Asal Mula Kenapa Kyai Menikahkan Putrinya Dengan Santrinya

ASAL MULA KENAPA KYAI MENIKAHKAN PUTRINYA DENGAN SANTRINYA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Kisah santri menikahi putri kyainya, bukan sesuatu yang lazim di kalangan pesantren. Kalau pun ada kisah, mungkin seribu satu. Asal mula kisah santri menikahi putri kiainya, tampaknya berawal dari kisah antara Sayyidina Sa'id bin al-Musayyab, seorang ulama tabi'in, dengan Abdullah bin Wada'ah. 

Sayyidina Sa'id bin al-Musayyab dikenal sebagai ulama yang alim, bahkan beberapa sahabat Rasulullah yang hidup semasa dengannya, mengakui kealiman Ibnu al-Musayyab. Karena kealimannya, Sayyidina Sa'id diminta menyampaikan dars (pelajaran) di Masjid Nabawi.

Kealiman Sayyidina Sa'id tersebut, mengundang ketertarikan Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Sang Khalifah ingin bisa berbesan dengan Sang alim. Khalifah ingin agar puteranya, al-Walid bisa menikah dengan putri Sayyidina Sa'id, yang juga dikenal alim dan faqih seperti ayahnya.

Sang Khalifah pun mengirim, sekretaris negara, Hisyam bin Isma'il untuk menyampaikan niat Sang Khalifah kepada Sayyidina Sa'id bin al-Musayyab. Hisyam pun tiba di Madinah. Ia mengikuti kajian yang diadakan oleh Sang ulama. 

$ads={1}

Selesai pengajian, sekretaris negara ini mengadakan pembicaraan khusus dengan Sang ulama. Ia menyampaikan niat Sang Khalifah yang ingin menjodohkan anaknya dengan putri Sang ulama.

Sayyidina Sa'id bin al-Musayyab pun menyimak setiap kata yang meluncur dari pejabat negara itu. Kepalanya tertunduk tanda mencerna setiap ucapan yang disampaikan. Setelah cukup mendengarkan penyampaian sang pejabat, Sayyidina Sa'id memberikan jawaban bahwa ia menolak lamaran Sang Khalifah. Tidak ada argumentasi yang disampaikan. Beliau hanya mengatakan tidak bisa menerima. 

Mendengar jawaban Sang ulama, Hisyam pun terkejut. Dengan setengah menakuti, Hisyam bertanya, "apa tuan guru tidak memperhitungkan dampak dari penolakan ini?" Dengan bijaksana, Sayyidina Sa'id mengatakan bahwa ia sudah memperhitungkan dampak dari penolakannya. Dengan penuh kecewa, Hisyam bin Isma'il pun kembali ke Damaskus. 

Seusai pertemuan itu, Sayyidina Sa'id kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, ia melihat putrinya sedang beres-beres. Sa'id pun bertanya kepada putrinya, "apa yang kamu lakukan tadi ketika ayah berada di luar?" Sang putri menjawab, "ayah, tadi aku mengulang-ulang bacaan al-Qur'an." Sa'id bertanya kembali, "apa yang kamu pahami dari bacaan itu?" Sang putri menjawab, "aku tadi membaca ayat: 

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حسنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Yah, aku paham bahwa kebaikan akhirat itu adalah surga. Tapi, aku tidak paham apa itu kebaikan dunia?" 

Said pun menjawab, "kebaikan dunia itu adalah istri solihah bagi laki-laki yang solih." 

$ads={2}

Sayyidina Sa'id pun duduk memulai makan malam yang sudah disiapkan. Seiring Sayyidina Sa'id menyantap hidangannya, sang putri kembali membaca al-Qur'an. 

Ketika mereka berdua tengah asyik dengan aktivitasnya, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Sayyidina Sa'id pun bertanya siapa yang mengetuk pintu. Terdengar jawaban dari luar, "Saya Abdullah bin Wada'ah". 

Baca Juga :

Awal Kisah Kenapa Tarim Menjadi Kiblat Menuntut Ilmu Oleh Pelajar Seluruh Dunia

Sayyidina Sa'id tampak senang mendengar jawaban itu. Ia meminta putrinya membukakan pintu. Abdullah pun masuk sambil mengucapkan salam. Rupanya, sang tamu adalah murid setia Sang alim. Tanpa basa-basi, Sayyidina Said langsung mengajak sang tamu makan bersamanya.

Sang putri pun langsung menghantarkan alat makan kepada tamu ayahnya itu. Sang tamu pun terlihat sungkan dan gembira diajak makan oleh sang guru. Ketika sang tamu memulai makan, Sayyidina Said bertanya kenapa sang tamu tidak hadir dalam pengajian kemarin.

Mendapat pertanyaan itu, sang tamu yang juga murid itu memulai cerita dukanya. Sang murid rupanya mengurus jenazah istrinya sehingga tidak bisa menghadiri majelis. Mendapat jawaban itu, Sayyiduna Said bertanya, "kenapa kamu tidak beritahukan saya?" Sang murid menjawab bahwa ia tidak mengganggu sang guru. Menurutnya, kepentingan umat lebih utama daripada musibah yang dialaminya.

Sayyidina Said tampak serius mendengar uraian muridnya. Ia pun bertanya tentang apakah sang murid ada rencana untuk menikah lagi? Abdullah bin Wada'ah menjawab, "laki-laki miskin seperti saya, mana ada perempuan yang mau." Sayyidina Said merespon jawaban itu, "kalau kamu setuju, nikahi anak saya ini." 

Respon dari guru mulia itu menyentak kesadaran Abdullah bin Wada'ah. Ia tidak percaya dengan ucapan gurunya. Ia tidak kuasa menolak tawaran guru yang dimuliakannya. Lisan Abdullah menjawab, "setuju guru." Kata Sayyidina Said, "baik, kalau begitu, sekarang carilah dua orang sahabat Rasul malam ini, untuk menjadi saksi. Malam ini kita adakan akad" 

Tanpa bertanya lagi, Abdullah bin Wada'ah segera mencari 2 saksi. Saksi yang dicari pun didapat. Malam itu, Said bin al-Musayyab menikahkan puterinya dengan Abdullah bin Wada'ah, murid setianya. Semua yang hadir di acara akad itu gembira, termasuk puteri Said bin al-musayyab. 

Kata Abdullah bin Wada'ah, sejak malam itu ia tidak lagi menghadiri majelis Said bin al-Musayyab. Karena semua ilmu Said berada di genggamannya puterinya yang alim dan solihah....

Ditulis oleh : KH. Abdi Kurnia Djohan

Demikian Artikel " Asal Mula Kenapa Kyai Menikahkan Putrinya Dengan Santrinya "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama