Apakah boleh Shalawat dan salam kepada selain Nabi Muhammad?

APAKAH BOLEH SHALAWAT DAN SALAM KEPADA SELAIN NABI MUHAMMAD?

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Dari sahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

 صلوا على أنبياء الله ورسله، فإنّ الله بعثهم كما بعثني  

“Bershalawatlah kalian kepada para nabi Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah mengutus mereka sebagaimana Allah mengutusku.”

Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad; Ya, Allah limpahkanlah shalawat (rahmat) dan salam (kesejahteraan) pada Baginda Nabi Muhammad.

Shalawat dalam berbagai redaksi telah banyak kita ketahui. Namun, kadang ada yang mengganjal di hati. “Kalau artinya itu berdoa kepada Allah agar baginda Nabi shallallahu alaihi wasallama mendapat rahmat dan sejahtera. Apakah boleh kalimat itu di sematkan pada selain Nabi?”

Pembahasan ini sudah kunone-kuno, dan telah dirangkum apik oleh Syaikh Syamsuddin as-Safarani 250 an tahun lalu, dalam kitabnya Ghidaaul-Albaab Fii Syarhi Mandzumatil-Adaab 1/32 Syamilah, dan di pilah dengan tiga pembahasan ini; Shalawat saja, salam saja, dan shalawat salam yang mengikut pada penyebutan Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallama.

$ads={1}

I. Shawalat saja. Seperti: “Allahumma shalli ‘ala Robert Azmi” hehe. Ulama berbeda pendapat:

a. Pendapat salah satu ulama madzhab Syafi’i, HARAM!

b. Imam Malik, Madzhab Abu Hanifah, Imam Sufyan bin Uyaynah, Imam Sufyan at-Tsauri, Imam Thawus, Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz (Ingat! Istilah makruh dari beliau-beliau ini, berbeda dengan madzhab Syafi’i, kadang bisa mengarah ke haram!)

c. Ada salah satu ulama madzhab syafi’i yang mengatakan makruh tanzih.

d. Ada salah satu ulama madzhab Syafi’i yang mengatakan khilaful aula (Menyelisihi yang lebih baik).

e. Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Hasan Bashri, Imam Khasif, Imam Mujahid, Imam Muqaatil bin Sulaiman dan banyak ahli tafsir mengatakan boleh!

II. Salam saja. Seperti: “Allahumma sallim ‘ala Robert Azmi” hehe. Ulama pun juga berbeda pendapat:

a. Mayoritas madzhab Hanbali, boleh.

b. Banyak ulama madzhab Syafii, memakruhkannya.

Hukum salam lebih ringan dari shalawat. Karena Salam (Doa kesejahteraan) memang di syariatkan bagi setiap muslim yang mati ataupun hidup, hadir ataupun ghaib. Hingga boleh mengucapkan,”Sampaikan salamku pada dia --istriku tercinta. Misalll hehe--“, dan orang shalatpun berdoa dengan: “Assalamu ‘alaina wa ‘ala ibaadillahis-shaalihin (Keselamatan/kesejahteraan semoga terlimpahkan kepada kami dan para hamba shalih). Beda dengan shalawat yang merupakan hak khusus bagi Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam.

(Tentang hukum Penggabungan shalawat dan salam, ikut khilafiyyah diatas)

III. Shalawat salam yang mengikut pada penyebutan Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallama. Seperti: Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajmain (Ya’Allah limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan pada Sayyidina Muhammad, keluarganya, dan seluruh sahabatnya). Para ulama sepakat menghukumi BOLEH!

$ads={2}

Lalu di pamungkas pembahasan ini. Syaikh Syamsuddin as-Safarani menjelaskan kenapa kok khusus Sayyidina Ali ada penambahan Karramallahu Wajhah (Semoga Allah memulyakan wajahnya)?

قَالَ الْأَشْيَاخُ: وَإِنَّمَا خُصَّ عَلِيٌّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - بِقَوْلِ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ لِأَنَّهُ مَا سَجَدَ إلَى صَنَمٍ قَطُّ وَهَذَا إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى لَا بَأْسَ بِهِ، وَاَللَّهُ الْمُوَفِّقُ

“Para Syaikh berkata: Sayyidina Ali radhiyallahu anhu di khususkan dengan doa karramallahu wajhah, sebab, beliau tidak pernah menyembah berhala sama sekali. Ini Insya Allah Ta’ala tidak apa-apa! Dan Allahlah yang memberi pertolongan”.

Hal senada juga di katakan Imam Ibnu Hajar dalam Fatawa Haditsiyahnya. Serta almarhum almaghfurlah Mbah Yai Ikhsan Jampes dalam Sirajut-Thaalibinnya, bahkan beliau mengutip riwayat lain yang mengatakan penyebab doa karramallahu wajhah adalah Sayyidina Ali tidak pernah sekalipun memandang auratnya (Kelaminnya). 

Selain itu, penyebutan Karramallahu Wajhah banyak bertebaran dalam kitab-kitab turats. Seperti: Imam Safarani dalam Ghidaul-Albaabnya. Imam Ibnu Hajar dalam Shawaiqul-Muhriqah dan Fatawa Hadistisahnya. Imam Alusi dalam Ruuhul Bayannya. Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya. Imam Ahmad dalam Musnadnya. Imam baihaqi dalam kitab Sunannya. Imam Hakim dalam kitab Mustadraknya. Imam Nasai dalam kitab Sunannya. Dan banyak kitab lain yang belum tertulis. 

Makanya para Kyai sepuh-sepuh dulu, tak jarang mendoakan karramallahau wajhah pada menantu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Khalifah ke empat, dan pahlawan Islam yang tak pernah kalah dalam perang tanding ini.

Semoga dengan bertambahnya ilmu, bertambah pula kearifan dan keimanan kita. Aminnn.

Jumah Mubaarakah.

Alhamdulillah, dapat kiriman kitab Futuhatur-Rabbaniyyah Syaikh Ibnu ‘Alan Syarah Adzkar Nawawi.

Oleh: Ustadz Robert Azmi

Demikian Artikel " Apakah boleh Shalawat dan salam kepada selain Nabi Muhammad? "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama