Tren Nikah Muda membawa Hikmah?

TREN NIKAH MUDA MEMBAWA HIKMAH?

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Saya dulu itu termasuk yang paling mbalelo dengan trend yang marak di tengah aktifis dakwah dalam urusan menikah muda. 

Padahal kebanyakan teman saya pada nikah muda. Malahan ada yang masih belum lulus kuliah, bahkan baru tahun kedua atau tahun pertama, sudah pada punya anak.

Asal tahu saja, bahwa trend nikah muda itu memang seolah menjadi salah satu dasar penilaian level ketaatan dalam beragama, setidaknya untuk ukuran komunitas kami. Sampai ada tradisi bahwa yang sudah menikah dipastikan akan jadi imam shalat dalam setiap shalat berjama'ah.

Dalilnya adalah orang yang menikah itu sudah menyelesaikan setengah agamanya, tinggal menyelesaikan setengahnya lagi. 

Dan karena kecil-kecil sudah pada menikah sekaligus tidak ada pacar-pacaran (adanya ta'aruf), maka mereka sangat produktif bikin anak dan tiba-tiba saja anaknya sudah banyak. 

Dan uniknya jarak usia antara anak dan abi-uminya memang dekat-dekat semua.  Bayangkan, lulus SMA masih kuliah baru tahun kedua sudah menikah. 

oOo

Di tengah maraknya trend nikah muda itu, saya entah bagaimana tidak mau, tidak siap dan tidak cocok. Bukan apa-apa, untuk urusan aktif di ROHIS saja saya sudah ribut panjang kali lebar dengan Ayah saya. Masak mau ditambah lagi beban mau nikah muda segala?

Tapi pertimbangan yang paling logis bagi saya saat itu adalah saya belum bekerja, belum punya ma'isyah dan pemasukan tetap. Mau kasih makan anak istri batu bata atau batu kali pun tetap kudu beli di tokok matrial bangunnan. Nggak ada batu gratis di Jakarta.

Sebenarnya masalah belum punya ma'isyah ini juga dialami oleh teman-teman saya saat itu. Makanya pada aktif berbisnis dengan bermacam jenis jualan, mulai jualan buku, majalah, lembar jumat, minyak wangi, madu, pakaian muslim/ah, kaset nasyid, video/VCD bajakan, sampai peralatan camping. 

Saya sama sekali tidak bakat jualan kayak gitu. Makanya saya tidak pernah berminat menikah muda seperti yang lain. Seluruh biaya hidup saya 100% masih ditanggung ayah ibu saya. Dan mereka pasti tidak akan setuju kalau belum lulus kuliah sudah teriak-teriak minta kawin.

Teman-teman saya yang lain pun sama. Tapi mereka berani menantang resiko ribut sama orang tuanya. Padahal biaya kuliah masih 100% menggantungkan diri pada kiriman wesel dari kampung. 

Tapi memang saya perhatikan beberapa teman saya itu berhasil berkomunikasi dengan orang tuanya, sehingga urusan izin menikah muda bagi mereka tidak jadi masalah. Buktinya, orang tua mereka mengizinkan.

Tapi tidak dengan saya. Saya yakin betul orang tua saya pasti menentang saya menikah muda. Saya sudah bisa menebak kalimat apa yang akan keluar dari mulut mereka untuk menentang saya, seandainya saya merengek minta nikah.

Makanya urusan menikah muda ini bagi saya sebuah pengecualian. Dan ini merupakan wan-prestasi bagi aktifis muda macam saya. Sebab selevelan saya, urusan menikah muda ini jadi salah satu alat ukur ketataan dan berserah diri.

Berserah diri?

Ya, berserah diri. Karena saya masih mengalami masa-masa pernikahan itu ditetapkan berdasarkan 'amr' atau perintah dari murobbi. Siapa yang akan jadi istri kita, bukan kita yang menentukan, tapi murabbi kita. 

Dalam kasus ini saya memang menyaksikan bagaimana teman-teman saya pucat pasi ketika telah 'dijodohkan' dengan ukhti a, b, atau c. 

Tidak boleh milih sendiri sesuai selera. Kalau sampai ada yang melakukannya, maka akan turun derajatnya dan selalu dijadikan contoh bagaimana orang-orang yang futur di jalan dakwah. 

Memang dilemmatis jadinya, antara keinginan menikah muda yang menggebu karena setiap hari terus dikomporin untuk segera menikah muda, dengan kewajiban taat pimpinan demi menyelamatkan para akhwat kita, biar tidak 'dipanen' orang lain.

Hehe istilahnya 'menyelamatkan'. Kesannya kalau akhawat itu sampai dinikahi oleh aktifis yang bukan kelompok kita, maka dianggap produk gagal dan tidak selamat. 

oOo

Yang unik dulu itu saya belum menikah, tapi saya malah punya binaan halaqoh akhawat. Mungkin buat cucu-cucu milenial aneh sekali. Tapi di masa itu tidak, sebab murobbi saya, Ustadz Rahmad Abdullah sendiri juga punya halaqah khusus akhwat, dimana beliau jadi murabbinya. 

Biar bagaimana pun ini aneh kalau dilihat dari sudut pandang kalangan aktifis timur tengah, sebab jarak ikhwan akhawat begitu dijaga. Syura saja kudu pakai tabir, bagaimana bisa perjaka ting-ting belum nikah kok jadi murobbi buat satu group akhawat.

$ads={1}

Tapi itulah yang saya lakukan, jiplak 100% dari murabbi saya. Bukan hanya satu bahkan dua halaqoh akhawat yang saya bina. 

Nah uniknya, satu per satu akhwat binaan saya ini pada menikah, karena memang usianya sudah matang dan memang ada yang melamar. Mereka sih pamit dan minta izin ke saya. Dan bagi saya sendiri saat itu, tidak jadi masalah, apakah mau dinikahi dengan sesama kelompok kita atau bukan. 

Apalagi yang menarik justru setelah menikah, para akhawat binaan saya ini malah memerintahkan suami-suami mereka untuk ikut liqo'. Memang saat itu ada semacam trend, kalau akhwat dinikahi oleh yang bukan ikhwan, maka minimal orangnya kudu hanif dan kalau bisa diajak liqo' juga nantinya. Istilahnya didakwahi secara fardhiyah.

oOo

Saya sendiri pada akhirnya membebaskan saja urusan mau menikah muda, mau menikah dengan sesama jalur dakwah, atau mau bagaimana saja, terserah dan atur saja sendiri.

Sebab ketika saya kuliah di Fakultas Syariah, masuk bab-bab nikah, tak satu pun para ulama fiqih empat mazhab di masa lalu yang meributkan kudu nikah muda, kudu yang se-jalur dakwah, kudu lewat murabbi, kudu ini dan kudu itu. 

Ternyata semua itu hanya trend, budaya, adat, atau kebiasaan yang berlaku di suatu komunitas. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan hukum-hukum syariah. 

Malahan banyak sekali ulama yang sampai wafatnya pun masih dalam posisi belum menikah. Dan mereka tidak tercela, karena setiap orang punya kondisi masing-masing, bahkan hidup di atmosfir kehidupan yang saling berbeda.

oOo

$ads={2}

Karena saya tidak suka dijodoh-jodohkan, maka otomatis saya sendiripun tidak mau menjodoh-jodohkan orang lain, bahkan meski pun posisinya saya dimintai tolong. 

Kalau orang tua yang datang silaturrahim ke rumah menyerahkan puterinya untuk dicarikan jodoh, sudah cukup banyak. Tapi buat saya malah jadi beban. Kesannya saya ini biro jodoh melayani 24 jam. 

Sedangkan para mahasiswa saya di Rumah Fiqih, sebagiannya mahasiswanya ada yang menikahi mahasiswi adik angkatannya, namun sebagian lagi pada milih sendiri. 

Tapi kebanyakannya mahasiswi saya menikah bukan dengan mahasiswa saya. Mereka pada milih sendiri suaminya sesuai dengan selera, adat, urf, kebiasaan serta minat yang Allah benamkan dalam diri mereka. 

Saya tidak menjodohkan, saya tidak memfasilitasi, juga tidak mengharuskan. Semua terserah masing-masing. 

Saya cuma kebagian ceramah walimah, hehe.

oleh Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Demikian Artikel " Tren Nikah Muda membawa Hikmah? "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama