Sabtu, 31 Oktober 2020

Syarat Sah Menjadi Imam Sholat Berjama'ah Menurut Perspektif Al-Qur'an, Hadits dan Para Ulama

Rate this posting:
{[['']]}

SYARAT SAH MENJADI IMAM SHOLAT BERJAMA'AH MENURUT PERSPEKTIF AL-QUR'AN, HADITS DAN PARA ULAMA

Oleh : KH. Abdi Kurnia Djohan

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Sholat merupakan perkara fardhu yang harus dijalankan setiap mukallaf. Mushola dan Masjid merupakan prasarana yang biasa digunakan kaum muslimin untuk beribadah, terutama dalam melaksanakan sholat berjama'ah.

Biasanya kita pernah melihat ataupun mengalami disituasi saat ingin melaksanakan sholat di sebuah Mushola yang dimana mereka saling menunjuk/pun mempersilahkan untuk menjadi Imam sholat. Namun tahukah kamu? ada syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi Imam sholat berjama'ah. berikut tulisan KH. Abdi Kurnia Djohan mengenai " Syarat Menjadi Imam Sholat Berjama'ah Menurut Perspektif Al-Qur'an, Hadits dan Para Ulama " :

Sedang ramai pembicaraan tentang imam sholat, saya jadi teringat syarat-syarat menjadi imam sholat, sebagaimana disebut di dalam hadits: 

روى مسلم (2373) عن أبي مسعود الأنصاري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا وفي رواية فَأَكْبَرُهُمْ سِنًّا ، وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ، وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Imam Muslim meriwayatkan (nomor hadits 2373) dari Abu Mas'ud al-Anshary radhiyallāhu anhu bahwa Nabi sholla Allāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

Yang menjadi imam bagi satu kaum, adalah orang yang paling bagus bacaan Qur'annya. Apabila dalam bacaan masih sama, yang menjadi imam adalah yang paling banyak pengetahuannya terhadap sunnah. Apabila mereka sama dalam pengetahuannya terhadap sunnah, yang menjadi imam adalah yang lebih dulu hijrah. Apabila dalam hijrah sama, yang menjadi imam adalah yang lebih dulu islamnya. Di dalam suatu riwayat, yang lebih tua umurnya. Janganlah seseorang itu menjadi imam di wilayah orang lain, dan jangan pula duduk di rumah orang lain, kecuali dengan izin dari pemiliknya. 

Tentang makna "aqra'uhum li kitabillah" (yang diterjemahkan menjadi paling bagus bacaannya), terdapat dua pengertian: 

Pertama, paling banyak hapalan Qur'annya (dibandingkan makmum). Dasarnya adalah hadits riwayat al-Bukhari:

 ما رواه البخاري (692) عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ : (لَمَّا قَدِمَ الْمُهَاجِرُونَ الْأَوَّلُونَ الْعُصْبَةَ -مَوْضِعٌ بِقُبَاءٍ - قَبْلَ مَقْدَمِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ، كَانَ يَؤُمُّهُمْ سَالِمٌ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ ، وَكَانَ أَكْثَرَهُمْ قُرْآنًا) .

Dari Abdullah bin Umar radhiyallāhu anhuma ia berkata, " ketika rombongan kaum muhajirin yang pertama tiba di Usbah (suatu tempat dekat Quba) sebelum kedatangan Rasulullah sholla Allahu 'alayhi wa sallam, yang mengimami mereka adalah Salim maula (pembantu) Abu Hudzaifah. Ia adalah orang yang paling hapalan Qur'annya di antara para sahabat, ketika itu. 

وفي رواية: (وَفِيهِمْ عُمَرُ، وَأَبُو سَلَمَةَ ، وَزَيْدٌ ، وَعَامِرُ بْن رَبِيعَةَ) .

Di dalam suatu riwayat disebut (padahal di antara para sahabat itu ada Umar, Abu Salamah, Zaid, dan Amir bin Rabi'ah)

Ucapan Abdullah bin Umar itu menjadi isyarat sebab didahulukannya orang yang banyak hapalannya untuk menjadi imam. 

Tentang syarat banyaknya hapalan Qur'an ini juga dikuatkan oleh riwayat al-Bukhari (nomor 4302) dari Amru ibni Salamah radhiyallāhu anhu berikut: 

وروى البخاري (4302) عَنْ عَمْرِو بْنِ سَلَمَةَ رضي الله عنه أن أباه أتى من عند النبي صلى الله عليه وسلم فقال لقومه : جِئْتُكُمْ وَاللَّهِ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقًّا ، فَقَالَ : (صَلُّوا صَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا ، وَصَلُّوا صَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا ، فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا) .

bahwa ayahnya menyampaikan ucapan Nabi kepada kaumnya: " aku sampaikan kepada kalian, demi Allah, ucapan dari Nabi sholla Allāhu alayhi wasallam, beliau bersabda, ' laksanakanlah sholat ini begini pada waktu ini, laksanakan pula sholat itu pada waktu itu. Apabila telah tiba waktu sholat, azanlah siapa saja di antara kalian, dan hendaklah yang mengimami kalian adalah orang yang paling banyak hapalan Qur'annya.' " 

قال عمرو : فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّي ، فَقَدَّمُونِي بَيْنَ أَيْدِيهِمْ ، وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ سِنِينَ .

Amru berkata, " lalu mereka mencari-cari siapa yang paling banyak hapalannya, tidak ada satu pun dari mereka yang paling banyak hapalan Qur'annya dari pada aku. Mereka mempersilakan aku untuk maju di hadapan mereka, waktu itu usiaku enam atau tujuh tahun." 

Baca Juga : 

Amalan Agar Nabi Muhammad SAW Selalu Memandang Kita

Makna kedua, adalah yang bagus bacaannya. Yaitu yang bagus bacaannya dari aspek huruf dan juga tajwidnya. Makna ini dipahami dari ucapan Nabi sholla Allahu alayhi wa sallam: 

: (أَرْحَمُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ ، وَأَشَدُّهُمْ فِي أَمْرِ اللَّهِ عُمَرُ... وَأَقْرَؤُهُمْ أُبَيٌّ ). رواه الترمذي (3790) 

Umatku yang paling sayang terhadap umatku adalah Abu Bakar, yang paling tegas dalam melaksanakan perintah Allah adalah Umar, dan yang paling bagus bacaan Qur'annya adalah Ubay bin Ka'ab (riwayat al-Tirmidzi)

( وَأَقْرَؤُهُمْ ) أَيْ : أَحسنهم قِرَاءَة .

وروى البخاري (5005) عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ : قَالَ عُمَرُ : (أُبَيٌّ أَقْرَؤُنَا) . أي : أحسننا قراءة .

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, ia berkata: Umar berkata

Ubay adalah yang paling baik dari kita dalam membaca al-Qur'an. 

Syaikh Nawawi al-Bantani di dalam Nihāyat ul-Zain li al-Mubtadi'in menulis: 

و تجب الفاتحة مع رعايتها

Wajib membaca al-Fatihah (di dalam sholat) dengan menjaga makhrojul huruf (sifat keluarnya huruf) dan bacaannya. 

Lebih lanjut, Syaikh Nawawi menjelaskan bahwa jika bacaan al-Fatihah mengubah sifat huruf yang berakibat berubahnya makna, sedangkan ia sengaja melakukannya dan mengetahui perubahan itu, batal sholatnya. (Nihāyat ul-Zain, hal. 73). 

Tentang hal ini, sebenarnya masih ada uraian yang panjang dari Syaikh Nawawi al-Bantani, yang bisa didapat  penjelasannya dari para ahli fikih Syafi'i yang selalu menyampaikan pelajaran fikih. 

Dari uraian di atas, yang perlu diperhatikan sebelum maju menjadi imam sholat, adalah apakah sudah baik dan benar bacaan Qur'annya dan apakah hapalan Qur'an yang dimiliki lebih banyak daripada makmumnya. Jangan sampai, bacaan dan hapalan belum sempurna, langsung maju menjadi imam sholat, sedangkan di belakang ada makmum yang lebih baik bacaan dan lebih banyak hapalannya, sudah begitu faqih lagi. 

Baca Juga : 

Tujuh Do'a Penenang Hati Untuk Menghilangkan Stres, Sedih, Dan Gelisah

Sumber : dikutip melalui laman facebook KH. Abdi Kurnia Djohan

Wallahu a'lam Bishowab

Allalhuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

 

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar