Cerita Istri Guru Tuha Mengenai Kehidupannya

CERITA ISTRI GURU TUHA MENGENAI KEHIDUPANNYA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Siang dua bulan yang lalu, kami (LTN NU Banjar) menuju rumah Nenek Hj Nur Afifah (Keponakannya menyebut: Norfah). Dia adalah istri muda dari Tuan Guru H Abdul Qadir Hasan atau yang dikenal dengan julukan Guru Tuha. Saya cukup terkejut ketika menemukan istri pembawa NU Kalsel itu tinggal di sebuah rumah kayu, reot, dan bertetangga dengan sekolah dasar Muhammadiyah di Pesayangan Barat.

Saat kami bersilaturahmi, dia bercerita banjir telah menjebol dinding rumahnya pada awal tahun 2021 kemarin. Saat itu, dirinya mengais pakaian yang larut sendirian dengan tergopoh-gopoh. Saat banjir mulai surut, lantai rumahnya dilapisi lumpur. 

Beruntung, katanya, ada relawan yang datang ikut membantu membersihkan rumah dan menempelkan dinding rumahnya yang dari papan triplek ke tempat semula.

“Kenapa baru datang sekarang?” ujarnya pada kawanan relawan yang diingatnya berjumlah 20 orang.

“Jauh nek,” jawab relawan tersebut. “Kami dari Rantau.”

***

Mendengar cerita nenek, air liyur terasa keras ditelan. Saya mengingat, NU Kabupaten Banjar telah aktif membantu korban banjir di wilayahnya. Bahkan, sampai ke pedalaman desa. Tapi mengapa kita melewatkan sosok ini. Sosok yang berkhidmat di balik tegaknya panji NU di Kalsel.

Dialah yang menyiapkan segala keperluan pendiri NU Kalsel di masa tua. Dia pula yang mengurus keluarga besar Guru Tuha, meski bukan anak-cucu kandungnya. 

Perkara dapur, nyuci, hingga menjamu tamu selalu beres di tangan gesitnya. 

“Jam 12, jam 1 malam, hibak kapal (kelotok) datangan. Macam-macam ai, ada yang mangaji, minta banyu penawar, mandi. Macam-macam ai,” kenang nenek.

Kemarin, di haul yang ke 40, dia dijemput agak terlambat. Dia mengaku bersalah karena tak ikut membantu beres-beres di dapur, seperti yang dilakukannya setiap tahun. 

“Haji Shodiq (Cucu Guru Tuha) lambat maambili, inya garing jua, kasian,” ucapnya.

Pengabdian Nenek Hj Nur Afifah dimulai sejak pertama kali dia mau dipinang oleh Guru Tuha yang sudah renta. Padahal waktu itu, dia sudah dilirik dua orang pria. Tapi, dia kemudian lebih memilih diperistri ulama Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam itu.

Pun setelah kewafatan Guru Tuha, dia tetap tak ingin bersuami.

$ads={1}

“Aku mengatakan pada majikanku di Makkah, aku wanita bersuami. Sehingga mereka hanya mengantarku sepulang bekerja ke Masjidil Haram. Hanya sampai di sana,” kenang Nenek, yang mengingat 7 tahun di Makkah. Padahal suaminya sudah meninggal dunia bertahun-tahun lamanya.

Saat ini, hanya segelintir orang yang peduli dengan nenek yang diperkirakan berumur 80 tahunan itu. Selain keluarganya, ada Buyut (Tiri) Guru Haji Zayadi, Guru Naufal Rosyad, Guru Ahmadi (Rantau) dan anak Almarhum Guru Misykat (Murid Guru Tuha di Paringin) yang kerap menjenguknya memberikan sedikit bantuan.

“Dari mana?” kata keponakannya, saat kami mau pulang.

“Kertak Hanyar,” jawab saya. 

Sebenarnya, saya ingin menyebut “Dari NU”, tapi malu. Karena pada saat banjir Januari 2021 itu, NU tidak ada di situ.

Baca Juga: Paham Liberalisme di tubuh NU ada di Wahid Institute

***

Hari ini, ketika melihat kepengurusan PBNU yang baru, saya merasa terharu. Mereka terlihat sangat memperhatikan istri-istri ulama mereka, sampai-sampai dimasukkan ke dalam kepengurusan. 

Saya tahu bentuk penghormatan tidak mesti seperti itu. Tapi maksud saya, istri guru-guru kita adalah bagian dari keluarga besar kita. Jangan ditinggalkan, jangan dikesampingkan. Mereka harus diprioritaskan dalam setiap santunan atau bantuan. 

Semoga kita tidak kualat. (*)

Menarik...

Saya kira kedepannya Banser perlu memprioritaskan hal semacam ini.

Utamakan pengurus dan keluarga pengurus NU, sebelum yang lain.

Mohon maaf, kadang kita berbangga mengabdi (entah pengawalan dan lainnya) kepada orang-orang di luar kepengurusan namun lupa yang di dalam "rumah sendiri".

Foto: KH. Abdul Qadir Hasan orang yang pertama kali mendirikan NU di Kalimantan, yakni Jam’iyyah Nahdhatul Ulama di Martapura pada tahun 1928.

Oleh: Muhammad Bulkini

Demikian Artikel " Cerita Istri Guru Tuha Mengenai Kehidupannya "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close