Cara agar tetap Istiqomah Berdzikir di Setiap Keadaan

CARA AGAR TETAP ISTIQOMAH  BERDZIKIR DI SETIAP KEADAAN

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Intinya, kita harus menempatkan tiap elemen maqom penyusun diri kita pada tempatnya masing-masing.

Imam Ghozali menjelaskan bahwa manusia itu terdiri dari 3 bagian : alam malakut (alam amr), alam jabarut, alam syahadah (jasmaniyah). 

Alam malakut tempatnya ruh dan sirrul qolbi. Ini bagian yang dimaksud ayat

قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي

"Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku" (Al Israa' 85)

Alam jabarut tempatnya sensorik dan motorik yang menggerakkan tubuh. Alam syahadah jasmaniyah tempatnya tulang, darah dan daging kita. Ketiganya saling berhubungan dan punya naluri (maqom) sendiri-sendiri.

Nah, yang dimaksud oleh para ulama sejatinya wujud adalah alam malakut atau alam amr. Sedangkan alam jabarut dan alam jasmaniyah bukanlah sejatinya wujud.

$ads={1}

Alam malakut (amr) disebut alam yang abadi, di mana di situlah tempat mendaratnya nur ilahiyah, yang sifatnya lembut (lathifah), yang merekam segala kecintaan dan kebencian (dzakirah) dan tempat keluarnya kebijaksanaan ('arifah) seseorang. Alam ini yang terus ada hingga di akhirat nanti, tidak mati dan tidak hancur.

Alam amr ini tidak bisa kita kuasai dan kita sentuh, karena yang mengendalikan adalah Gusti Allah. Beda alam jabarut dan alam jasmaniyah yang bisa kita kendalikan dan kita sentuh. Jika alam amr ini tercerabut dari manusia, maka matilah seseorang. Sedangkan jika alam jabarut dan jasmani jika tercerabut, maka hasilnya mimpi dan ketidaksadaran sementara.

Maka yang disebut sejatinya manusia adalah alam amr ini. Sedangkan alam jabarut dan alam jasmani adalah fatamorgana. Naluri alam amr adalah maqom taat. Sedangkan naluri alam jabarut dan jasmani adalah maqom dipaksa untuk menerima susah dan senang.

Gusti Allah dawuh

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَالُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ ۩

"Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa, dan sujud pula bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari" (Ar Ra'd 15)

Maka, untuk bisa sadar terus dzikir di segala situasi, seseorang harus menempatkan naluri alamnya pada masing-masing maqomnya. Seseorang harus menempatkan alam amr sebagai penguasa utama, karena memang di situ maqomnya. Dan menganggap apapun yang ada di alam syahadah adalah bayangan karena memang di situlah maqomnya.

Baca Juga: Orang yang suka Berdzikir tidak pernah Melepas dalam Situasi Apapun

Apapun yang dirasakan jiwa dan jasmani sebagai alam yang dipaksa untuk menerima sakit dan senang, jangan sampai menguasai naluri ketaatan dari ruh. Karena pengendali utama seseorang harus alam amr (ruh) ini, karena itulah sejatinya manusia. Jangan sampai sakit dan senang yang dirasakan alam jabarut dan jasmani menguasai seseorang, karena akan mengacaukan ketiga alam ini. Jika ketiga alam ini tidak berada di tempatnya masing-masing, maka akan terjadi gangguan hebat pada diri manusia tersebut.

Misal jika kita ditakdirkan Gusti Allah dijahati orang, cukup yang sakit dan capek adalah jasmani dan jiwanya. Karena sudah sewajarnya memang maqomnya kedua alam itu adalah maqom dipaksa untuk menerima segala penderitaan. Namun rasa sakit itu jangan sampai menguasai ruh manusia yang punya naluri taat pada Gusti Allah. Harus "No Hard Feeling" kata orang Madura Barat. Ruh sebagai sejatinya manusia harus tetap sebagai pengendali utama seseorang. Artinya ketaatan pada syariat Gusti Allah jangan sampai kalah oleh rasa sakit yang diderita alam jabarut dan alam jasmani. Agar kesadaran dan kewarasan akal sehat seseorang sebagai manusia sejati tetap terjaga.

Jika kesadaran dan akal sehat tersebut tetap jadi penguasa dengan mengikuti naluri alam amr yang punya maqom taat pada Gusti Allah, maka dalam situasi apapun, seseorang tidak akan lepas dzikirnya. Dzikirnya jadi sebab dirinya mencapai maqom fana', di mana jadi muncul rasa kehambaan dan ketaatan di hadapan Gusti Allah di situasi apapun.

$ads={2}

Namun, mengetahui dan mengalami ini semua itu baru awal dari perjalanan panjang, mbah. Awal perjalanan seorang manusia menuju Gusti Allah (ilallah) untuk kemudian lanjut perjalanan ke dalam hakikat Gusti Allah (filllah). 

Mugi manfaat.

Oleh: Fahmi Ali N H

Demikian Artikel " Cara agar tetap Istiqomah Berdzikir di Setiap Keadaan "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close