Sejarah dan Konsep Islam Rahmatan lil 'Alamin

SEJARAH DAN KONSEP ISLAM RAHMATAN LIL 'ALAMIN

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Setiap peradaban pasti dibentuk dengan dua unsur, yaitu unsur moral-spritual dan unsur material. Jika kita menilik kembali sejarah, akan kita dapati di abad 18 ke belakang bahwa umat Islam berjaya membangun peradaban yang menyatukan dua unsur ini. Islam telah membangun perdaban paling unik dalam sejarah dunia dengan berasas pada tauhid dan moral yang agung selama 13 abad. Hingga akhirnya runtuh dan dilangkahi oleh Barat, imperium teknologi pertama di dunia.

Sudah 3 abad semenjak runtuhnya peradaban Islam dan bangkitnya peradaban Barat, mereka berhasil membuat dunia tercengang-cengang dengan segala penemuan dan kemajuan teknologi mereka yang belum pernah ada dalam sejarah umat manusia, mulai dari beragam alat komunikasi, bermacam-macam bentuk transportasi, alat-alat peperangan yang canggih, bangunan, pakaian,  makanan, dan sebagainya.

Bangkitnya Barat dengan teknologi mereka, membuat mereka menjadi penguasa peradaban dan model bagi seluruh bangsa di muka bumi. Semua bangsa berbondong-bondong mengikuti dan mengadopsi apa saja yang dibuat oleh Barat sebagai peradaban modern, mulai dari tatanan negara, cara berpakaiaan, makanan, hiburan, cara bergaul dengan sesama, perilaku, semuanya mengikuti ala Barat. 

Namun, di samping itu, kemajuan unsur material bukan satu-satunya hal yang boleh diperhatikan. Di era yang disebut modern ini seakan unsur moralitas dipandang sebelah mata. Coba teman-teman perhatikan bagaimana gencarnya penyakit hedonisme di kalangan manusia, dekadensi moral dan kesenjangan sosial yang tidak bisa dijelaskan lagi. Ahh, belum lagi berbicara bagaimana maraknya peredaran narkoba sebagai obat penyembuh stres, yang paling mengerikan adalah gencarnya ekspor free seks, homoseksual dan lesbianisme.

$ads={1}

Di era ini, dunia telah meresmikan bolehnya pernikahan sesama jenis sebagai bentuk kebebasan manusia sebagai penemu teknologi pertama di dunia. Maka wajar jika yang kita lihat sehari-hari di laman berita berisi tentang perkelahian anak muda, kasus perceraian para selebriti, pemerkosaan terhadap mahasiswi, murid melecehkan guru, anak membunuh orang tuanya karena tidak dibelikan iPhone, orang miskin yang bunuh diri karena putus asa, dll. Terserah teman-teman jika tidak percaya, tapi inilah yang terjadi.

Hal ini disebabkan oleh ketidakberdayaan Barat dalam membuat undang-undang kehidupan, karena terbatasnya kemampuan dan akal pikiran mereka sebagai manusia. Sebuah undang-undang yang dibuat manusia akan sulit dipatuhi manusia lain karena mereka sama-sama punya ego. Setiap pikiran punya pendapat dan cara berpikir masing-masing, adat dan budaya yang berbeda antar kelompok, apalagi adanya sikap tidak mau diatur dan menyukai kebebasan. Seolah-olah batin tidak ikut andil dalam menjalankan undang-udang yang dibuat, jika bukan karena ancaman hukuman pasti lebih banyak lagi yang tidak mau mengikuti aturan.

Manusia, yang diciptakan dengan dua sisi, jasmani (jasad) dan rohaniyah yang terdiri dari dua hal, kekuatan akal dan kekuatan insting, perasaan dan syahwat. Dua hal ruhaniyah ini yang sering berselisih dalam diri manusia, sisi akal yang selalu mendorong manusia untuk logis dan menyukai kebenaran dan sisi nafsu yang membuat manusia mau melakukan apa pun untuk mengenyangkan syahwatnya baik kejahatan atau kebajikan. Maka jika keinginan satu manusia berbenturan dengan keinginan manusia yang lain, apa yang akan terjadi? Pasti lah perkelahian, dan jika berbenturan keinginan terjadi antar kelompok? Pasti terjadinya peperangan dan pertumpahan darah.

Begitulah nafsu manusia, kehidupan sehari-hari sudah cukup menjadi buktinya. Nafsu manusia takkan pernah merasa cukup walau kebutuhannya terpenuhi. Lihat saja para koruptor, bukankah gajinya yang puluhan juta perbulan sudah cukup untuk memberi makan keluarganya? Tapi mereka masih saja korupsi. Karena nafsu manusia mendatangkan sikap serakah, tamak, ego dan selalu ingin berkuasa. Maka jelaslah, ketidakberdayaan manusia dalam membuat hukum kepada antar sesamanya, karena keterbatasan akal dan kemampuan mereka, kita tidak bisa melihat masa, apalagi membaca isi hati manusia. Karena itu lah, kita manusia membutuhkan kepada aturan yang diciptakan oleh Sosok Yang Maha Mengetahui seluk beluk manusia dan kehidupannya.

Di sini lah letak perbedaan antara peradaban kita dan peradaban mereka. Peradaban kita bernaung di bawah syariat agama, undang-undang bikinan Tuhan Yang Maha Mengetahui segala seluk beluk ciptaannya. Kita pasti bisa merasakan perbedaannya, saat ingin melanggar aturan agama dan undang-undang negara. Jika ingin melanggar aturan lalu lintas, kita bisa melakukannya dengan mudah jika tidak ada petugas yang menjaga. Namun tidak dengan hukum agama, sendiri atau dalam keadaan ramai kita akan tetap patuh, karena kita tahu bahwa kita akan berhadapan langsung dengan Tuhan. Seolah-olah ada suara hati yang melarang kita untuk melakukannya sebab rasa takut kita kepada-Nya Yang Maha Esa. Bila pun kita akan  melanggar pasti kita telah berdiskusi ratusan kali dengan hati kecil karena kita mengingat konsekuensinya, apa yang akan kita katakan jika diinterogasi di akhirat kelak.  

Hal ini menjadi bukti, bahwa Islam bukan cuma keyakinan atau ritual semata. Islam menjaga manusia dari segala lini kehidupan. Baik sesuatu yang menyangkut ideologi, tatanan kehidupan bernegara bahkan hingga batin manusia. Mulai dari hal besar, hubungan internasional, politik dalam negara hingga hal-hal kecil, seperti cara makan yang benar dan sehat, cara tidur, dll.

Teman-teman yang pernah nonton film perang seperti Come and See, The Cranes are Flying, atau The Pianist yang mengisahkan pembantaian Yahudi oleh Nazi, dan film-film lain yang menceritakan peperangan abad 17 ke atas, pasti akan tahu bagaimana gambaran bejatnya peperangan manusia tanpa hukum agama, tak kenal mana tentara atau rakyat sipil semua dihabisi, bahkan martabat perempuan juga dilecehkan. Bukti lainnya adalah bagaimana sejarah menceritakan kejamnya ekspansi para penjajah yang mengambil segala kekayaan pribumi.

Namun, Islam tidak demikian, Islam tidak mengenal penjajahan dan eksploitasi kekayaan suatu negeri, apalagi menghina dan memperkosa wanita-wanita. Para penyebar Islam ke berbagai negeri justru menjadi guru dalam bidang moral buat setiap negeri yang dimasukinya. Maka adanya hukum peperangan dalam Islam, yang mengajari umat Islam keadilan dalam peperangan, kapan umat Islam bisa mengangkat senjata. 

Islam tidak pernah memaksa masyarakat di daerah yang ditaklukkan untuk masuk Islam, bahkan mereka dibebaskan melakukan keyakinannya sesuka hati, mereka hanya diwajibkan membayar pajak yang tak seberapa jumlahnya jika dibandingkan dengan eksploitasi kekayaan suatu negeri di masa penjajahan. Jadi, tidak pernah ada teks dalam hukum peperangan yang menganjurkan Muslim untuk melakukan bom bunuh diri di tempat kemaksiatan, apalagi tindakan terorisme lainnya, itu hanya semacam propoganda atau perbuatan orang-orang radikal. 

$ads={2}

Begitu juga, adanya bab perbudakan dalam kitab fiqih, bukan berarti muslim diperintahkan untuk memiliki budak atau adanya kasta dalam kehidupan umat Islam. Bab perbudakan itu bertujuan untuk mengajari umat Islam bagaimana memperlakukan budak dengan cara manusiawi. Lihatlah orang yang sudah kecanduan merokok, bisakah kita menyuruhnya berhenti dalam sekejap? Hanya orang merokok yang bisa menjawab, mereka pasti mengatakan tidak, tapi butuh proses. Nah, begitu pula, gencarnya perbudakan di abad pertengahan dan peradaban sebelum-sebelumnya tak bisa dihentikan dengan mudah, tapi Islam mencoba mengayomi pengikutnya untuk memperlakukan budak seperti manusia pada umumnya. Bahkan, Islam menyemarakkan pengikutnya untuk memerdekakan budak, teman-teman yang belajar kitab kuning pasti tahu, di antara hukuman bagi orang yang menyetubuhi istrinya di bulan ramadhan adalah memerdekakan seorang budak wanita yang beriman. Inilah salah satu bentuk orasi umat Islam dalam meminimalisir perbudakan. Itu baru dalam satu kasus, belum melihat beberapa kasus-kasus yang lain. Semua fitnah Barat yang menyebabkan lahirnya Islamiphobia di Eropa tidak dapat dibenarkan sama sekali.

Dari sini jelaslah, bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta. Lalu bagaimana dengan kekalahan umat Islam dalam unsur material? Itu adalah suatu kewajaran, karena setiap peradaban yang baru lahir pasti akan menggungguli peradaban sebelumnya dalam bidang materi, karena seiring berjalannya waktu manusia akan terus berpikir dan melahirkan penemuan-penemuan baru. Bahkan, jika dilihat Islam berhasil mengalahkan perdaban sebelumnya dalam unsur material, dan juga bisa jadi perdaban baru sesudah Barat yang akan mengalahkan teknologinya Barat.

Karena itu, pembaharuan dalam Islam tidak bisa diartikan menundukkan prinsip-prinsip Islam di bawah nilai-nilai dan konsep peradaban Barat serta pola pemikirannya dalam segala lini kehidupan. Tapi untuk menunjang kembali peradaban Islam adalah dengan mengembalikan jauhar dan jati diri Islam serta mengejar ketertinggalan umat Islam dalam unsur material. Jadi, bukannya Islam yang tidak lagi sesuai dengan zaman modern. Tapi memang dari awal nilai-nilai Islam sudah berbeda dengan gaya hidup Barat yang mendewakan materi. Wassalam.

Oleh: Maulizal Akmal Muhammad 

Demikian Artikel " Sejarah dan Konsep Islam Rahmatan lil 'Alamin "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama