M.A, dan B.A atau S.Ag. 

Gelar-gelar itu berhasil memperdayai banyak orang. Sehingga tidak sedikit orang yang menyandang gelar itu menganggap cukup ilmu agama yang dimilikinya karena sudah meraih gelar akademik. 

Gelar-gelar itu yang membuat sebagian orang tidak pernah menyadari bahwa kualitas keilmuan mereka jauh di bawah para ulama masa lalu. Di sebuah ruang kelas, seorang doktor dengan enteng mengatakan bahwa seorang sarjana tidak boleh menerima begitu saja menerima pendapat ulama tafsir masa lalu. Alasan yang digunakan adalah kontekstualisasi yang digunakan sang ulama di dalam menafsir al-Qur'an itu tidak tepat. Namun anehnya, doktor itu menerima begitu saja penilaian minor Andrew Rippin, Jyunboll, atau Joseph Schacht terhadap para ahli tafsir Qur'an masa lalu, tanpa ada catatan kritis terhadap para peneliti itu. 

Baca Juga :

- Makna Rukun Iman dan Rukun Islam di dalam Al-Qur'an

Tentu ada dampak yang dihasilkan dari sikap tidak berimbang itu. Di satu sisi, para mahasiswa ilmu agama memperoleh keahlian di dalam menggunakan metodologi riset Barat. Tapi di sisi lain, keahlian itu menutup jalan mereka mendapatkan hikmah. 

Barat memang sukses mengembangkan kerangka berpikir. Tapi Barat juga gagal menemukan hikmah sebagai bagian penting dari kebenaran. 

Karena itu, bisa dikatakan beruntung sekali umat Islam pada masa lalu. Mereka mempelajari ilmu agama tanpa digelayuti oleh beban keharusan meraih gelar akademik. Karena bagi mereka, tujuan mempelajari ilmu agama itu adalah untuk mendapatkan pedoman hidup dan ridho Allah. Sebab itu, Imam Ahmad, Imam Assyafi'i, Imam al-Bukhari, dan para ulama lainnya bebas untuk mendapatkan ilmu tanpa dibatasi oleh gelar-gelar akademis. Kita lihat bagaimana Imam al-Bukhari masih bolak-balik Makkah-Baghdad untuk menghadiri Majelis Imam Ahmad. Padahal, waktu itu Imam al-Bukhari sudah dikenal sebagai guru besar di bidang hadits. Begitu pula dengan Imam al-Syafi'i yang merasa dirinya masih berstatus thālib (pelajar) padahal Imam Malik sering memintanya menjadi badal (pengganti) di Majelis al-Muwatta. 

Jika mengenang itu semua, alangkah bahagianya teman-teman yang dulu memilih belajar di Madrasah Assaqofah Bukit Duri, daripada belajar di sekolah formal. Betapa beruntungnya orang-orang yang pernah belajar di Madrasah Shoulatiyyah, Madrasah Darul Ulum, Madrasah Sayyid Muhammad al-Maliki di Makkah, Madrasah Habib Zein bin Smith Madinah, dan semua madrasah di Tarim Yaman...

Ditulis Oleh : KH. Abdi Kurnia Djohan melalui laman Facebooknya

Baca Juga :

Mencintai Habaib Sesuai Seleranya, Mencaci Maki Habaib Semaunya?

Perbuatan Tergantung Dengan Niatnya

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aallihi wa shohbihi wa salim

 

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar