Diskusi Mengenai Hukum Tahlilan Antara Nurul Lailatirrahmah dengan Ahmad Yazid

DISKUSI MENGENAI HUKUM TAHLILAN ANTARA NURUL LALATIRRAHMAH DENGAN AHMAD YAZID

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Diskusi yang bertemakan "Tahlilan" ini dilaksanakan pada grup facebook KUMPULAN HADITS SHAHIH BUKHARI - MUSLIM, DLL.

Di mana diskusi ini dilakukan oleh Nurul Lailatirrahmah dengan saudara Ahmad Yazid.

Berikut hasil diskusi yang dapat kami rangkum, 

RANGKUMAN ALUR DISKUSI SINGKAT ANTARA : 

Om Ahmad Yazid DG Nurul 

======

Nurul Lailatirrahmah

Rosululloh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 

(Terjemahnya)

 "Tidaklah seseorang membunuh, melainkan anak Adam pertama (Qabil) turut menanggung dosanya."

Kalau menurut teman-teman Wahabi sekalian, kira-kira bagaimanakah mafhum mukholafahnya dari terjemah Hadits tersebut?

Monggo ditanggapi yang dari kemarin pada sibuk ngajak membahas hadits shohih

=========

Ahmad Yazid

Saya kira pelajaran yg terkandung dari haddits ini adalah adanya dosa jariyyah, seseorang yg menunjukkan/memulai jalan keburukan kemudian diikuti oleh orang lain maka dia menanggung dosa dirinya ditambah dosa orang lain yg mengikutinya, senada dengan hadits:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ أَيُّمَا دَاعٍ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ فَاتُّبِعَ فَإِنَّ لَهُ مِثْلَ أَوْزَارِ مَنْ اتَّبَعَهُ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا وَأَيُّمَا دَاعٍ دَعَا إِلَى هُدًى فَاتُّبِعَ فَإِنَّ لَهُ مِثْلَ أُجُورِ مَنْ اتَّبَعَهُ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا.

Dari Anas bin Malik dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bersabda: "Siapasaja menyeru pada kesesatan, kemudian seruannya diikuti oleh orang lain, maka ia akan mendapatkan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dari dosa mereka. Dan siapasaja menyeru pada petunjuk, kemudian seruannya diikuti oleh orang lain, maka ia akan mendapatkan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dari pahala mereka sedikitpun." (HR. Ibnu Majah 201)

Saya kira ini yg lebih penting untuk diketahui, tidak mesti harus dicari mafhum mukhalafahnya sekiranya makna bahasanya telah mencukupi apa yg dimaksud teks dalilnya.

Wallahu a'lam

==========

Nurul Lailatirrahmah

Om @Ahmad Yazid , INI LHO PERTANYAANNYA:

Dari hadits yg aku kutip terjemahnya di atas, mafhum mukholafahnya adalah :

Jikalau perbuatan yg buruk saja dosanya bisa mengalir kepada orang yg telah meninggal dunia, tentu perbuatan baik akan lebih bisa pahalanya mengalir kepada orang yg telah meninggal dunia.

PERTANYAANNYA :

Orang yang ......

1. Membaca Surat Al-Fatihah.

2. Membaca Surat Yasin.

3. Membaca Surat Al-Ikhlas.

4. Membaca Surat Al-Falaq

5. Membaca Surat An-Naas

6. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 1-5

7. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 163

8. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 255 (Ayat Kursi)

9. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 284 sampai akhir Surat.

10. Membaca Istighfar

11. Membaca Tahlil : لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ

12. Membaca Takbir : اَللهُ أَكْبَرُ

13. Membaca Tasbih : سُبْحَانَ اللهِ

14. Membaca Tahmid : الْحَمْدُ للهِ

15. Membaca shalawat Nabi.

16. Membaca Asma'ul Husna.

17. Membaca doa.

Membaca semua Itu merupakan perbuatan baik apa buruk?

Jika dosa perbuatan buruk bisa mengalir kepada Si Mayyit, kalau menurut teman teman Wahabi pahala dari perbuatan baik bisa mengalir kepada Si Mayyit apa tidak?

Monggo dijawab dengan ilmu 

$ads={1}

==========

Ahmad Yazid

Mba Nurul Lailatirrahmah , saya kira sebagaimana yg sudah dipahami, kelak yg dibawa oleh si mayyit adalah betul amal baiknya, tapi yg dikerjakan oleh dirinya semasa hidupnya, bukan amal orang lain. Karena seseorang tidak memperoleh apa apa kecuali apa yang telah diusahakan oleh dirinya (inilah dalil yang menampik pendapat sampainya kiriman pahala dari orang yg hidup pada orang yg mati), sebagaimana ayat:

Surat An-Najm (53) Ayat 39

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَـٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.

Surat Al-Muddatsir (74) Ayat 38

كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.

Dan haddits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila manusia meninggal maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat & anak Shalih yg mendoakannya." (HR. Nasai 3591)

Wallahu a'lam.

==========

Nurul Lailatirrahmah

Om Ahmad Yazid, Hujjah yang Om ajukan kok pemahamannya malah bertabrakan dengan hadits yang Om kutipkan sebelumnya Om.

Dalam hadits yg Om kutip sebelumnya sdh dijelaskan bahwa:

وَأَيُّمَا دَاعٍ دَعَا إِلَى هُدًى فَاتُّبِعَ فَإِنَّ لَهُ مِثْلَ أُجُورِ مَنْ اتَّبَعَهُ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا.

PERTANYAANKU:

Supaya tdk terjadi kontradiksi antara hadits yang sebelumnya dengan keterangan Om yang mengatakan bahwa seseorang tidak memperoleh apa-apa kecuali apa yg telah diusahakan oleh dirinya , bagaimanakah cara mengkompromikannya?

Monggo dijabarkan Om

==========

Ahmad Yazid

Mba Nurul Lailatirrahmah , tidak bertabrakan, dia menanggung dosa atas perbuatannya sendiri (memberi contoh atau mengajak orang lain pada amalan buruk, maka Allah nembalasnya dengan pahala dosa yang besar, begitu juga sebaliknya), jadi selaras, Allah mengganjar atas perbuatan dirinya.

$ads={2}

==========

Nurul Lailatirrahmah

Yang Om maksud dengan "begitu juga sebaliknya" tersebut maksudnya bagaimana & seperti apa?

==========

Nurul Lailatirrahmah

Kelihatannya Om

Ahmad Yazid keberatan menjawab pertanyaan aku di atas.

BAIKLAH, sekarang pertanyaannya aku ganti , begini:

Om Ahmad Yazid menolak tentang sampainya pahala dari yang masih hidup kepada Si Mayyit dgn mengurip ayat Al-Qur'an Surat An-Najm ayat 39:

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَـٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.

TANGGAPANKU:

Berikut ini aku kutipkan beberapa tafsir dari Ulama Muafsirin terkait tafsir dari ayat tsb:

Pertama :

Tafsir dari Abi Al-Wafa’ Ibnu ‘Aqil Al-Baghdadi Al-Hanbali (431-531 H) sebagai berikut:

اَلْجَوَابُ الْجَيِّدُ عِنْدِيْ أَنْ يُقَالَ أَلْإِنْسَانُ بِسَعْيِهِ وَحُسْنِ عُشْرَتِهِ إِكْتَسَبَ اَلْأَصْدِقَاءَ وَأَوْلَدَ اْلأَوْلَادَ وَنَكَحَ اْلأَزْوَاجَ وَأَسْدَى اْلخَيْرَوَتَوَدَّدَ إِلَى النَّاسِ فَتَرَحَّمُوْا عَلَيْهِ وَأَهْدَوْا لَهُ اْلعِبَادَاتِ وَكَانَ ذَلِكَ أَثَرُسَعْيِهِ (الروح, صحيفه: ١٤٥)

(Al-Ruh, 145)

Ke Dua :

Menurut Syekh Sulaiman bin Umar Al-‘Ajili menjelaskan sebagai berikut:

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ هَذَا مَنْسُوْخُ الْحُكْمِ فِي هَذِهِ الشَّرِيْعَةِ أَيْ وَإِنَّمَا هُوَ فِي صُحُفِ مُوْسَى وَاِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِمَا السَّلاَمِ بِقَوْلِهِ “وَأَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِيَّتَهُمْ” فَأُدْخِلَ اْلأَبْنَاءُ فِي اْلجَنَّةِ بِصَلَاحِ اْللأَبَاءِ. وَقَالَ عِكْرِمَةُ إِنَّ ذَلِكَ لِقَوْمِ إِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى عَلَيْهِمَا السَّلَامُ وَأَمَّا هَذِهِ اْلأُمَّةُ فَلَهُمْ مَا سَعَوْا وَمَا سَعَى لَهُمُ غَيْرُهُمْ (الفتوحات الإلهية,٤.٢٣٦)

(Al-Futuhat Al-Ilahiyyah, Juz IV, hal 236).

PERTANYAANKU :

Dari kedua tafsir tersebut , kira kira yang manakah yang Om Ahmad Yazid terima:

- Om terima kedua-duanya kah?

- Om terima salah satunya kah?

- Atau Om tolak kedua-duanya kah?

- Atau Om tolak salah satunya kah?

Monggo dijawab Om 

==========

Ahmad Yazid

Mba Nurul Lailatirrahmah ,yang dimaksud sebaliknya, sama, yg memulai kebaikan & diikuti orang lain baginya pahala yg mengalir walau dia telah mati selagi amalan itu masih dikerjakan orang lain (ini juga sepadan seperti dia meninggalkan ilmu yg manfaat), ini juga karena amal dirinya. Jadi nyambung nggak kontradiktif.

Masalah tafsir, maka sebagaimana ibnu abbas, keluarga/ahlinya mendapat manfaat dr amalnya adalah bagi yg mengikuti langkah keshalehan dirinya, maka ahli yg ditinggalkan juga harus beramal mengikuti jejak dirinya yg shaleh, bagi ahli yang durhaka tentu tidak memperoleh apa-apa kecuali amal dirinya. Jadi tafsir ini juga nyambung tidak kontradiktif.

Jadi tafsir juga sifatnya menguatkan nash dalil bukan berdiri sendiri sebagai landasan ibadah/ keyakinan.

==========

Nurul Lailatirrahmah 

Paparan Om Ahmad Yazid antara yang awal dengan yang berikutnya saling bertabrakan tdk karuan .

Juga tanggapan yang disampaikan dalam menanggapi 2 tafsir yang aku tuliskan di atas, gak nyambung sama sekali dengan konteks yang ada di tafsir tersebut.

==========

Ahmad Yazid

Saya kira yg kurang nyambung korelasi mbak Nurul Lailatirrahmah antara hadits dosa jariyyah diqiaskan dengan amal orang lain yg manfaat bagi mayyit padahal bukan amal si mayyit?

Haditsnya berbicara tentang balasan amal perbuatan pelakunya sendiri, sedangkan qiasnya tentang adanya manfaatnya amal orang lain bagi mayyit padahal bukan amalnya sendiri?

==========

Nurul Lailatirrahmah 

Sekarang gini aja Om

Ahmad Yazid, coba Om terjemahkan atau maknai dua tafsir yang telah aku ajukan di atas menurut yang Om pahami :

INI DUA TASIR yang aku maksud:

اَلْجَوَابُ الْجَيِّدُ عِنْدِيْ أَنْ يُقَالَ أَلْإِنْسَانُ بِسَعْيِهِ وَحُسْنِ عُشْرَتِهِ إِكْتَسَبَ اَلْأَصْدِقَاءَ وَأَوْلَدَ اْلأَوْلَادَ وَنَكَحَ اْلأَزْوَاجَ وَأَسْدَى اْلخَيْرَوَتَوَدَّدَ إِلَى النَّاسِ فَتَرَحَّمُوْا عَلَيْهِ وَأَهْدَوْا لَهُ اْلعِبَادَاتِ وَكَانَ ذَلِكَ أَثَرُسَعْيِهِ (الروح, صحيفه: ١٤٥)

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ هَذَا مَنْسُوْخُ الْحُكْمِ فِي هَذِهِ الشَّرِيْعَةِ أَيْ وَإِنَّمَا هُوَ فِي صُحُفِ مُوْسَى وَاِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِمَا السَّلاَمِ بِقَوْلِهِ “وَأَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِيَّتَهُمْ” فَأُدْخِلَ اْلأَبْنَاءُ فِي اْلجَنَّةِ بِصَلَاحِ اْللأَبَاءِ. وَقَالَ عِكْرِمَةُ إِنَّ ذَلِكَ لِقَوْمِ إِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى عَلَيْهِمَا السَّلَامُ وَأَمَّا هَذِهِ اْلأُمَّةُ فَلَهُمْ مَا سَعَوْا وَمَا سَعَى لَهُمُ غَيْرُهُمْ (الفتوحات الإلهية,٤.٢٣٦)

DISILAHKAN 

==========

Ahmad Yazid

Tidak jauh dari tanggapan saya yang di atas, ahli yang memperoleh manfaat dari amal mayyit (keshalehan si mayyit) adalah mereka yang mengikuti keshalehan si mayyit, bukan cuman ongkang-ongkang tapi kecipratan manfaat amal keluarganya yg shaleh yg telah mati.

Atau para ayah (orang tua) yang memperoleh pahala amal shaleh anaknya yg masih hidup, ini juga balasan amal perbuatannya si mayyit yang mendidik anaknya menjadi shaleh, hingga dia beroleh manfaat pahalanya walau dia telah tiada.

Keduanya sama sama beramal.

Saya hanya menanggapi yg sesuai ts, bukan saling menguji kapasitas ilmu?

==========

Nurul Lailatirrahmah 

Kok jawabannya gak nyambung ya Om .

Ini loh Om soal yang aku ajukan:

Sekarang gini aja Om Ahmad Yazid, coba Om terjemahkan dua tafsir yang telah aku ajukan di atas menurut yang Om pahami :

INI DUA TASIR yg aku maksud:

اَلْجَوَابُ الْجَيِّدُ عِنْدِيْ أَنْ يُقَالَ أَلْإِنْسَانُ بِسَعْيِهِ وَحُسْنِ عُشْرَتِهِ إِكْتَسَبَ اَلْأَصْدِقَاءَ وَأَوْلَدَ اْلأَوْلَادَ وَنَكَحَ اْلأَزْوَاجَ وَأَسْدَى اْلخَيْرَوَتَوَدَّدَ إِلَى النَّاسِ فَتَرَحَّمُوْا عَلَيْهِ وَأَهْدَوْا لَهُ اْلعِبَادَاتِ وَكَانَ ذَلِكَ أَثَرُسَعْيِهِ (الروح, صحيفه: ١٤٥)

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ هَذَا مَنْسُوْخُ الْحُكْمِ فِي هَذِهِ الشَّرِيْعَةِ أَيْ وَإِنَّمَا هُوَ فِي صُحُفِ مُوْسَى وَاِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِمَا السَّلاَمِ بِقَوْلِهِ “وَأَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِيَّتَهُمْ” فَأُدْخِلَ اْلأَبْنَاءُ فِي اْلجَنَّةِ بِصَلَاحِ اْللأَبَاءِ. وَقَالَ عِكْرِمَةُ إِنَّ ذَلِكَ لِقَوْمِ إِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى عَلَيْهِمَا السَّلَامُ وَأَمَّا هَذِهِ اْلأُمَّةُ فَلَهُمْ مَا سَعَوْا وَمَا سَعَى لَهُمُ غَيْرُهُمْ (الفتوحات الإلهية,٤.٢٣٦)

DISILAHKAN

Waktunya 10 menit dari skrg

Kalau memang gak bisa bilang saja gak bisa ya Om, daripada komentarnya ngelantur ke mana-mana

==========

Nurul Lailatirrahmah 

Akhirnya ZONK.

Berikut ini aku tuliskan terjemah dari kedua TAFSIR di atas :

TAFSIR tersebut mentafsirkan Al-Qur'an Surat An-Najm ayat 39 yg ditulis oleh Om Ahmad Yazid dalam komentar yang sudah jauh di atas, yaitu:

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَـٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yg telah diusahakannya.(An-Najm ayat 39)

Berikut ini TAFSIRNYA :

Tafsir dari Abi Al-Wafa’ Ibnu ‘Aqil Al-Baghdadi Al-Hanbali (431-531 H) sebagai berikut:

اَلْجَوَابُ الْجَيِّدُ عِنْدِيْ أَنْ يُقَالَ أَلْإِنْسَانُ بِسَعْيِهِ وَحُسْنِ عُشْرَتِهِ إِكْتَسَبَ اَلْأَصْدِقَاءَ وَأَوْلَدَ اْلأَوْلَادَ وَنَكَحَ اْلأَزْوَاجَ وَأَسْدَى اْلخَيْرَوَتَوَدَّدَ إِلَى النَّاسِ فَتَرَحَّمُوْا عَلَيْهِ وَأَهْدَوْا لَهُ اْلعِبَادَاتِ وَكَانَ ذَلِكَ أَثَرُسَعْيِهِ (الروح, صحيفه: ١٤٥)

“Jawaban yang paling baik menurut saya (Abi Al-Wafa’ Ibnu ‘Aqil) , bahwa manusia dengan usahanya sendiri, dan juga karena pergaulannya yang baik dengan orang lain, ia akan memperoleh banyak teman, melahirkan keturunan, menikahi perempuan, berbuat baik, serta menyintai sesama. Maka, semua teman-teman, keturunan dan keluarganya tentu akan menyayanginya kemudian menghadiahkan pahala ibadahnya (ketika telah meninggal dunia). Maka hal itu pada hakikatnya merupakan hasil usahanya (Si Mayyit) sendiri.” (Al-Ruh, 145).

Adapun menurut Syekh Sulaiman bin Umar Al-‘Ajili menjelaskan sebagai berikut:

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ هَذَا مَنْسُوْخُ الْحُكْمِ فِي هَذِهِ الشَّرِيْعَةِ أَيْ وَإِنَّمَا هُوَ فِي صُحُفِ مُوْسَى وَاِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِمَا السَّلاَمِ بِقَوْلِهِ “وَأَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِيَّتَهُمْ” فَأُدْخِلَ اْلأَبْنَاءُ فِي اْلجَنَّةِ بِصَلَاحِ اْللأَبَاءِ. وَقَالَ عِكْرِمَةُ إِنَّ ذَلِكَ لِقَوْمِ إِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى عَلَيْهِمَا السَّلَامُ وَأَمَّا هَذِهِ اْلأُمَّةُ فَلَهُمْ مَا سَعَوْا وَمَا سَعَى لَهُمُ غَيْرُهُمْ (الفتوحات الإلهية,٤.٢٣٦)

Ibnu Abbas berkata bahwa:

Hukum ayat tersebut telah di-mansukh/diganti dalam syari’at Nabi Muhammad SAW. Hukumnya hanya berlaku dalam syari’at Nabi Ibrahim AS & Nabi Musa AS, kemudian utk umat Nabi Muhammad SAW kandungan QS. Al-Najm 39 tersebut dihapus dgn firman Allah SWT :

وَأَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِيَّتَهُمْ

Ayat ini menyatakan bahwa seorang anak dapat masuk surga karena amal baik ayahnya.

Ikrimah mengatakan bahwa tidak sampainya pahala (yang dihadiahkan) hanya berlaku dalam syari’at Nabi Ibrahim AS & Nabi Musa AS. Sedangkan utk umat Nabi Muhammad SAW mereka dapat menerima pahala amal kebaikannya sendiri/amal kebaikannya sendiri/amal kebaikan orang lain” (Al-Futuhat Al-Ilahiyyah, Juz IV, hal 236).

==========

Demikian Artikel " Diskusi Mengenai Hukum Tahlilan Antara Nurul Lailatirrahmah dengan Ahmad Yazid "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama