Kematangan Ilmu membuat dirinya Tenang dalam Bersikap

KEMATANGAN ILMU MEMBUAT DIRINYA TENANG DALAM BERSIKAP

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Imam ‘Atha`, seorang imam besar dari kalangan Tabi’in, mengatakan :

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحَدِّثُنِي بِالحَدِيْثِ، فَأُنْصِتُ لَهُ كَأَنِّي لَمْ أَسَمَعْهُ، وَقَدْ سَمِعْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُوْلَدَ

“Kadang ada orang yang menyampaikan sebuah hadits padaku. Aku mendengarnya dengan seksama seolah-olah aku belum pernah mendengar hadits tersebut sama sekali. Padahal sebenarnya aku sudah mendengarnya sebelum ia lahir.” (Siyar A’lam Nubala`)

$ads={1}

Menuntut ilmu syar’iy -dalam beberapa sisi- tak ubahnya dengan belajar silat. 

Orang yang baru belajar satu atau dua jurus, ‘bawaannya’ mau ngajak ‘berantem’ melulu. Sedikit saja tersinggung ia langsung nantang duel. Melihat orang berkelahi, tangannya sudah gatal untuk ikut ambil bagian. Kenapa? Karena ia juga seorang ‘pendekar’.

Tapi, ketika ilmu bela dirinya sudah semakin ‘masak’, sabuknya sudah hitam, ia mulai menyadari bahwa sebenarnya hasrat untuk berkelahi atau meladeni orang-orang yang ngajak kelahi, hanyalah semangat di awal-awal ‘menuntut’ saja (di Minang kata ‘manuntuik’ sering diartikan dengan belajar silat atau ‘ilmu’ benteng diri).

Saat itu ia sudah enggan untuk duel atau menyelesaikan setiap masalah secara fisik. Ia lebih tampak wise dan tenang. Orang-orang yang tidak mengenali dirinya akan menganggap bahwa ia seorang yang ‘lemah’ atau mungkin ‘cemen’. 

Memang, kematangan membuat seseorang menjadi lebih tenang, bijak dan mampu mengontrol diri.

Ini yang saya tangkap dari ungkapan Imam ‘Atha` di atas. Ia mau mendengarkan hadits (atau masalah-masalah syar’iy secara umum) yang disampaikan oleh orang -yang boleh jadi baru belajar satu atau dua hadits- dengan penuh perhatian seolah-olah ia baru mendengarkan hadits tersebut. Tentu ini untuk menjaga perasaan orang tersebut dan memotivasinya agar terus mencintai ilmu.

$ads={2}

Tapi memang, terkadang seorang guru silat tak boleh berdiam diri ketika melihat seorang pemula yang baru belajar, menggunakan jurusnya secara keliru, atau ingin mengajak semua orang ‘kelahi’ untuk membuktikan bahwa ia seorang ‘jagoan’. 

Oleh: Ustadz Yendri Junaidi

Demikian Artikel " Kematangan Ilmu membuat dirinya Tenang dalam Bersikap "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama