Kisah Rahmat Allah begitu Besar kepada Hambanya

KISAH RAHMAT ALLAH BEGITU BESAR KEPADA HAMBANYA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Pernahkah Anda mendengar hadits ‘kartu’? Ini bukan sembarang kartu. Bukan kartu jamiman kerja, atau kartu jaminan kesehatan, apalagi kartu jaminan kaya. 

Ini kartu jaminan surga. Dengan kartu ini, atas izin Allah, seseorang dijamin masuk surga. Perkara apakah langsung masuk atau ‘mampir’ dulu ke neraka, hanya Allah –سبحانه وتعالى- yang Maha Tahu.

Hadits ‘kartu’ ini merupakan salah satu hadits yang bisa memberikan harapan dan optimisme luar biasa dalam diri kita terhadap kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Bagaimana tidak, hamba dengan dosa yang tidak terhitung saja masih berpeluang mendapatkan ampunan itu, apalagi kita yang insya Allah selalu berusaha untuk mentaati segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

------ 

Hadits ini diriwayatkan oleh sahabat Nabi; Abdullah bin Amru bin al-‘Ash –رضي الله عنه-. Hadits ini bercerita tentang seorang hamba yang pada hari akhirat nanti dihadapkan ke mahkamah Allah Swt. Ia dihisab di depan seluruh makhluk. 

Di depan hamba itu ditampilkan 99 catatan amal. Setiap catatan amal sejauh mata memandang. Bisa dibayangkan betapa rinci dan lengkapnya catatan amal itu.

Allah –سبحانه وتعالى- Yang Maha Adil bertanya kepadanya, “Apakah ada yang engkau pungkiri dari catatan amal ini? Apakah engkau merasa dirugikan oleh para malaikat-Ku yang bertugas mencatat amal perbuatanmu?” 

Dengan jujur ia berkata, “Tidak, ya Rabb...” Allah - سبحانه وتعالى- bertanya lagi, “Apakah ada yang ingin engkau jelaskan? Ia menjawab, “Tidak, ya Rabb…”.

Allah berfirman, “Sebenarnya engkau punya satu kebaikan yang sudah Kami catat. Hari ini engkau akan menerima ganjarannya dan engkau tidak akan dirugikan sedikitpun.” 

Kemudian diperlihatkan kepadanya sebuah kartu. Kartu itu bertuliskan, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.” 

$ads={1}

Allah berfirman, “Bawa timbangan amalmu.” Hamba itu berkata, “Ya Rabb, apalah arti kartu ‘kecil’ ini dibandingkan 99 catatan amal yang penuh dengan dosa itu?” Allah –عز وجل- berfirman, “Tenang, engkau tidak akan dirugikan sedikitpun.”

Kemudian 99 catatan amal yang penuh dengan dosa dan kesalahan tersebut diletakkan di salah satu daun timbangan. Sementara kartu tadi diletakkan di daun timbangan yang satunya lagi. 

Akhirnya, 99 catatan amal buruk itu terbang berhamburan karena dikalahkan oleh beratnya kartu ‘kecil’ tadi. 

----- 

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunan-nya, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, al-Hakim dalam Mustadraknya. Imam Tirmidzi menghukumi hadits ini hasan gharib, sementara Imam al-Hakim menghukuminya shahih. Demikian juga dengan Imam Ibnu Hibban, karena ia mencantumkannya dalam kitabnya yang berjudul; shahih.

-----

Kalau hadits ini belum mampu memberikan rasa optimis terhadap rahmat Allah, karena hamba Allah yang diceritakan dalam hadits ini setidaknya masih punya satu amal kebaikan walaupun ia menganggapnya ‘sepele’. Maka mari kita renungi hadits yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim tentang seorang laki-laki yang telah membunuh 99 orang. Ia ingin bertaubat. Hanya saja ia ragu, apakah dosa membunuh orang sebanyak itu masih akan diampuni oleh Allah –سبحانه وتعالى-? 

Ia pun mencari orang alim untuk ditanya. 

Baca Juga :

Santri Indonesia Curhat Kepada Habib Umar Ketika Ingin Kembali Ke Indonesia

Sayang, ia ditunjukkan kepada orang alim yang ‘salah’. Ketika laki-laki ini bertanya, apakah ia masih bisa bertaubat sementara ia sudah membunuh sebanyak 99 orang, alim ini menjawab, “Tidak.” 

Akhirnya ia bunuh juga orang alim ini. Genaplah 100 kepala telah melayang di tangannya.

Tapi ia tidak putus asa. Ia bertanya lagi pada orang-orang, siapa yang paling alim di daerah itu. Ia pun ditunjukkan pada orang alim yang benar-benar alim. Alim yang sesungguhnya. Ketika ia bertanya, apakah ia masih bisa bertaubat, alim ini menjawab, “Kenapa tidak? Allah Maha Pengampun dan Penerima taubat.”

Lalu sang alim memberikan nasehat: “Pergilah ke daerah A, karena di sana masyarakatnya baik-baik. Jangan kembali lagi ke daerah asalmu karena masyarakat di sana tidak baik.” 

Berangkatlah ia ke daerah yang ditunjuki sang alim. Di tengah jalan, ajalnya datang. Malaikat rahmat dan malaikat azab serentak turun untuk menjemput nyawa laki-laki ini. 

Kedua malaikat ini berdebat. Menurut malaikat rahmat, ia yang berhak membawa nyawa orang ini karena ia sudah berniat untuk bertaubat. Sementara menurut malaikat azab ia yang berhak membawa nyawa orang ini karena ia belum melakukan satu kebaikan pun.

$ads={2}

Akhirnya Allah mengutus malaikat ketiga sebagai penengah. Malaikat ketiga ini meminta mereka berdua untuk mengukur jarak kedua daerah dengan posisi dimana orang ini wafat. Kalau ternyata ia lebih dekat dengan daerah yang akan ditujunya maka malaikat rahmat yang berhak membawanya. Tapi kalau ia lebih dekat dengan daerah asalnya maka malaikat azab yang berhak membawanya. 

Setelah diukur ternyata ia hanya dekat satu jengkal saja ke daerah yang akan ditujunya. Akhirnya ia dibawa oleh malaikat rahmat. 

Subhanallah… Ia belum punya amal sama sekali. Hanya niat untuk berubah. Tapi itu ternyata bisa membuatnya beroleh rahmat Allah.

---- 

Tahukah kita bahwa Allah –سبحانه وتعالى- sejak azali telah menciptakan 100 rahmat? 1 dari 100 itu diturunkan ke dunia. Dengan yang satu itulah seluruh makhluk berkasih sayang dan saling mencintai. Bahkan, dari yang 1 itu juga hewan yang buas sekalipun sayang kepada anaknya. Bagaimana dengan yang 99 lagi? Yang 99 sisanya disimpan Allah untuk diberikan di hari kiamat nanti. Saking luasnya rahmat yang Allah berikan di hari kiamat nanti, sampai-sampai Iblis pun berharap ‘kecipratan’ sedikit dari rahmat itu.

Dalam sebuah riwayat, Ibnu Mas’ud –رضي الله عنه- mengatakan –فيما معناه- , “Jangan terlalu takut, kelak di hari kiamat kita akan mendapatkan kasih sayang Allah dalam bentuk yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.”

----- 

Luasnya rahmat Allah tidak berarti membuat kita bergantung kepadanya secara keliru, lalu dengan ‘seenaknya’ kita melakukan dosa dengan alasan yakin bahwa Allah Maha Pengampun lagi Penyayang. Benar bahwa Allah Maha Pengampun, tapi jangan lupa bahwa azab-Nya juga sangat pedih.

Baca Juga :

Kisah Seorang Wahabi Bertanya Kepada Habib Umar Mengenai Ziarah Ke Makam Auliya

Dalam dunia manusia saja, kita biasanya lebih takut kepada orang baik kalau ia marah, daripada pada orang yang tiap hari kerjaannya marah melulu. Kalau orang yang baik sudah marah, berarti ia melihat kesalahan yang tak mungkin lagi didiamkan. 

Karena itu orang Arab berpesan:

اتقوا غضب الحليم

“Hati-hati kalau orang santun sudah marah…”

----- 

Mari berprasangka baik kepada seluruh manusia, apalagi kepada muslim. Selama ia masih hidup, ia masih bisa untuk berubah. Bahkan meskipun ia wafat membawa dosa yang banyak sekalipun, boleh jadi saja ampunan Allah untuknya jauh lebih besar dari dosanya. 

Imam al-Ghazali –رحمه الله- dalam salah satu karyanya mengatakan –فيما معناه- :

معظم خلق الله ناجون وتشملهم الرحمة

“Mayoritas manusia akan selamat dan mendapatkan rahmat Allah.”

Kalau harapan itu ada untuk setiap manusia, apalagi untuk seorang muslim bertauhid. Apakah mungkin gara-gara sebuah praktek ibadah yang kita nilai sebagai sesuatu yang salah atau bid’ah, lalu kita berani menyimpulkan bahwa ia jauh dari rahmat Allah? 

Oleh: Ustadz Yendri Junaidi

Demikian Artikel " Kisah Rahmat Allah begitu Besar kepada Hambanya "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama