Mutiara Ahlul Bait Dari Yaman

MUTIARA AHLUL BAIT DARI YAMAN

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Pada masa kekuasaan dinasti Abbasiyyah, banyak keturunan Ahlul Bait (keturunan Nabi) yang memilih hijrah dari pusat-pusat kekuasaan. Setelah Sayyidina Muhammad bin Ali al-Hanafiyyah melakukan perlawanan, rezim Abbasiyyah yang dipimpin Abu al-Abbas al-Safāh makin menunjukkan sikap kerasnya terhadap Ahlul Bait terutama dari keturunan Sayyidina Ali bin Abu Thalib. 

Politik tidak memandang garis keturunan. Walaupun sama-sama keturunan Abd ul-Muthallib, para pemimpin Abbasiyyah tampaknya menganggap keturunan Sayyidina Ali dan Sayyidah Fathimah al-Zahra sebagai ancaman yang harus disingkirkan. 

Para keturunan Ahlul Bait dari garis Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain, kemudian menyingkir dari Irak. Mereka berpencar menuju tempat-tempat yang mau menerima kehadiran mereka. Sayyidina Idris al-Akbar yang merupakan keturunan Sayyidina Hasan memilih Maghrib atau Marokko sebagai destinasi Hijrahnya. Sebagian keturunan Sayyidina Ali al-Uraidh memilih hijrah ke Mesir dan Syam. Sebagian lagi memilih Yaman sebagai destinasi hijrah mereka.

$ads={1}

Sayyidina Ahmad bin Isa bersama saudaranya Sayyidina Muhammad berangkat ke Yaman untuk menjaga agama dan keturunannya. Kisah hijrahnya Sayyidina Ahmad dan Muhammad atau yang populer dengan sebutan al-Imam al-Muhajir ini, lebih dikenal masyarakat Indonesia ketimbang kisah hijrah Ahlul Bait lainnya. Di Indonesia, keturunan Ahlul Bait lebih banyak yang berasal dari garis Sayyidina Husain bin Ali. Hanya dua nama dari garis keturunan Sayyidina Hasan yang diketahui di Pulau Jawa yaitu dari fam (keluarga) al-Anggawi dan keluarga besar Pesantren Somalangu Kebumen. 

Bersama 60 orang anggota keluarganya, Sayyidina Ahmad bin Isa al-Muhajir tiba di Yaman. Pemilihan Yaman sebagai tujuan didasarkan kepada ucapan kakek mereka, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: 

اللهُمَّ بَارِكْ لِيَمَنِنَا

Ya Allah, berikan keberkahan bagi Yaman...

Selain itu, tiang Ka'bah yang mempunyai keistimewaan setelah tiang Hajar Aswad adalah tiang yang menghadap ke Yaman (rukun Yamani). 

Sayyidina Ahmad al-Muhajir agaknya masih teringat dengan pesan Sayyidina Abdullah bin Abbas yang menyarankan agar Sayyidina Husain dulu, menyingkir ke Yaman. Karena di Yaman, banyak pecinta Rasulullah dan pendukung Sayyidina Ali. 

Pilihan menetapkan Yaman sebagai tempat tinggal itu tidak keliru. Para keturunan Rasulullah itu mendapat sambutan hangat dari masyarakat Yaman. Di sana mereka hidup tenang menyebarkan agama kakek mereka dan membangun peradaban ilmu. Dari konsistensi dakwah dan tarbiyah itu, muncul para ulama besar dari kalangan Ahlul Bait. Di antara nama-nama yang populer dari mereka adalah al-Imam al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddād rahimahullah. 

Al-Habib al-Haddad atau yang juga disebut sebagai shahib ul-ratib merupakan penghulu umat pada masanya. Banyak jasa yang beliau berikan kepada umat. Selain sebagai suluh bagi umat, al-Imam al-Haddad juga sering mendamaikan perselisihan yang terjadi di antara umat. 

Dari sisi keilmuan, jasa dari al-Imam al-Haddad adalah memudahkan umat di dalam memahami Kitab Ihya Ulumiddin karya Imam al-Ghazali. Tulisan-tulisan Imam al-Haddad seperti menjelaskan secara detail mutiara-mutiara yang tersimpan di dalam semua karya tasawwuf Imam al-Ghazali. 

$ads={2}

Walaupun dihinggapi keterbatasan penglihatan, Imam al-Hadad dapat melihat dengan jelas dinamika keislaman yang terjadi di tengah umat. Uraian-uraiannya tentang hakikat iman, islam dan taqwa menyentuh hal mendasar yang dirasakan kalangan awam. Itu bisa dipahami dari tafsir beliau terhadap ayat 101 surat Alu Imran tentang makna perintah "bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa". Al-Imam al-Haddād menulis: 

ولن يستطيع العبد ولو كان له الف الف نفس الى نفسه. والف الف عمر الى عمره ان يتقي الله حق تقاته ولو انفق جميع ذلك في طاعة الله ومحابه، ولذلك لعظم حق الله تعالى على عباده ولجلالة عظمة الله وعلوّ كبريائه وارتفاع مجده. 

Seseorang, walaupun memiliki ribuan nyawa atau diberikan umur ribuan tahun, tidak akan mampu bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Dikatakan demikian, karena hak Allah atas hamba-hamba-Nya begitu besar. Ditambah lagi dengan betapa agungnya kekuasaan Allah dan betapa tingginya kemuliaan yang dimiliki Allah. 

Al-Imam al-Hadad melanjutkan: 

وقد قال بعض العلماء انّ قوله تعالى ( اتقوا الله حقّ تقاته) منسوخ بقوله تعالى (فاتقوا اللهَ ما استطعتم) وقال بعضهم الاية الثانية مبينة للمراد من الاية الاولى لا ناسخة لها، وهذا هو الصواب إن شاء الله. فإنّ الله تعالى وله الحمد لا يكلِّف نفسًا الا وسعها

Sebagian ulama berpendapat bahwa firman Allah (bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa) dihapus dengan firman Allah (bertakwalah kepada Allah semampu kalian). Sebagian ulama lagi berpendapat bahwa ayat kedua ini menjadi penjelas bagi ayat yang pertama, bukan menghapus ayat yang pertama. Ini merupakan pendapat yang benar insya Allah. Karena Allah, bagi-Nya segala puji, tidak membebankan kepada seseorang kecuali sesuai dengan batas kemampuannya. 

Catatan jelang ngaji Kitab al-Nashaih ul-Diniyyah karya Imam al-Haddad rahimahullah...

Oleh : KH. Abdi Kurnia Djohan

Demikian Artikel " Mutiara Ahlul Bait Dari Yaman "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama