Tidak Bisa Hidup Tanpa Rasulullah SAW

TIDAK BISA HIDUP TANPA RASULULLAH SAW

Tausiyah Al Habib Ahmad Mujtaba bin Syahab

Allah izinkan kita hadir dirumah-Nya

Allah izinkan hati kita untuk bergetar karena cinta kepada Rasulullah

Sesungguhnya inti dari perkara yang kita dengarkan ialah perihal kebersamaan, kita menuju tempat yang mulia ini karena kebersamaan,

Inti dari majelis ini ialah sebuah kebersamaan, kebersamaan dengan Allah dan Rasulullah, kebersamaan dengan Ilmu Allah dan Rasulullah

Nabi Saw pernah bersabda

Akan datang sekelompok orang akan mencari ilmu ini dan katakanlah kepada mereka "Ahlan wa Sahlan marhaban bi washiati Rasulillah"

Allah mewasiati kepada mereka untuk mengawasi pecinta ilmu, mengawasi mereka para penuntut ilmu Rasulullah dan sampaikan kepada mereka

Ini merupakan makna dari suatu kebersamaan, kebersamaan dengan Allah

Al Imam Ahmad bin Muhammad Al Muhdor

$ads={1}

Beliau sebelum meninggal, beliau menggali kuburannya sendiri, beliau khatam Qur'an sebanyak 7000x

Beliau suka tenggelam dalam lautan dzikrullah

Sayyidi Syihabuddin berkata

Alhamdulillah aku mengetahui diriku, senantiasa hatiku berdetik detik dzikir kepada Allah lalu aku tenggelam dan tafakur dalam dzikirullah

Sesaat dari tafakur itu lebih afdhol daripada ibadah 1000 tahun, namun tafakur yang bagaimana? Tafakur yang ada setelah tenggelam dalam lautan dzikrullah

Aku melawan hawa nafsuku dan skarang aku menjadi raja untuk hawa nafsuku dan aku menjadi raja dalam jagat raja

Karena raja yang sejati ialah raja yang tak bisa digulingkan oleh apapun, raja apa itu? Yakni kerajaan Rasulullah

Sayap nyamuk lebih mahal dari kerajaan dunia

Jangan diperbudak oleh syaitan, nafsu dan dunia

Dan kalian menjadi raja khalifahnya Rasulullah

Inilah lautan dzikir yang indah, bila orang senantiasa bersama Rasulullah, bersholawat kepada Rasulullah

Tidak disebutkan selain Baginda dan itu semua akan menimbulkan kebersamaan dengan Baginda Rasulullah

Para Ulama Arifin menceritakan tentang kebersamaan

Ketika beliau menginginkan kebersamaan dengan guru gurunya, kebersamaan dengan Rasulullah

ﻟـِﻐـَـﻴْـﺮِ ﺟَـــﻤَـﺎ ﻟـِـﻜُـــﻢْ ﻧَــﻈَـﺮِ ﻱْ ﺣَـــﺮَ ﺍﻡُ ﻭَ ﻏَــﻴْـﺮِ ﻛَــﻼ َ ﻣِــﻜُـﻢْ ﻋِــــﻨـْﺪِ ﻱْ ﻛَــﻼ َﻡِ

Lighoiri jamaalikum nadhorii haroomu Wa ghoiri kalaamikum ‘indii kilaamu

Untuk selain memandang keindahan kalian, telah kuharamkan pandanganku, dan selain pembicaraan kalian dihadapanku umpama lantai tempat pijakan kaki (yaitu sangat hina).

Inilah seorang yang menginginkan kebersamaan dengan kekasihnya saja, mendengarkan perkataan kekasihnya saja, memandang kekasih saja, tidak mau melakukan atau membuka hal hal yang menyakiti kekasihnya

Kebersamaan ini bukan hanya dihasilkan dengan kebersamaan jasmani

Baca Juga : 

Tujuh Do'a Penenang Hati Untuk Menghilangkan Stres, Sedih, Dan Gelisah

IJAZAH KEHAMILAN

Kebersamaan tidak bisa diukur dengan waktu dan tempat

Kebersamaan yang haqiqi ialah kau bersama Rasulullah setiap saat

Seperti kata Al Habib Umar bin Abdurrahman Al Attas (shohibul Ratib Al Attas) berkata : Rasulullah selalu bersamaku, bayang Rasulullah selalu bersamaku, bila tidak ada Rasulullah bersamaku maka tidak ada diriku

اَللهُمَّ اجْعَلْ لِىْ نُوْرًا فِىْ قَلْبِىْ وَنُوْارًا فِى قَبْرِىْ وَنُوْارً فِىْ سَمْعِىْ وَنُوْرًا فِىْ بَصَرِىْ وَنُوْرًا فِىْ شَعْرِىْ وَنُوْرًا فِىْ بَشَرِىْ وَنُوْرًا فِىْ لَحْمِىْ وَنُوْارً فِىْ دَمِىْ وَنُوْرًا فِىْ عِظَامِىْ وَنُوْرًا مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَنُوْرًا مِنْ خَلْفِىْ وَنُوْرًا عَنْ يَمِيْنِىْ وَنُوْرًا عَنْ شِمَالِىْ وَنُوْرًا مِنْ فَوْقِىْ وَنُوْرًا مِنْ تَحْتِىْ. اَللهُمَّ زِدْنِىْ نُوْرًا وَاَعْطِنِىْ نُوْرًا وَاجْعَلْ لِىْ نُوْرًا.

Artinya :Ya Allah, jadikanlah untukku cahaya dalam hatiku, cahaya dalam kuburku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dalam penglihatanku, cahaya pada rambutku, cahaya pada kulitku, cahaya pada darahku, cahaya pada tulangku, dari arah kananku, cahaya dari arah kiriku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku. Ya Allah, tambahilah aku akan cahaya dan berilah aku cahaya, jadikanlah untukku cahaya dan jadikanlah aku cahaya

Perihal kebersamaan ini, ketika senantiasa sudah bersama dengan gurunya, bersama dengan Baginda, bersama dengan orang yang ia cintai

Allah cabut sebentar saja maka terasa kegelisahan yang sangat mendalam

Ketika keledai Rasulullah, Rasulullah wafat keledai tersebut tidak tahan ditinggal oleh Rasulullah maka keledai itu bunuh diri tenggelam di air karena tidak tahan bersama Rasulullah

Sayyidina Bilal bin Rabah ialah khadimnya Rasulullah, muadzinnya Rasulullah dan saking sering bersamanya Bilal dengan Rasulullah sampai sampai Bilal dikira keluarganya Rasulullah

Tiadalah kulewat didepan mimbar Rasulullah melainkan aku terbayang sosok Rasulullah, ini perihal yang menyakitiku dan menyiksaku

Namun, berat bagi Bilal. Dia tak sanggup menanggung rindu teramat dalam jika mengingat Madinah dan mengumandangkan adzan. Bilal tak mampu menanggung rasa rindu terhadap Rasulullah yang teramat berat.

Bagi Bilal, hari di mana Rasulullah wafat adalah hari yang paling mempengaruhi jalan hidupnya itu. Ia meminta izin kepada Khalifah Abu Bakar untuk berhenti menjadi Muadzin Rasul.

Sayyidina Abu Bakar pun mengabulkan permintaan tersebut. Setelah itu, Bilal pergi ikut pasukan Fathul Islam (Pembebasan Islam) ke Syam, kemudian tinggal di Homs, Syria (kini Suriah). Bilal merasa jika masih tinggal di kota Madinah, dia tak akan bisa lari dari kenangan bersama Rasulullah.

Dalam sebuah tidurnya Bilal mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. 

Dalam mimpi tersebut, Rasulullah menyapa Bilal, "Ya Bilal, wa maa hadzal jafa? (Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?")

Bilal : aku tak sanggup menahan rasa yang menyiksaku

Umar : ya Bilal, apakah kau kira kau saja yang merasakannya, sungguh semua disini sama merasakan yang kau rasakan

Kemudian Bilal pun terbangun, tanpa berpikir panjang ia segera mempersiapkan perjalanan ke Madinah. Sambil merasakan kerinduan yang teramat dalam dan besar, Bilal pergi untuk menziarahi makam Rasulullah SAW.

Kisah sahabat nabi, setibanya di Raudhah, Bilal tak mampu lagi menahan haru. Dia menangis, rindu pada Rasulullah SAW, Sang Kekasih Allah. Saat itulah kemudian datang dua pemuda yang mulai beranjak dewasa menemui Bilal bin Rabbah, yang matanya sembab karena tangis itu.

Mereka berdua adalah cucu kesayangan Rasulullah, yakni Hasan dan Husein. Bilal yang semakin termakan usia, mencoba memeluk kedua cucu kesayangan Rasulullah tersebut.

Dan Husein berkata kepada Bilal, "Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek."

Ketika lafadz "Allahu Akbar..." dikumandangkan oleh Bilal, mendadak seluruh Madinah senyap. Segala kegiatan terhenti. Semua orang terkejut. Suara yang telah bertahun-tahun hilang, dan begitu dirindukan itu, telah kembali. Suara yang mengingatkan pada sosok Rasulullah nan agung.

Suara lantang sang "Muadzin Rasul" menggema ke semua penjuru kota. Seketika orang-orang yang mendengar lantunan adzan itu terdiam. Mereka terhenyak, serasa kembali ke masa Rasulullah. Dan bertanya "Apakah Rasulullah kembali?"

Kisah sahabat nabi, saat Bilal mengumandangkan lafadz "Asyhadu anlaa ilaha illallah," seluruh warga Madinah berlarian ke arah sumber suara itu, sambil berteriak histeris. Sewaktu Bilal sampai pada lafadz "Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah..." Suaranya yang menggema menjadi terdengar parau. Dadanya bergetar, dan hatinya bergemuruh penuh kerinduan. Bilal terisak menyebutkan nama orang yang paling dirindukannya.

Air matanya mengalir begitu saja, sambil terlintas sebuah kenangan dalam ingatan Bilal, yang teringat sosok Rasulullah SAW. Semua ingatan itu, membuat Bilal tak sanggup melanjutkan adzan pada lantunan lafadz tersebut.

Baca Juga :

Filosofi Semar, Gareng, Petruk, Bagong (Punakawan) Dalam Islam

Biografi Habib Muhammad Al Bagir bin Alwi Bin Yahya

Di atas menara Nabawi, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Suasana itu kemudian membuat seantero Madinah pecah oleh tangisan, dan ratapan yang sangat memilukan para sahabat Nabi yang paling mulia.

Sumber : Pengajian Rutinan Majelis Rasulullah SAW, Senin 16 November 2020

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama