Kisah Santri yang Setia Kepada Gurunya

KISAH SANTRI YANG SETIA KEPADA GURUNYA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - al-Hasan al-Bukhari, penulis buku ini sebelum bertemu Syekh Fauzi sudah menjadi Novelis terkenal di Mesir, punya perusahaan iklan, punya Channel Kartun Thahalib, salah satu channel yang paling banyak ditonton di Jazirah Arab, salah satu videonya berjudul "Manusia Biasa" diterjemahkan ke dalam bahasa melayu dan direapload oleh banyak channel Facebook atau Youtube Indonesia dan Malaysia.

Suatu ketika al-Bukhary bertanya permasalahan dalam kitab Syarah Qatrunnada kepada Syekh Fauzi melalui chat Fb, dijawab oleh Syaikh sebagaimana kebiasaan beliau menjawab pertanyaan orang-orang yang haus terhadap ilmu. Itu awal perkenalannya dengan Syekh Fauzi.

Beberapa waktu kemudian tak sengaja al-Bukhary bertemu Syekh Fauzi di salah satu toko buku di belakang Azhar, Syaikh menyambutnya dengan air muka riang dan kebiasaan suara beliau yang lantang, "Yaa Fayyuumi, apa kabar?" begitu biasa beliau menyambut muridnya.

"Maulana, saya ingin membaca kepada sampean matan Ajurrumiah tabarrukan, mengambil berkah." ujar al-Bukhary.

Syekh menjawab : "Kami tidak membaca Ajurrumiah untuk mengambil berkah, kami membacanya untuk belajar, kalau kamu mau belajar silakan datang ke tempat ini, hari Rabu, saya sedang menyarah Ajurrumiah di sana.

Sejak hari itu al-Bukhari memulazamahi Syekh Fauzi.

Ketika majlis Syarah Qatrun Nada, karena kebiasaan Majlis Syekh Fauzi yang rata-rata tiga jam, kameramen di Masjid al-Azhar tak sanggup tiga jam menunggu kamera, demi menjaga dokumentasi Syekh, al-Bukhari rela menjadi kameramen di majlis berkah masjid al-Azhar itu.

$ads={1}

Bulan Ramadan Syekh Fauzi menamatkan beberapa kitab, majlis dimulai dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore menjelang berbuka puasa. Majlis terakhir bahkan dari jam 9 pagi hingga jam 10 malam. Orang-orang mengaplud foto bangga karena mampu hadir dalam majlis terlama, tapi al-Bukhary memikirkan gurunya, "dengan apa aku membalas guru yang menghabiskan waktunya berpuluh jam dalam sehari menyampaikan kepada kami ilmu masalah demi masalah, kalimat demi kalimat, harfan-harfan. mengeluarkan kami dari gelapnya kejahilah kepada nikmatnya ilmu pengetahuan.?"

Maka dalam setiap doa, tempat mustajab, atau waktu mustajab, al-Bukhari tidak pernah lupa mendahulukan mendoakan gurunya daripada memohon hajatnya.

Betapa murid yang setia.

Baca Juga: Apakah Seorang Murid bisa memberikan Syafaat kepada Gurunya?

***

Dalam hati, "Kamu sibuk apa, Mi? Perusaahan gak punya, kerjaan santui, katanya mau jadi ulama? Atau sudahkah jadi murid yang setia? Heu hmm hikhiks..."

***

Tiryaqul Mustaftin ini ditulis sebagai bentuk kesetiaan, sebagian isinya hasil pertanyaan al-Bukhari kepada Syekh Fauzi. "Apakah kita dituntut untuk selalu mencapai kebenaran?" "Bagaimana saya mengetahui orang alim" bagaimana saya meminta fatwa, atau kenapa saya harus bertanya kepada alim?" "Apakah saya harus bermadzhab? bagaimana menyikapi perbedaan?"

Semua dibahas dengan gaya bahasa yang mengalir tapi indah, kadang menggelitik dan mengundang tawa, wajar saja penulisnya sudah lihai menulis novel. Khatam sekali seduhan kopi.

Bukunya bisa dibeli Maktabah Liyan Hall 1 A37.

Oleh: Fahmi Ain Fathah

Demikian Artikel " Kisah Santri yang Setia Kepada Gurunya "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama