Polemik Nasab Syekh Samman Al Madani dan Sikap Kita

POLEMIK NASAB SYEKH SAMMAN AL MADANI DAN SIKAP KITA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Akhir-akhir ini, publik medsos banua diributkan dengan sebuah video viral seorang penceramah yang berkomentar tentang kontoversi nasab Syekh Samman Al Madani. Menurutnya, ada yang mengatakan Syekh Samman adalah seorang habib dan ada yang bukan. Untuk lebih aman, jangan mengatakan habib, katanya. “Yang memadahakan Syekh Samman adalah habib itu khilafiyah, atau kontroversi,” ujarnya.

Video tersebut kemudian digandeng oleh seorang Youtuber dengan sebuah rekaman statement Abah Guru Sekumpul yang dengan jelas menyebutkan kalimat, “Habib Muhammad bin Abdul Karim As Samman Al Madani Al Hasani. Beliau ini salah satu daripada dzurriyat daripada junjungan kita Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaih wa sallam.”

Bagaimana Kita Menyikapinya?

Baiklah. Sebelumnya, penting diketahui bahwa, hari ini umumnya hampir tidak ada catatan nasab yang disepakati oleh semua pihak. Kita ambil beberapa contoh, nasab Bani Alawi Hadhramaut yang dicatat oleh mereka sebagai dzuriat dari Imam Ubaidillah bin Imam Al Muhajir Ahmad bin Isa Ar Rumi. Nasab ini sangat diyakini oleh kalangan pecinta Bani Alawi. Namun ternyata tidak semua para ahli nasab dzuriat Nabi Muhammad bersepakat tentang hal ini. Imam Fakhruddin Ar Razi dalam kitab As Syajarah Al Mubarakah menyebutkan putra Imam Ahmad bin Isa hanya tiga, yaitu Muhammad, Ali, dan Hasan. Tidak ada yang bernama Ubaidillah. Kaget kan? Browsing saja di internet, banyak tulisan membahas hal ini. Tentunya dalam Bahasa Arab.

Nasab wali besar Syekh Abdul Qadir Al Jailani. Para pengikutnya meyakini beliau adalah dzuriat dari Sayyidina Hasan bin Sayyidina Ali bin Thalib. Namun, Syekh Jamaluddin Ibn ‘Unbah dalam kitab Unbah At Thalib fi Nasab Aal Abi Thalib yang disusun pada tahun 813 mengkritik nasab tersebut. “Syekh Abdul Qari Al Jailani tidak mengakui nasab ini dan juga tidak (diakui oleh) seorang pun dari anak-anaknya. (Pengklaiman) nasab ini dimulai oleh anak dari anaknya yang bernama Abi Shalih Al Qadhi Nashr bin Abi Bakr bin Abdul Qadir. Dan Ia tidak mempunyai bukti kuat.”

Nasab wali besar Sayyid Ahmad Ar Rifa’i. Para pengikut tarekatnya meyakini nasabnya berasal dari Imam Musa Al Kazhim bin Imam Ja’far As Shadiq bin Imam Muhammad Al Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin. Namun ada pula yang menolak nasab ini. 

$ads={1}

*Saya pribadi meyakini bahwa Bani Alawi Hadhramaut (yang kemudian keturunannya menyebar hingga ke Nusantara), Syekh Abdul Qodir Al Jailani, Syekh Ahmad Ar Rifai dan Syekh Samman Al Madani adalah para dzuriat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaih wa sallam.*

Dari mana keyakinan saya tersebut berasal? 


Apakah bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah?

Kita bahas dulu apa pengertian ilmiah. Ilmiah hari ini umumnya dibatasi hanya pada yang terindera. Teori ini berakar pada filsafat Aristoteles bahwa kebenaran adalah apa yang bisa dinampak. Sesuatu yang tidak bisa terindera, dianggap tidak ilmiah. 

Padahal, guru Aristoteles sendiri, yaitu Plato, berpendapat bahwa kebenaran adalah hakikat yang ada di sebalik yang nampak. Catatan bisa dipalsukan, warna bisa dimanipulasi, bentuk bisa direkayasa, pengakuan bisa bohong. Siapa yang bisa memastikan kebenarannya? 

Bila kita mengasaskan pada teori Plato, maka kebenaran sejati bukanlah yang terindera, tapi hakikat yang ada disebaliknya. Maka yang justeru ilmiah adalah kebenaran yang ditemukan bukan dengan panca indera.

Baca Juga: Kata-kata Mutiara Syekh Samman Al Hasani Al Madani

Bila kebenaran ilmiah inderawi didapatkan setelah mengolah data-data yang terindera berdasarkan akal manusiawi (basyariyah), maka kebenaran non inderawi didapatkan setelah menyaksikan hakikatnya. Hakikat kebenaran ini hanya bisa disaksikan dengan “mata bashirah”, diproses dengan “akal rabbani”. 

Bagaimana dengan Statement Abah Guru Sekumpul?

Secara pribadi, penulis meyakini Abah Guru Sekumpul adalah orang yang telah mencapai tahapan memandang sesuatu dengan “mata bashirah” dan memahami sesuatu menggunakan “akal rabbani”.

Beliau adalah orang yang memiliki intelek yang kuat dan sempurna, yang telah mencapai pengetahuan metafisika tertinggi melalui kontak dengan “intelek aktif” (active intellect Nur Muhammad), yaitu perwujudan yang memancar dari Tuhan yang telah menjadi perantara (wasilah) antara Dia dengan manusia (insan).

Seorang seperti Abah Guru Sekumpul tidak akan mengeluarkan satu statemen kecuali terlebih dahulu menyaksikan kebenarannya, bukan sebatas membaca teorinya. Menyaksikan hakikat kebenaran tersebut, bukan sebatas meraba-raba dengan pancaindera.

Sebuah cerita unik, sebagai ilustrasi. Seorang sayyid pernah hadir di majlis Abah Guru Sekumpul dan mengaku sebagai orang biasa. Namun pengakuannya dibantah oleh Abah Guru Sekumpul dengan statemen, “Datukmu sendiri yang mengatakan kamu seorang sayyid.”

Berbekal keyakinan seperti itu, penulis berpegang teguh pada apa yang telah dinyatakan oleh Abah Guru Sekumpul. Bahwa kebenaran adalah apa yang beliau sampaikan, bukan apa yang oleh orang lain opinikan. Meski orang lain menggunakan data berupa catatan sebagai argumentasi atas kebenaran yang ia pegang.

$ads={2}

Apakah ini taklid?

Sejatinya, setiap dari kita yang belum mencapai hakikat kebenaran adalah “muqallid”, bertaklid. Anda yang berpegang pada catatan pun bertaklid. Taklid anda adalah pada catatan. Siapa yang bisa menjamin kebenarannya? Saya yang berpegang pada statemen Abah Guru Sekumpul juga bertaklid. Siapa yang menjamin kebenarannya? 

Tidak ada yang boleh merasa lebih benar dari yang lain. Karena ini sejatinya bukan tentang saya atau anda yang lebih benar. Tapi tentang anda ikut siapa dan saya ikut siapa. Itu saja.

Salam

Khairullah Zain

(Founder AMANNA Community)

Demikian Artikel " Polemik Nasab Syekh Samman Al Madani dan Sikap Kita"

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama