Faedah-faedah Kitab Al-Futuhat Al-Rabbaniyah Imam Ibnu 'Allan


FAEDAH-FAEDAH KITAB AL-FUTUHAT AL-RABBANIYAH IMAM IBNU 'ALLAN

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Alhamdulillah, tiga hari lalu ngaji Washoya, khatam (Semoga manfaat fid-dunya hattal-akhirah. Amin). Dan esoknya langsung tancap gass ngaji Adzkar Nawawi. Sebuah kitab yang sangat populer di pesantren dengan banyak sekali terjemahan beredar. Secara garis besar kitab ini merangkum doa, wirid, selipan fiqh yang tujuannya agar di amalkan dan dijadikan pegangan hidup. Bahkan dulu Beliau Imam Nawawi (631-676 H.) bercita-cita menjadikan kitab ini semacam matan/kitab induk. Dan beberapa abad setelahnya ada yang menjabarkannya, seperti kitab Futuuhatur-Rabbaniyahnnya Imam Ibnu ‘Alan (980-1058 H.).

Nah, di sela-sela menjaga toko, hamba mengetik faidah tipis-tipis dari Futuuhatur-Rabbaniyahnnya Imam Ibnu ‘Alan, yang masih membahas muqaddimah Adzkar Nawawi, dengan sedikit menambah keterangan pribadi dan dari kitab lain, minimal sebagai pengingat diri yang punya otak byar-pet ini:

Zuhud: Mengambil harta dunia yang di yakini halal, sekadar darurat. Ini lebih khusus dari wirai, sebab pengertian wirai adalah meninggalkan harta dunia yang masih belum jelas halal-haramnya (al-mutasyabbih). Tapi ingat! Ini adalah zuhudnya ‘Aarifiin. Yang lebih tinggi adalah zuhudnya orang-orang yang senantiasa mendekat kepada Allah Ta’ala (Al-Muqarrabin), yakni, mereka hanya terpaku kepada Allah Ta’ala, meninggalkan selainNya; baik syurga, keadaan, ataupun derajad! 

Namun seperti biasa terjadi khilaf dalam istilah syariat yang belum di “pakemkan” Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallama, Zuhudpun dalam kitab Quutul Qulubnya Syaikh Abu Thalib al-Makkiy (W. 386 H.) 372/1 Syamilah ada yang mengatakan:

Sebagian kaum mengatakan: Zuhud di dunia adalah THALABUL HALAAL (Mencari halal dalam semua aspek kehidupan). Hal itu sebuah keniscayaan kehidupan di zaman ini, sebab carut-marutnya segala hal, serta kesyubhatan (tidak jelas halal haram) yang merajalela. Karenanya mereka berkata: “Zuhud adalah hal yang harus di lakukan”. Ini madzhab Imam Ibrahim bin Adham, Imam Wuhaib bin Wardi, Imam Sulaiman Al Khawwas dan segolongan Ahli Syam“.

Imam Sahl berkata, “Manusia yang paling zuhud di dunia adalah orang yang paling Jernih/suci makanannya” lalu beliau melanjutkan, “Derajat wira’i (menjaga halal-haram) tertinggi adalah Zuhud yang paling rendah”.

***

Maksud mencari ridha Allah Ta’ala: Yakni sekira Allah Ta’ala melihat hamba tersebut senantiasa melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya.

Maksud murka Allah adalah: Turunnya siksa.

***

$ads={1}

Hamba secara lughat adalah manusia. Secara syara’: Manusia yang terkena tuntutan agama walaupun ia merdeka. Ada sebagian ulama yang mengatakan: Maksud hamba adalah manusia yang jual belinya sah menurut agama (Mengecualikan anak kecil, orang gila)

***

AlHabib: Perasaan cinta sebagaimana kekasih. Dan diantara seluruh makhluk, yang paling besar dicintai Allah Ta’ala adalah Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallama. Selain bergelar alHabib, Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam juga bergelar alKhalil.

Alkhalil: Perasaan cinta/sayang sebagaimana sahabat. Jadi, walaupun Nabi Ibrahim bergelar alkhalil, namun Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallama mengunggulinya. Ingat! baik derajad, maupun dzat!

***

Ada hadis: “Bershalawatlah pada para Nabi Allah dan RusulNya, sebab mereka diutus sebagaimana Aku (Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallama)”

***

Makna asal “keluarga Nabi shallallahu alaihi wasallam” adalah mereka yang haram mendapatkan sedekah zakat, namun mendapatkan seperlima bagian ghanimah. Tapi yang dikehendaki disini (Dalam mukaddimah kitab Adzkar Nawawi) adalah semua ummat! Iya, jadi dalam kitab ini, Imam Nawawi ingin mendoakan keselamatan pada seluruh ummat Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallama. Lha ummat itu kan macam-macam, ada yang biasa dan ada yang shalih, makanya pada lafadz seterusnya ada kata-kata: “Dan seluruh orang shalih”

***

Pada firman Allah Ta’ala: “Ingatlah padaKu, maka Aku akan mengingat kalian”, kata Imam Waahidi: “Sayyidina Ibnu Abbas dan Sayyidina Sa’id bin Jubair mentafsiri: ‘Ingatlah dengan taat kepadaKu, maka aku akan mengingat kalian dengan pengampunanKu’”.

Suatu ketika Abdul Malik mengirim surat kepada Sayyidina Sa’d bin Jubair beberapa masalah, salah satunya adalah tentang dzikir/ingat Allah ini. Dan beliau menjawab: “Kau tanya tentang dzikir/ingat Allah. Maka jawabnya: Ingat Allah itu dengan berusaha taat padaNya. Yang taat kepada Allah, maka ia dikategorikan ingat kepada Allah, yang tidak taat, maka tidak di kategorikan ingat/dzikir,walaupun banyak membaca tasbih dan Qur’an. Jadi, jika kau bertanya tentang firman Allah Ta’ala: ‘Ingatlah padaKu, maka Aku akan mengingat kalian’, maka maksudnya adalah sesungguhnya Allah berfirman: ‘Ingatlah dengan taat kepadaKu, maka aku akan mengingat kalian dengan pengampunanKu’”.

***

Firman Allah Ta’ala: “Tidak Kuciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk menyembahku” Maksudnya semuanya kembali hanya untuk menyembah Allah Ta’ala. 

Ada yang mengatakan: Maksud menyebah disini adalah beribadah dengan suka rela tanpa ada paksaan. 

Ada juga yang mengatakan: Maksud menyembah adalah mengenal Allah Ta’ala. Bahkan kata Sayyidina Ibnu Abbas, “Setiap lafadz Ibadah dalam al-Qur’an, yang di maksud adalah mengenalNya!”

***

Kalau bisa doa dengan yang ma’tsur (Doa yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wasallama baik lewat Qur’an maupun Hadis). Bahaya kalau doa buatan sendiri lalu dinisbatkan pada para Nabi atawa shalihin, semisal ini adalah doa nabi Nuh, Nabi Yunus dan lainnya, padahal itu belum jelas terang benderang buatan beliau-beliau. Menurut Imam Nawawi wirid dengan doa dan hizib para Masyayikh ndak apa-apa, tapi yang lebih afdhal tetap menggunakan doa ma’tsur.

***

$ads={2}

Orang yang suka beribadah (Muta’abbid) biasanya suka langsung praktek wirid yang di ketahuinya, sebab mereka lebih tertarik dengan kemulyaan wirid itu dan kegagahannya (Aku mewirid ini sekian kali langsung terjadi hal mistis begini, je! Setelah mewirid ini, alhamdulilla hatiku semakin mantab atas ke-EsaanNya. Misalll). Hingga kadang mereka tidak suka meneliti terlalu dalam tentang cerita dari apa yang ia wiridkan. 

Karenanya, ada yang mensifati Imam Sufyan at-Tsauri dengan: “Sebenarnya diatu enak-enaknya manusia lho, andai tidak berjibaku dengan ahli hadis”. Dalam Tanbih Imam Qasthalani; Imam Abu Bakar az-Zaqqaaq berkata: “Bahaya pencari tuhan (Murid Thariqah) ada tiga: Senang mempublikasikan wiridnya, senang menulis hadis, dan senang menulis kitab-kitab besar.” Tapi, maksud dari hadis ini adalah kisah-kisah sejarah, bukan hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallama. (Jadi, kadang terlalu banyak melihat riwayat wirid dari sudut pandang sejarah, malah bisa membahayakan keyakinan murid. Contoh paling mudah: Ketika enak menikmati tempe, ndak usah membayangkan proses pembuatannya; mulai menanam kedelai dengan pupuk hewannya, mencuci kedelai di tempat kotor, berpindah dari satu tangan ketangan lainnya yang tidak semuanya bersih, dan seterusnya. Kalau membayangkan itu, ya bisa-bisa ndak jadi nafsu makan!). 

Sedangkan kisah-kisah yang berada dalam Qur’an Hadis, bukanlah hal yang membahayakan murid, bahkan Imam-imam besar seperti Imam Malik, Imam Ahmad dan lainnya sangat mendalami sejaran Qur’an dan hadis! 

Dalam sebuah hadis: “Ya, Allah. Berilah kasih pada para penggantiku.” Ada sahabat yang bertanya: “Siapa para pengganti Anda itu?”. Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallampun menjawab: “Yakni orang-orang masa setelahku yang suka menyampaikan hadis-hadis dan laku hidupku.” 

Kata Imam Suyuthi: “Penyebutan gelar Amirul Mukminin pada para Ahli Hadis seperti Imam Sufyan at-Tsauri, Imam Bukhari dan lainnya, kemungkinan besar bersumber dari hadis ini!”

Wallahu A’lam bis-Shawaab.

Dikutip dari Syarah Arbain Nawawi; Futuuhatur-Rabbaniyyah Imam Ibnu ‘Alan halaman 1 s/d 30 an.

Oleh: Ustadz Robert Azmi

Demikian Artikel " Faedah-faedah Kitab Al-Futuhat Al-Rabbaniyah Imam Ibnu 'Allan "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama