Jangan Cemas, Tetap tenang dan Jangan lupa bahagia Ketika Sakit

JANGAN CEMAS, TETAP TENANG DAN JANGAN LUPA BAHAGIA KETIKA SAKIT

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Beberapa waktu yang lalu saya mengidap penyakit aneh, aneh bagi saya karena ini adalah pengalaman pertama saya merasakan gejala penyakit seperti itu. Hampir sebulan saya hanya diam di rumah, semua undangan ceramah dan acara lainnya saya batalkan.

Gejalanya saya sering takut ( takut sembarang, takut mati dll ) kebingungan, cemas ( bringsang kalo istilah Madura-nya )

Jika perasaan itu mulai datang maka keringat dingin keluar, kaki dan tangan juga ikut mendingin, jantung berdetak lebih kencang dari biasanya. di tengah kerumunan biasanya kecemasan itu seringkali datang, bahkan saya nyaris membatalkan sholat jamaah di rokaat kedua ketika saya sholat di Masjid Martajasah. Kadang jika saya “kebingungan” di rumah, ingin rasanya segera keluar untuk mencari suasana baru.. 

Setelah curhat kesana-sini hampir semua sepakat “menvonis” bahwa penyakit yang saya derita adalah gejala penyakit lambung ( kalo kata orang Madura bagian Timur namanya penyakit Sur ) toh padahal waktu itu saya belum merasakan sakit atau nyeri apapun di bagian perut dan sekitarnya. Akhirnya karena terpengaruh dengan hasil sharing sana-sini, dan gejala yang saya rasakan juga hampir mirip dengan sakit lambung maka mulai saat itu saya sangat yakin bahwa saya memang sakit lambung, bahkan sebelum saya pergi ke dokter spesialis dalam. Dan mulai saat itu perut mulai terasa nyeri, sering mual, nafsu makan menurun, dada terasa penuh dan saya juga sering sulit tidur atau bahkan tiba-tiba bangun “terkejut” di malam bolong. 

Akhirnya tiba suatu hari dimana saya “memberanikan” diri untuk periksa ke dokter, waktu itu dengan badan lemas, perut nyeri, dan kepala berat seperti ada “sesuatunya” saya masuk ke ruang salah satu dokter specialis dalam di Bangkalan. Setelah mencurhatkan semua gejala yang saya alami lantas dokter melakukan diagnosa, saya dibuat kaget karena ternyata dokter menyimpulkan bahwa tidak ada masalah pada lambung saya, lambung saya sehat-sehat saja. 

“ Penyakit pean ini lebih ke bawaan cemas.. jadi cemasnya yang harus diobati “ kata dokter dengan begitu santai dan begitu yakinnya. 

Saya yang masih belum percaya terus menghujani dokter dengan pertanyaan-pertanyaan : “ kok bisa dok.. ? “ bukan sakit lambung dok ? Tapi Saya sakit perut dok ? Cemas, kepala berat ? “ 

“ iyaa.. itu semua akibat cemas.. psikis yang menyebabkan penyakit medis “ 

Jadi intinya.. karena saya meyakini haqqul yakin bahwa saya sakit lambung, itulah yang menyebabkan timbulnya gejala-gejala asam lambung. 

Singkat cerita saya pulang dari klinik, dan mulai saat itu saya berusaha mengamini ucapan dokter bahwa saya tidak sakit, saya sehat-sehat saja, bahwa sakit yang saya rasakan itu hanyalah bawaan cemas. Sebelumnya memang saya sempat diberi tahu salah satu sahabat tentang penyakit Psikosomatis, penyakit yang berawal dari fikiran ( stress, kecemasan dll ) yang akhirnya menimbulkan penyakit fisik. 

Ajaibnya.. sepulangnya saya dari klinik, setelah dokter menvonis saya tidak sakit lambung dan saya mengamininya, mulai saat itu kondisi saya mulai membaik, nafsu makan meningkat lagi dan nyeri perut perlahan mulai hilang.. 

$ads={1}

Saat itu saya mulai menyadari, bahwa ketenangan dan kebahagiaan merupakan anugrah yang sangat agung dari Allah, bagaimana fikiran bisa memiliki kekuatan yang sedemikian besar. Saya berusaha mencari dalam karya-karya para ulama kita tentang penyakit yang saya alami ini, dan Alhamdulillah Lora Nurizzain - Jazahullah Khair - memberi info, bahwa Sekelas Imam Ghozali pun pernah mengidap penyakit yang mungkin hampir sama, tepatnya ketika beliau tiba-tiba tidak bisa menggerakkan lisan beliau untuk mengajar, padahal waktu itu beliau sedang berada di puncak kejayaan sebagai ulama dan guru besar di Madrasah Nidhomiah, Imam Ghozali mengenang kisahnya itu dalam kitabnya المنقذ من الضلال :

‎فكنت أجاهد نفسي أن أدرس يوماً واحداً تطييباً لقلوب المختلفة إلي، فكان لا ينطلق لساني بكلمة واحدة ولا أستطيعها البتة، حتى أورثت هذه العقلة في اللسان حزناً في القلب، بطلت معه قوة الهضم ومراءة الطعام والشراب، فكان لا ينساغ لي ثريد، ولا تنهضم لي لقمة، وتعدى إلى ضعف القوى، حتى قطع الأطباء طمعهم من العلاج وقالوا: هذا أمر نزل بالقلب، ومنه سرى إلى المزاج، فلا سبيل إليه بالعلاج، إلا بأن يتروح السر عن الهم الملم.

“ waktu itu aku mencoba untuk mengajar sehari untuk tidak mengecewakan hati mereka yang mengaji kepadaku, akan tetapi lisanku sama sekali tidak bisa mengucap se-hurufpun. Hingga akhirnya hal itu membuat diriku sangat sedih, badanku lemas dan aku tidak nafsu makan dan minum. Sampai-sampai para dokter putus asa untuk mengobatiku, mereka berkata : “ ini adalah kecemasan hati yang menyebabkan sakit fisik. Maka tidak ada cara untuk mengobatinya kecuali jika hati merasa nyaman dan terbebas dari kecemasan dan kegelisahan yang meliputinya “

Jadi benar apa yang dikatakan oleh sebagian ulama : 

‎الأمراض كلها تأتي من الله و لكن الأفكار تسرع وصولها 

“ semua penyakit datangnya memang dari Allah, namun fikiran negatif bisa mempercepat sampainya kepada kita “

Apa sakit yang saya alami ini penyakit non-medis ? Ain, sihir dll ? Wallahu a’lam.. namun saya yakin apa yang diucapkan guru saya Sayyidil Habib Umar bahwa siapa yang melazimkan khulasoh Madad ( yang di dalamnya ada Hizb Nashor, Hizb Bahas, Hizb Sakron, Hizb Nawawi dll ) insyaallah tidak akan terkena gangguan apapun. 

$ads={2}

Saya menuliskan ini bukan sekedar curhat, tapi mungkin saja ini bermanfaat untuk kalian yang pernah, sedang atau akan mengalaminya. Melalui tulisan ini, di tengah keadaan yang genting seperti ini, di tengah kabar-kabar kematian yang setiap hari datang bertubi-tubi, saya juga ingin berpesan kepada kalian untuk tetap menjaga nikmat kesehatan yang diberikan Allah, dan demi itu.. jangan terlalu cemas dan panik di tengah berita yang beredar, jangan lupa rileks dan bahagia.. dan saya.. meskipun bukan siapa-siapa kalian.. dengan tulus berharap semoga kalian selalu tenang dan bahagia.. 

saya pernah sakit, saya juga pernah harap-harap cemas menunggu kesembuhan aba saya yang kini sudah meninggal, Jadi saya berdoa semoga kalian yang sakit ( entah itu Corona atau sakit apapun), atau orang tua kalian, atau keluarga kalian siapapun itu, semoga segera diberi kesembuhan dan kekuatan oleh Allah.. dan sekali lagi, demi kesehatan dan kesembuhan kalian, tetaplah tenang, jangan cemas dan berbahagialah.. lakukan apapun yang bisa membuat kalian senang dan bahagia selama hal itu dihalalkan oleh Allah. Teringat sebuah kalam yang dinisbatkan kepada Ibnu Sina “Avicenna”( Bapak kedokteran Modern ) : 

"الوهم نصف الداء، والاطمئنان نصف الدواء، والصبر أول خطوات الشفاء"

“ ketakutan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan ( keinginan untuk sembuh serta ) kesabaran adalah langkah pertama untuk kesembuhan “

Tetap waspada, tetap jaga prokes, tapi jangan terlalu panik, tetap tenang dan jangan lupa bahagia

Oleh: Ismael Amin Kholil, Bangkalan,

Demikian Artikel " Jangan Cemas, Tetap tenang dan Jangan lupa bahagia Ketika Sakit "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama