Bantahan Ceramah Ustadz Firanda Andirja Tentang Fiqh Hadits

BANTAHAN CEREAMAH USTADZ FIRANDA ANDIRJA TENTANG FIQH HADITS

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Pagi ini menyaksikan rekaman tayangan video Ust. Firanda Andirja tentang fikih hadits: 

لَا تُشَدُّ الرِّحَالَ اِلَّا اِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ، الْمسْجِدِ الْحَرَام ومسْجدِي هَذَا، وَالْمسجِدِ الْأَقْصَى

Jangan paksakan bepergian kecuali ke tiga masjid: al-Masjid al-Haram (Makkah), masjidku ini (al-Haram al-Nabawy) dan al-Masjid al-Aqsha (Palestina).

Di dalam video itu, Ust. Firanda mengatakan bahwa tidak boleh menganggap masjid-masjid selain ketiga masjid itu ada keberkahan. Sehingga, menurutnya, salah jika orang-orang memaksakan diri pergi ke Masjid Agung Demak karena masjid itu didirikan walisongo. 

$ads={1}

Karena menyaksikan hadits itu, saya, yang fakir ilmu, jadi teringat dengan pembahasan hadits tersebut di dalam Kitab Syifā'ul Fuad bi Ziyārat Khair il-Ibād (Kesembuhan Hati dengan Menziarahi Nabi). Kitab yang ditulis oleh Muhaddits ul-Hijaz, al-Imam Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliki al-Hasani rahmatullah alaihi itu membahas secara detail kekeliruan pemahaman yang mengharamkan ziarah ke makam Nabi. 

Di antara yang menarik dari pembahasan Sayyid Muhammad terhadap hadits itu adalah pendekatan analisis bahasa yang mengarah kepada tafsir. Beliau menulis: 

وبيان ذلك أنّ قوله صلّى الله عليه وسلّم (لا تشدّ الرحال الّا الى ثلاثة مساجد...) جاء على الأسلوب المعروف عند اللغويين بأسلوب الإستثناء وهذا يقتضي وجود مستثنى ومستثنى منه....

 Dapat dipahami secara jelas, bahwa hadits Nabi tersebut disampaikan dengan menggunakan uslub (gaya bahasa) yang dikenal oleh para ulama bahasa, sebagai uslub istitsna (pengecualian). Uslub mengharuskan keberadaan mustatsna dan mustatsna minhu. 

Uraian beliau dari aspek bahasa ini begitu panjang untuk ditulis di sini. Namun terkait dengan hukum mendatangi masjid-masjid selain ketiga masjid di atas, al-Imam Sayyid Muhammad al-Maliki rahimahullah berpendapat: 

فكلامه صلّى الله عليه وسلّم في المساجد ليبين للأمّة أنّ ماعدا هذه المساجد الثلاثة متساو في الفضل فلا فائدة للتعب بالسفر الى غيرها، امّا هي فلها مزيد فضل...

Ucapan Nabi shalllallahu alaihi wa sallam tentang masjid, tujuannya adalah untuk menjelaskan kepada umat, bahwa masjid-masjid selain dari ketiga masjid itu, punya keutamaan yang sama. Maka dari itu, tidak ada faedah (tambahan manfaat) dengan memaksakan diri bepergian mendatanginya. Sedangkan memaksakan diri bepergian ke tiga masjid itu, pasti mendapatkan tambahan keutamaan. 

Di mana letak beda kelas, antara penjelasan Ust. Firanda dan Sayyid Muhammad al-Maliki? Perbedaannya terletak dari epistemologi pengetahuan yang dibangun. Firanda membangun pengetahuan hanya berbekal menerjemahkan kata per kata dari hadits tanpa memperhatikan aspek kebahasaan dari ucapan Sang Nabi (al-Nahwu al-Nabawy). Sebaliknya, Sayyid Muhammad al-Maliki menempatkan al-Nahwu al-Nabawy sebagai pijakan pemahaman bahasa. Dan jelas, bahwa dari aspek bahasa semua ucapan Nabi merupakan rujukan terbaik di dalam berbahasa. 

Sehingga dari perbedaan cara membangun epistemologi itu, hasilnya adalah perbedaan di dalam menyimpulkan makna hadits Nabi tersebut. 

1. Jika menurut Ust. Firanda ziarah ke Masjid Demak adalah sebuah kekeliruan, maka menurut Sayyid Muhammad al-Maliki, ziarah ke Masjid Demak tidak berbeda dengan ziarah ke masjid di dekat rumah kita. 

$ads={2}

2. Jika menurut Ust. Firanda, memaksakan diri berziarah ke masjid selain tiga masjid di atas, tidak diperbolehkan, maka menurut Sayyid Muhammad al-Maliki tampaknya boleh-boleh saja (mubah). Apalagi safar menuju masjid bukan dianggap sebagai safar maksiat. Kecuali jika sengaja safar menuju diskotek di belakang masjid...

Jadi teringat penggalan nadzom Imrithy berikut: 

وان يكن من ذي تمام انتفى # فأبدلن والنصب فيه ضعفا

وان يكن من ناقصٍ فالّا  # قد اُلغيت والعامل استقلّا

Wallahu a'lamu bis shawāb wa shallallahu ala sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shahbihi...'

Oleh: KH. Abdi Kurnia Djohan

Demikian Artikel " Bantahan Ceramah Ustadz Firanda Andirja Tentang Fiqh Hadits "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama