Sunnah, Rukun dan Wajib Dalam Melaksanakan Ibadah Haji

SUNNAH, RUKUN DAN WAJIB DALAM MELAKSANAKAN IBADAH HAJI

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Ibadah haji merupakan Rukun Islam yang ke-5. Dimana dalam pelaksanaan ibadah ini tentu memiliki banyak persyaratan, peraturan dan do'a-do'a yang perlu diketahui bagi yang ingin melaksanakannya.

Ust. Ubaidillah Chalid pada malam selasa, 14 September 2015 di Masjid Al Munawwar Pancoran pada acara rutinan Majelis Rasulullah SAW memberikan tausiyah mengenai Sunnah, Rukun dan Wajib Dalam Melaksanakan Ibadah Haji, berikut tausiyahnya yang kami kutip melalui website Majelis Rasulullah SAW : 

نَوَيْتُ التَّعَلُّمَ وَالتَّعْلِيْمَ، وَالنَّفْعَ وَالاِنْتِفَاعَ، وَالْمُذَاكِرَةَ وَالتَّذْكِيْرَ،

وَالإِفَادَةَ وَالاِسْتِفَادَةَ، وِالْحِثُّ عَلَى تَمَسُّكِ بِكِتَابِ الله،

وَبِسُنَّةِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلَّم،

وَالدُّعَاءَ إِلَى الْهُدَى، وَالدِّلالَةَ عَلَى الْخَيْرِ،

اِبْتِغَاءَ وَجْهِ الله وَمَرْضَاتِهِ وَقُرْبِهِ وَثَوَابِهِ

Berkata al   Habib Ahmad  bin Zein al Habsyi dalam kitab arisalatul jami’ah

سُنَنُ الْحَجِّ ] وَأمَّا السُّنَنُ: فَكُلُّ مَا سِوَى الأرْكَانِ وَالْوَاجِبَاتِ؛ فَمَنْ تَرَكَ رُكْنَاً لَمْ يَصِحَّ حَجُّهُ. وَلاَ يَحِلُّ مِنْ إِحْرَامِهِ حَتَّى يَأْتِيَ بِهِ. وَلاَ يَجْبُرُهُ دَمٌ وَلاَ غَيْرُهُ

Adapun sunah sunah haji   maka semua  yang selain rukun dan   wajib haji   pekerjaan  haji ada 3 macam   yaitu rukun, wajib dan sunah.   Mengenai sunah,   apa  – apa  yang selain wajib dan rukun  haji  maka itu adalah  sunah  , ada sunah   yang berkait dengan wajib   haji ada sunah   yang berkait   dengan  rukun haji, misalnya   di sunahkan setelah ikhram   dengan  mandi menggunakan minyak wangi , menggunakan   kain  ikhram yang berwarna putih dan seterusnya,   ketika  wukuf  kita di sunahkan untuk memulai   dari ba’da Dhuhur sampai   setelah Isya  baru sampai ke  padang  Arafah   keluar  ke tempat di mana   kita tidak di bawah tenda,  kita langsung  di bawah sinar matahari dan berdo’a di sana dan lain lain.  Juga   ketika  thawaf di sunahkan itiba’,  meletakan  kain ikhram kita di bagian  atas  , di letakan sebelah  kiri , dan  yang kanan  terbuka  , melakukan  tromel  atau di sebut  juga  jalan di tempat,  juga  ketika misalnya sa’I di  sunahkan  harwalah , berbeda  antara Romel  dan Harwalah  yaitu ketika kita Harwalah jalan  cepat seperti setengah   berlari,  sementara  Romel itu   jadi  berjalan di tempat  dan badanya agak tinggi  ke  atas  dan  juga di sunahkan ketika  kita sa’I disunahkan  suci dari hadats  kecil dan hadats  besar,  juga berdo’a sepanjang thawaf dan sa’I.

$ads={1}

Ketika  cukur  juga ada sunah- sunahnya,  misalnya  kita mencukur dari bagian sebelah kanan  lalu sebelah kiri, lalu bagian atas dan berdo’a ketika kita bercukur,  juga ketika  wajib haji misalnya  mabit di muzdalifah di sunahkan  untuk mabitnya sepanjang mendekati subuh mulai dari tengah  malam sampai  mendekati waktu  fajar , di sunahkan  ketika  kita mabit di mina sepanjang malam  mabitnya  kita melempar  jumrah baik itu jumrah aqabah saja, melemparnya dengan  tangan  kanan  , menghadap ke arah kota Makkah  ke Ka’bah ketika melempar dan  berdo’a  ketika setelah melempar jumrah,  itu semua adalah  sunah  yang terkait dengan rukun  dan wajib haji.

Dan ada sunah  yang berdiri sendiri  tidak banyak seberti  talbiyah yaitu bacaan

لَبَّيْكَ اللّٰهُمَّ لَبَّيْكَ. لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ. اِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَاْلمُلْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ.

Maknanya adalah ‘’ ana muqimun  li ta’atika ya rabb iqomatan ba’da  iqomah  ijabatan ba’da  ijabah ‘’

Ya Allah saya berdiri  teguh  untuk  selalu  taat  kepadamu dari satu kewajiban ke pada kewajiban yang  lain,  menjawab  panggilanmu  ya Allah  dari jawaban ke pada  jawaban yang lain. Maka itu adalah salah satu makna daripada  talbiyah  , ada lagi sunah  yang berdiri sendiri adalah  thawaf  qudum,  thawaf  kedatangan   saat  baru masuk kota makkah  dan  juga sunah  yang berdiri sendiri adalah  sunah  untuk masuk kota Makkah  di siang  hari bukan malam  hari   , masuk dari atasnya  , masuk   Masjidil Haram dari Babusalam dan lain lain,  itu  contoh sunah –sunah 

فَمَنْ تَرَكَ رُكْنَاً لَمْ يَصِحَّ حَجُّهُ

Orang yang meninggalkan rukun  pasti tidak sah  hajinya  maka  dia harus   melakukan  rukun  yang  6

وَلاَ يَحِلُّ مِنْ إِحْرَامِهِ

dia  tidak boleh Tahalul dari ikhramnya sampai dia selesaikan semua rukun, artinya adalah  dia tidak boleh melakukan  hal yang  di haramkan ketika ikhram  sampai semua rukun hajinya selesai,  kalau  rukun hajinya  belum selesai maka  ia tidak boleh  tahalul  awal, kalau sudah dia laksana kan  beberapa halnya  kemudian dia  boleh tahalul awal, akan tetapi tahalul sani  dia  tidak bisa melakukanya  terkecuali dia menyelesaikan seluruhnya

وَلاَ يَجْبُرُهُ دَمٌ وَلاَ غَيْرُهُ

Yang namanya rukun haji tidak  bisa di tutup atau di tambal  dengan dam atau dengan  yang lain,  rukun haji   hanya  bisa di selesaikan dengan   melaksanakan  rukunya

وَثَلاثَةٌ مِنَ الأَرْكَانِ لاَ تَفُوْتُهُ مَا دَامَ حَيًّا، وَهِيَ: الطَّوَافُ. والسّعْيُ. والْحَلْقُ. وَمَنْ تَرَكَ شَيْئَاً مِنَ الْوَاجِبَاتِ صَحَّ حَجُّهُ وَلَزِمَهُ دَمٌ، وَعَلَيْهِ إِثْمٌ إنْ لَمْ يُعْذَرْ .

وَمَنْ تَرَكَ شَيْئَاً مِنَ السُّنَنِ فَلاَ شَيْءَ عَلَيْهِ وَلَكِنْ تَفُوْتُهُ الْفَضِيْلَة

Ada  3 rukun dari  rukun haji yang  tetap  bisa  kita  laksanakan  sepanjang kita  hidup  walaupun  tentunya  kita belum boleh  tahalul,  belum boleh melakukan   hal  yang di haramkan ketika ikhram,  apa  itu?  yaitu ada 3  ,  yang pertama  adalah thawaf , kedua Sa’I , dan yang ketiga adalah  cukur .  Kalau  orang sudah ikhram  sehabis  itu wukuf  lalu  ia kerjakan  wajib haji  di  Muzdalifah dan di Mina  belum sempat dia  pulang  , belum sempat  cukur dan belum sempat thawaf dan sa’I  kemudian dia pulang,  orang itu tidak mengapa   tidak melakukan  apa  yang menjadi   kewajibanya seperti  cukur,  kapan pun  waktunya  untuk thawaf  tentunya  dia harus kembali ke makkah  , dan sa’I  juga seperti itu  dia harus kembali ke makkah sementara  cukur dia  bisa di lakukan di manapun tempatnya

وَمَنْ تَرَكَ شَيْئَاً مِنَ الْوَاجِبَاتِ صَحَّ حَجُّهُ وَلَزِمَهُ دَمٌ،

Siapa    yang meninggalkan  satu  dari wajib haji,   hajinya  sah akan tetapi dia   wajib  bayar dam,   dam  itu sebagai   pengganti   satu  ekor  kambing   kalau  dia  tidak sanggup  maka dia puasa  10  hari   di mana  dia  lakukan tiga hari puasa  di sana, sampai setelah selasai  ibadah haji dia laksanakan   tujuh  harinya setelah ia  pulang  menurut  madzhab syafi’I.   Kalau dia  lakukan 10  hari puasa  itu,   kalau dia tidak sanggup memotong kambing dan uangnya pun pas – pasan   dia  pulang maka dia boleh lakukan  10 hari itu  di Indonesia  atau di manapun negerinya  untuk dia mengganti daripada dam  haji  , wajib haji  yang tertinggal itu. Kalau  di tinggal dengan sengaja  maka dosa   kalau dia meninggalkanya dengan sengaja,  tidak ada  udzur  dia  bisa melempar  jumrah akan tetapi  dia  tidak  bisa  melempar  jumrah,  dia  bisa mabit di Mina, akan tetapi  dia  tidak bisa mabit di Mina   maka  dia dosa   dan  tentu  wajib dam, tetapi  kalau  dia udzur   tidak memungkinkan   dan sudah di tempatkan  suatu  tempat   yang jauh dari Mina  yang mereka sebut dengan Mina Jadid   yang sejatinya adalah Muzdalifah,  maka kita wajib  bayar dam dan kita  tidak dosa  karena  kita tidak  punya kuasa  pindah dari tempat  mereka

وَمَنْ تَرَكَ شَيْئَاً مِنَ السُّنَنِ فَلاَ شَيْءَ عَلَيْهِ

Siapa  yang meninggalkan   sunah  maka tidak ada sesuatu pun  yang  wajib atasnya, artinya   kalau ada sunah dia tinggal  hajinya sah  tidak  wajib bayar dam   akan  tetapi  orang tersebut   kehilangan  dari  fadhilah  haji

وَيَحْرُمُ سَتْرُ رَأْسِ الرَّجُلِ وَوَجْهِ الْمَرأَةِ الْمُحْرِمَيْنِ أوْ بَعْضِهِمَا، وَإزَالَةُ الظُّفْرِ وَالشَّعْرِ، وَدَهْنُ شَعْرِ الرَّأْسِ وَاللِّحْيَةِ، وَتَطْيِيْبُ جَمِيْعِ الْبَدَنِ. وَيَحْرُمُ عَقْدُ النِّكَاحِ، وَالْجِمَاعُ وَمُقَدِّمَاتُهُ، وَإتْلاَفُ كلِّ حَيَوَانٍ بَرِّيِّ وَحْشِيِّ مَأْكُولٍ. وَالْمَرْأَةُ كَالرَّجُلِ في الْمُحَرَّمَاتِ

Kita  lanjutkan dari    hal hal terakhir  pembahasan haji    yaitu adalah  hal hal  yang di haramkan  ketika ikhram

Baca Juga :

- Makna Rukun Iman dan Rukun Islam di dalam Al-Qur'an

Ciri-ciri Rasulullah SAW yang hadir dalam mimpi Alhabib Munzir Al-Musawa

Pengertian Muslim, Mukmin, Mukhsin, Mukhlis dan Muttaqin

1 . adalah menutupi kepala  khusus  untuk   laki – laki,  kalau  perempuan  boleh  , menutup kepala  itu bisa  juga   bisa  jadi  dengan meletakan  sesuatu   di atas  kepalanya seperti kopyah   atau sekedar  meletakan  tangannya  dengan  berkepanjangan   pada  waktu yang lama di atas kepalanya   , ada sebagian   orang yang membuat   payung di  pakaikan  gagang di payungnya tersebut   payungnya adanya di atas   jadi ada   gagangnya,   kalau dalam  ilmu  fikih   hal tersebut maka  tetap di sebut dengan menutup kepala  karena ada bagian yang menempel di kepala  kita    kalau ada  yang  mau  dengan  payung  maka     pegang saja di tangan  dan juga berkait dengan menutup kepala  itu  terjadi  pada  kebanyakan laki laki  tanpa sadar  ia  tertidur  karena dingin  dia  tutup kepalanya saat dia  belum tahalul  masih dalam keadaan ikhram  iya  berselimut  maka  hal tersebut  bisa  terkena dam  tentunya kalau dia  tau dan sadar,  kalau  tidak tau dan  tidak sadar  maka  tidak apa – apa  untuknya   dan menutup  wajah   seperti yang sudah kita ketahui ,   wajah adalah   dari tempat menumbuhnya  rambut sampai ke pada dagu  dari   telinga sampai telinga ketika mendengar   dan tentunya kalau menutup  wajah maka agak di  lebihkan  bagian  bawah agak keatas,  artinya   kalau menutup  maka  di lebihkan sedikit,   wanita  kalau menggunakan mukena  adanya diatas   janggut di bawah  bibir  bukan  berada di leher  , letaknya  mukena ada di atas  dagu bukan di bawah  dagu   karena  kalau di bawah dagu   itu bukan wajah   kalau seseorang   perempuan  memakai mukena di bawah dagu  kemudian  dia   gunakan dengan  shalat  atau thawaf maka tidak sah  shalat dan thawafnya

  وَإزَالَةُ الظُّفْرِ وَالشَّعْرِ

Yang di haramkan ketika  ikhram juga adalah  memotong  , menggigit   , atau mengelupas  kuku  dan  rambut,  yang di maksudkan   dengan  kuku adalah   apa  yang   tumbuh di ujung  jari   kaki  dan tangan,   baik kita  gigit,  gunting   atau dengan  yang lain,  laki – laki  dan perempuan   dan juga   memotong , mencabut atau dengan   cara yang lain  termasuk membakar   rambut,  yang di maksud  rambut adalah  bulu   pada  tubuh  kita

وَدَهْنُ شَعْرِ الرَّأْسِ وَاللِّحْيَةِ

Dan  kita    di larang meminyaki   rambut di kepala dan juga di jenggot dan juga  tidak  boleh menggunakan minyak wangi di seluruh  badan,   jadi  yang perlu di lakukan ketika seseorang  dia mau ikhram  niat untuk  haji atau  umrah    kan  sunah  memakainya di badan sebelum  niat,  kalau sudah  niat  maka tidak  boleh hukumnya haram,   jadi kita  pakai di badan  bukan di baju   kalau  kita  pakainya di baju   itu minyak wangi   kita  pakai di baju  saat sebelum kita  niat  ikhram  lalu  bajunya kita  lepas  nanti setelah selesai  misalnya  kita  niat ikram kita pakai   maka kita  termasuk  orang yang  memakai  minyak wangi  tanpa sadar  maka sebaiknya  memakainya di badan  jangan di  baju atau di pakaian

وَيَحْرُمُ عَقْدُ النِّكَاحِ

dan juga haram  untuk melakukan  akad  nikah وَالْجِمَاعُ وَمُقَدِّمَاتُهُ  dan juga  berhubungan dengan  istri  atau  awal  yang  menjadi hubungan  jimak itu seperti sentuhan  kulit, menyentuh  kulit ,  langsung  kulit ketemu kulit  antara suami dan istri dari dengkul  sampai dengan  pusar وَإتْلاَفُ كلِّ حَيَوَانٍ بَرِّيِّ وَحْشِيِّ مَأْكُولٍ

Juga  tidak  boleh berburu  hewan  darat   yang liar  yang boleh di makan,  kalau kita misalnya memotong ayam  yang kita  pelihara  maka  itu tidak apa apa,  misalnya kita memotong  hewan  liar misalnya  seperti kijang وَالْمَرْأَةُ كَالرَّجُلِ في الْمُحَرَّمَاتِ , wanita sama  dengan  laki  laki  pada  hal yang di haramkan   ketika dia ikhram artinya selain tadi itu ,  selain menutup kepala walahua’lam

Semoga  kita   di berikan kemanfaatan dan mendapat keberkahan dari allah Swt

Amiinn  ya rabal ‘alamin

Wasalamu’alaikum  warahmatulahi wabarakatuh

Jasaltu Itsnain Majelis Rasulullah

Masjid Raya Almunawar Pancoran, 14 September 2015

~Ust. Ubaidillah Chalid ~

Sumber : https://www.majelisrasulullah.org/sunnah-rukun-dan-wajib-haji/

Demikian penjelasan mengenai Sunnah, Rukun dan Wajib Dalam Melaksanakan Ibadah Haji, Semoga bermanfaat dan menjadi ilmu buat kita. Aamiin Ya Rabbal 'alaamin

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama