Dzikir Dan Kemanusiaan

DZIKIR DAN KEMANUSIAAN

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Kita berdzikir jangan dipersempit maknanya buat menarik rejeki, buat menolak balak, menambah wibawa atau kepentingan pribadi lain. Lebih luas lagi, mendawamkan dzikir bisa berarti usaha untuk concern pada masalah kemanusiaan di sekitar kita. Karena dzikir artinya menerapkan ilmu syariat Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Seperti definisi dzikir dari Imam Atho'

مجالس الذكر هي مجالس الحلال والحرام، كيف تشترى وتبيع وتصلى وتصوم وتنكح وتطلق

"Majelis dzikir adalah majelis yang mengajarkan halal dan haram, bagaimana cara anda berkongsi, jual beli, sembahyang, puasa, nikah, talaq dan lain-lain"

Baca Juga: Pentingnya Berdzikir dan Fastabiqul Khairat di Hari Tua

Seperti yang kita ketahui, Kanjeng Nabi Muhammad SAW diutus bertujuan untuk menyempurnakan akhlaq. Alat penyempurnanya itu adalah syariat yang dibawa Beliau SAW. Artinya, syariat Kanjeng Nabi SAW diamalkan untuk menyempurnakan akhlaq.

Ciri akhlaqul karimah banyak berbagai versi. Tapi secara global, elemen utama akhlaqul karimah adalah Asy Syaja'ah 'alal haq (berani berpihak pada kebenaran) dan Ar Rahmah li kholqillah (kasih sayang pada ciptaan Gusti Allah).

Berani berpihak pada kebenaran berarti berani jujur mengakui realita. Sementara kasih sayang diwujudkan dengan saling tolong menolong dalam kebaikan dan bertanggung jawab atas keberlangsungan hak sesama manusia.

Di titik inilah, efek dzikir bisa bermakna luas sekali jika kita hayati. Termasuk bisa mengubah cara pandang kita bagaimana memandang manusia secara jujur dan bagaimana mencari solusi masalah sesama. Artinya, dzikir bisa berdampak pada kemanusiaan.

$ads={1}

Andai kita mau jujur, walau antar manusia itu berbeda agama, ras, suku, negara, madzhab dan identitas sesensitif apapun, manusia tetaplah manusia ciptaan Gusti Allah. Itu fakta yang harus kita akui. Sebenci apapun kita pada latar belakang seseorang, fakta bahwa dia adalah manusia sama seperti kita, itu harus kita pegang. Dengan berpandangan seperti itu, maka kita baru bisa bersikap adil. Dan adil itu dekat dengan takwa.

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

"Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (Al Maidah 8 )

Karena bersikap adil, maka baru kita bisa disebut bersikap rahmah. Berkasih sayang, menghormati hak-hak manusia dan bersedia menjamin keberlangsungan hak tersebut.

Seperti Sayyidina Ali yang tidak mau mendahului orang tua yang jalannya pelan di depan beliau, padahal orang Kristen. Atau Sayyidina Umar yang membela hak seorang Yahudi saat bermasalah dengan Sayyidina Amr bin Ash. Mereka semua berani berpegang pada fakta bahwa yang mereka hadapi adalah manusia. Dan manusia harus dihormati hak-hak dasarnya. Sehingga akhirnya merekapun jadi cerminan rahmah.

Baca Juga: Ijazah Dzikir ketika Berada dalam Suatu Musibah

Aplikasi di masa sekarang, misal kita harus berani mengakui kebhinekaan di antara anak bangsa. Mulai agama, ras dan lain-lain. Dan kita harus kita akui bahwa sebagai manusia, mereka punya hak asasi seperti kita. Maka hak itu harus kita hormati dan ikut bertanggung jawab atas keberlangsungannya.

Nah, dari uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa mendawamkan dzikir artinya usaha membentuk akhlaqul karimah pada diri kita. Yaitu usaha untuk berani jujur mengakui realita kemanusiaan dan kasih sayang pada hak mereka. Dzikir kita pun berpotensi untuk bisa berefek pada kemanusiaan.

Mugi manfaat.

Oleh: Fahmi Ali N H

Demikian Artikel " Dzikir Dan Kemanusiaan "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama