Sabtu, 31 Oktober 2020

Salah Satu Upaya Untuk Menyamaratakan Semua Agama

Rate this posting:
{[['']]}

SALAH SATU UPAYA UNTUK MENYAMARATAKAN SEMUA AGAMA

Oleh : Gus Najih Ibn Abdil Hameed

Salah satu upaya untuk menyamaratakan semua agama, membenarkan semua agama, memposisikan semua ajaran agama sama sama berpotensi mengantar kepada kebenaran dan sama sama berpotensi salah, adalah dengan mendudukan Rasulullaah shallalahu alaihi wasalam sejajar dengan para tokoh pemikir lainnya. Aristoteles, Plato, Sidharta, Krisna, dan lainnya.

Mereka memuji setinggi tingginya sosok Muhammad ﷺ sebagai pemikir yang cerdik dan bijaksana, yang dari kecemerlangan pemikirannya itulah lahir agama baru bernama Islam. "Salah satu" agama yang bisa membawa manusia menuju kebenaran dan kebahagian sebagaimana agama agama lainnya. Menurut mereka.

Sungguh hal ini adalah upaya pemadaman Islam sebagai satu satunya jalan yang diturunkan oleh Allah untuk umat manusia. Sekali lagi, diturunkan oleh Tuhan pencipta alam.

Baca Juga : 

Teks bacaan dan Download Kitab Maulid Adhiya' Ullami lengkap dengan terjemahan

Bukti bahwa Islam bukan hasil pemikiran Nabi, bukan hasil renungan kebijaksanan, intusi, filsafat atau istilah lain yang semakna, adalah :

1. Rasulullah ﷺ kaget melihat sosok jibril yang asing, yang besarnya memenuhi ruang angkasa, beliau takut, gemetar, menggigil, lalu bersegera pulang meninggalkan Hira tempat menyepinya, dan menceritakan semu kepada Sang Istri dengan keadaan ketakutan. Mana mungkin sebuah kebenaran yang diperoleh dari hasil berenung, bisa membuat pemikirnya menggigil ketakutan. Jelas sekali ada faktor luar di luar diri Rasulullah  ﷺ yang baru saja mendatangi beliau. Faktor yang tidak ada pada para pemikir, itulah wahyu dari Allah.

2. Rasulullah ﷺ memerintahkan shahabat mencatat ayat ayat Alquran dan melarang mencatat hadits. Ini bukti paling jelas bahwa ada perbedaan antara ucapan beliau sebagai pribadi seorang nabi dan antara ucapan beliau yang redaksinya langsu dari malaikat jibril dari Allah. Jika ajaran (nabi) Muhammad ﷺ adalah buah kebijaksanaan Muhammad ﷺ untuk apa ada perbedaan Al Quran dan Hadits.

3. Beberapa keputusan Rasulullaah ﷺ yang beliau ambil sebelum turun wahyu tentang hal itu, terkadang menuai teguran dari Allah, dan redaksi teguran itu tetap dicantumkan dalam Al Quran dan dibaca ummat Islam sepanjang masa. Seperti surat abasa, ayat tentang tebusan perang badar, dan ayat lainnya yang sharih menyalahkan tindakan Rasulullaah ﷺ. Jika Islam adalah ajaran yang lahir dari pribadi (nabi) Muhammad ﷺ dari mana dan untuk apa "celaan celan" (dalam tanda kutip) semacam ini diabadikan.

4. Rasulullah ﷺ seringkali ditanya tentang sesuatu, beliau tak menjawab, menunggu turun jawaban dari wahyu. Bahkan untuk membersihkan nama Sidah Aisyah dari tuduhan ifk saja beliau menunggu satu bulan dalam keadaan fitnah yang terus menggelinding. Jika Islam bukan dsri luar diri Nabi shallalahu alai wasalam untuk apa menunggu waktu.

5. Rasulullaah ﷺ adalah ummiy, tidak pernah menulis dan membaca. Tidak pernah menelaah buku buku. Jika Islam adalah hasil pemikiran, dari mana bisa beliau menemukan sejarah sejarah masa lampau seperti kisah Yusuf alaihissalam, ibu Musa ketika meletakkan bayinya di sungai, kisah firaun dan sejarah lain yang tak mungkin bisa ditemukan dari hasil berfikir.

Baca Juga :

Ciri-ciri Rasulullah SAW yang hadir dalam mimpi Alhabib Munzir Al-Musawa

Bahkan mereka menafsirkan ulang kata "wahyu" dimaknai sebagai pancaran jiwa Rasulullaah ﷺ. Kesimpulan naif yang meskipun memakai kata kata pujian, tak lain tak bukan adalah agar Islam disejajarkan dengan hasil pemikiran manusia, agar Islam bisa dikritik dan direvisi setiap waktu dengan hasil pemikiran, diambil dan ditinggalkan sesua tuntutan zaman.

Apakah mereka ini ada? 

Ada dan banyak sekali. Rujuk buku buku Syaikh Buthi seperti Fiqh Sirah, Kubra Yaqiniyat Kauniyah, yg membuka kedok mereka.

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

  

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar