Jika Aa Gym Bukan Ulama Lantas Siapa Beliau? Begini Penjelasannya...

JIKA AA GYM BUKAN ULAMA LANTAS SIAPA BELIAU? BEGINI PENJELASANNYA...

Oleh : KH. Abdi Kurnia Djohan

Sejak awal kemunculannya sebagai juru dakwah, Aa Gym tidak pernah memperkenalkan dirinya sebagai ulama. Bahkan Aa Gym tidak pernah merasa dirinya adalah seorang da'i. Kang Jan Gymnastiar (Aa Gym) lebih suka menyebut dirinya sebagai motivator. 

Tentang kecakapannya di bidang ilmu agama, Aa Gym mengakui bahwa ia punya kekurangan di situ. Semangatnya yang besar untuk menjalankan ajaran agama yang membuatnya teguh bolak balik mengikuti pengajian Mama Choer Affandi Tasik. 

Dengan segala kekurangan yang diakuinya, Aa Gym justru menjadi magnet bagi anak muda Bandung--dan Jakarta--untuk mendalami ajaran Islam. Pada tahun 2003, HU Republika menjuluki Aa Gym sebagai Peter F Drucker-nya Indonesia. Kemampuannya mengubah kata-kata menjadi penyemangat membuat seorang petinggi Astra, Palgunadi T Setiawan memintanya untuk sering menyampaikan kajian di Jakarta. 

Bagi orang kota waktu itu, kehadiran Aa Gym bagai oase di tengah gersangnya dakwah yang lebih didominasi oleh retorika politik dan candaan birahi. Aa Gym dianggap mampu membangkitkan etos kerja umat, yang kadung dianggap tidak profesional dan sulit diajak maju. Kantor-kantor pun menjadi konsumen dakwah Aa Gym. Bank dan kantor layanan umum lainnya mengubah kultur kerja mereka setelah mendengar ceramah Aa Gym. Motto Senyum, Sapa dan Salam, yang sering disampaikan Aa Gym, berkembang menjadi motto pelayanan umum. 

Baca Juga :

Filosofi Semar, Gareng, Petruk, Bagong (Punakawan) Dalam Islam

Bagi para pecinta ilmu, ceramah Aa Gym tidak menyajikan hidangan pengetahuan yang memadai--jika menggunakan mind set pesantren tradisional. Isi ceramah Aa Gym tidak seluas materi pengajian kitab di pesantren-pesantren. Materinya itu-itu saja. Tidak jauh dari 'jagalah hati" dan senyum, sapa salam. 

Tetapi, materi yang itu-itu saja dalam kenyataannya mampu menggerakkan potensi ekonomi kawasan Geger Kalong. Seorang penjual gorengan menceritakan kesuksesannya berangkat haji karena berkah kajian Aa Gym. Penduduk di sekitar Darut Tauhid merasa bersyukur karena tempat-tempat tinggal bisa berfungsi sebagai penginapan karena banyaknya tamu yang datang ke tempat Aa Gym menyampaikan motivasinya. 

Orang tahu bahwa Aa Gym memang tidak mempunyai penguasaan ilmu agama yang baik. Tapi, orang juga tahu bahwa Aa Gym mampu mengelola kehidupan beragama di lingkungannya dengan baik. Silakan saja tengok fasilitas kebersihan Darut Tauhid yang mengedepankan sanitasi dan keindahan. Lihat pula bagaimana eksponen Darut Tauhid mampu menampilkan keindahan Islam melalui keindahan lingkungan. 

$ads={1}

Dengan bukti yang sudah ditunjukkan itu, menantang Aa Gym untuk membaca kitab justru menunjukkan sifat kerdil orang yang menantangnya. Tidak ada manfaat dari menjatuhkan orang yang sudah jujur mengaku dirinya bodoh. Justru pengakuan itu menunjukkan sikap inshaf terhadap kekurangan yang dimiliki. 

Namun sebaliknya, menunjukkan kepongahan dengan pengetahuan yang dimiliki justru akan menelanjangi diri sendiri. Mampu membaca banyak kitab kuning, bahkan selalu mengulang hadits "kebersihan bagian dari iman", namun mengatasi penyakit gudik saja masih bingung. Bisa jadi, ada masalah dari pemahaman terhadap hadits itu. Bisa jadi masalahnya di kebersihan. Atau bisa juga masalahnya ada di imannya...

Baca Juga :

Biografi Habib Muhammad Al Bagir bin Alwi Bin Yahya

Memahami poin per poin

1. Jika Aa Gym tidak pernah mengaku dirinya sebagai ulama, lalu jamaahnya menganggap beliau sebagai ulama, masalahnya justru pada jamaah yang menganggapnya ulama. Apakah dengan kondisi seperti ini Aa Gym harus menghentikan dakwahnya? 

2. Jika Aa Gym masuk ke ranah politik praktis, apakah relevan menghentikan langkah politiknya dengan menjatuhkan martabatnya, melalui tantangan membaca kitab kuning? Ini dua wilayah yang berbeda. Satu wilayah menarik dukungan dan satu lagi wilayah keilmuan. 

3. Jika maksud dari tantangan membaca kitab kuning itu, tujuannya adalah untuk menghentikan langkah politik, maka ini justru akan berbalik fatal. Publik akan menilai bahwa hasil dari membaca kitab kuning adalah perdebatan dan unjuk kepongahan. 

4. Politik idealnya dilawan dengan politik. Jika ada pernyataan Aa Gym yang dianggap berpotensi menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, jawaban yang sepadan adalah meluruskan pemahaman Aa Gym tentang konsep dasar kebijakan. Sampai di sini, saya yakin Aa Gym tidak memahami tiga matra fungsi Administrasi Negara. 

5. Ranah perdebatan politik adalah seputar national interest (kepentingan nasional) dan public interest (kepentingan publik). Politik tidak berurusan dengan wilayah privat, anda ngerti kitab fikih atau tidak ngerti kitab fikih itu bukan masalah di dalam politik. 

6. Saya tidak menganggap Aa Gym sebagai ulama, dan juga da'i. Namun, dalam amatan saya yang awam ini, menjatuhkan martabat Aa Gym dengan membawa-bawa kemampuan membaca kitab, akan membangkitkan citra yang kurang baik terhadap tradisi pembacaan kitab.

Source : dikutip melalui laman facebok KH. Abdi Kurnia Djohan

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunanh Wal Jama'ah -

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama