Thalib Ilmu dan Orientalis

THALIB ILMU DAN ORIENTALIS

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Sejak abad pertengahan, para peneliti Islam dari Barat atau yang lebih dikenal dengan Orientalis sudah menapuh matanya di kitab turats Islam. Semua aspek tentang Islam mereka pelajari dan telusuri, terutama perhatian lebih terhadap sejarah Islam dan bahasa Arab, banyak kitab dari dua ilmu ini yang mereka terbitkan. Namun dibalik itu, sangat disayangkan, kebanyakan penelitian mereka malah mencoreng Islam dan ilmunya, alasannya tidak lain ya karena agama. Ini bukan klaim buta, ini bisa temukan dalam karya mereka dan dokumentasi rahasia yang sudah disebar luas.

Mulai dari sini, Islam phobia berkembang di Barat, dan inilah asal-usul Islam phobia sebelum lahirnya kelompok teroris yang diklaim dari kalangan muslim. Ini diperkirakan dimulai pada abad 17-18 M. Sedangkan di abad selanjutnya, terjadi perubahan dalam penelitian mereka terhadap peradaban dan kebudayaan Islam, terutama pada hal yang berkaitan dengan bahasa Arab dan perangkatnya. saat itulah, lahir karya fenomenal dari mereka seperti, Tarikh Adab Arabiy. Saya rasa buku ini dikenal luas oleh pengkaji makhtutat. Buku ini juga dijadikan sebagai rujukan utama peneliti selain kitab A’lam Zirikly dan kitab Haji khalifah Kasyraf Zannun.

$ads={1}

Tak hanya itu, Fihrij lafal hadits yang terdapat dalam Kutubusittah mu’tabarah yang diluncurkan pada tahun 1936 juga hasil dari keringat mereka. Bahkan ada di antara mereka yang menghabiskan waktu 40 puluh tahun untuk menyusun kamus Arab klasik yang sesuai dengan rujukan sumbernya, seperti yang dilakukan oleh August Fischer, salah satu orientalis Jerman spesialis bahasa Arab. 

Untuk penerbitan kitab turast kelas kakap juga diawali oleh mereka seperti Syarah-nya Maqasid oleh Taftazani, Mujarradnya Imam Syari’ Ibnu Furaq, Maqalah Islamiyah oleh Imam Asy’ari dan masih banyak lagi kitab yang berharga yang ditahqiq oleh mereka.

Karena penelitian mereka yang luas membuat kalangan santri tertarik melanjutkan studi ke Barat, terutama ke negara yang kaya dengan makhtutat Islam.

Syekh al-Azhar, Syekh Ahmad Tayyib sangat merekomendasi pelajar Azhar yang berkualitas melanjutkan studi ke Barat. Karena menurutnya, penelitian seputar ilmu kalam, mantiq dan tasauf jauh berkembang di sana. Berkat Kecanggihan dan kesungguhan mereka, sangat sedikit pemikir dan tokoh muslim Indonesia yang tidak terpengaruh dengan kaum oriental. Tak hanya di Indonesia, Timur Tengah sendiri juga begitu, bahkan Timur Tengah adalah yang pertama menyambut penelitian mereka, terlepas benar atau tidak, kita akan bahas di tulisan selanjutnya.

Dalam hal ini, ada ibrah yang berharga bagi talib ilmu. Pertama, kita harus bertanya, kok bisa ya mereka semangat untuk mempelajari suatu agama yang sering mengkritik keyakinan mereka sendiri? Apakah spirit mereka sama seperti para pendahulu kita yang menjelajahi dunia untuk meninggikan kalimat Allah? Apakah dorongan mereka sama dengan pendahulu-pendahulu kita yang bahan bakar semangat terbentuk dari kewajiban agama? Dan, kok bisa ya mereka sekuat itu menahan ratusan argumentasi ulama Islam yang mengkritik keyakinan mereka? Agama, budaya dan bahasa, tidak, bahkan semua yang mereka anut dikritik oleh ulama Islam. Akan tetapi, semangat mereka melebihi semangat thalib muslim itu sendiri. Sungguh sangat disayangkan.

Peneliti muslim seperti, Dr. Musthafa as-Shiba’i, Dr. Hamdi Zaqzuq dan Dr. Muhammad Bahi, mencari tahu alasan di sebalik usaha, semangat dan karya mereka. Mereka menelusuri karya, mu’tamar, sampai-sampai menyelisik buku catatan mereka, kaum orientalis. Peneliti muslim ini sepakat tujuan mereka yang sebenarnya di balik hal itu semua berbeda dengan pendahulu kita. 

Pendahulu Islam meneliti dan mengkaji karya non Islam adalah sebagai pengabdian untuk agama Islam, sedangkan tujuan mereka tidak lain ialah muharabah Islam (melawan Islam), mencari titik lemah Islam dan menampilkannya di permukaan masyarakat mereka, dengan tujuan Menampakkan di mana kelemahan Islam. Maka jangan kaget wahai sobat, saat engkau temui banyak thalib Islam yang terpedaya saat meneguk buku-buku mereka, dan kebanyakannya adalah thalib yang kurang besik dalam keilmuan Islam.

Sering loh kita temui, awal-awalnya sih hanya sekedar mengkritisi tokoh Islam, eh.. ujung-ujungnya malah merekontruksi al-Qur’an, "garang" memang. Tak hanya sampai di situ, mereka juga memberikan kritikan terhadap sejarah Nabi yang ditulis oleh sejarawan muslim. Bahkan, gara-gara pengaruh mereka, ada kelompok terpedaya dari kalangan kita yang berusaha untuk mengubah hukum Islam dengan alasan relevansi zaman. Klaim bahwa "hukum Islam diambil dari hukum Romawi dan norma-norma Islam diadopsi dari ajaran Masehi" jelas kuping sering mendengarnya. Di sini, saya mencoba merenungkan, terlintas di benak saya, seberapa pengaruh kajian orientalis sekarang di kalangan umat Islam Indonesia?

Kembali ke alasan mareka mempelajari Islam, tidak hanya alasan di atas saja, tujuan lain mereka adalah menyebarkan kabar dusta kepada masyarakat Barat atas berbahayanya agama Islam. Ya, pasti dengan cara menutup hakikat kebenaran Islam dan dengan menampilkan ketidaksesuaian Islam dengan

masyarakat Barat. Di sini pula, saya termenung membayangkan betapa semangatnya mereka dalam menjaga ajarannya, semangat yang luar biasa. 

Lalu di mana posisi kita dalam menjaga dan membentengi agama Islam? Layaknya seperti usaha mereka untuk agama mereka, sejauh mana jerih payah thalib ilmu dalam menyusuri dan menguasai ilmu Islam? Malah yang sangat disayangkan, akhir-akhir ini jarang sekali ada thalib ilmu yang menguasai kitab-kitab besar alias kitab-kitab kelas berat, yaitu kitab tingkatan akhir/mustawa muntahi.

$ads={2}

Poin terakhir ialah berkaitan tentang “misi Misionaris”. Dalam hal ini, saya teringat ungkapan salah satu Tokoh Muslim Indonesia, "kita mensia-siakan kesempatan kita untuk mendakwahkan pada non-muslim di kalangan kita, padahal ini adalah kesempatan yang besar sebagai ladang dakwah kita selaku umat Islam.”

Sekian.

Oleh: Muhammad Zulfa

Demikian Artikel " Thalib Ilmu dan Orientalis "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama