Memilih Bacaan Dzikir yang Sesuai untuk diri Kita

MEMILIH BACAAN DZIKIR YANG SESUAI UNTUK DIRI KITA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Imam Ghozali dawuh

وهو شيء واحد لا كثرة فيه، حتى يختار أفضله، وذلك عين الجمع والتوحيد

"Dzikir yang afdhol bagi kita adalah satu bacaan tertentu, bukan sejumlah besar bacaan. Hingga terpilih keutamaannya (bagi kita), itu yang jadi permata dari keseluruhan dan inti tauhid"

Seperti tulisan sebelumnya, dzikir terbaik adalah yang bisa mendominasi hati untuk bisa ingat hanya pada Gusti Allah. Hakikatnya Gusti Allah yang memilihkannya buat kita. Itu satu cara Gusti Allah memperkenalkan diri-Nya kepada kita sesuai dengan atribut watak yang diciptakan untuk kita. Sehingga dzikir yang dipilih untuk hati kita, sejatinya adalah cerminan watak kita.

Dzikir yang dipilihkan untuk kita itu menjadi jawaban atas kegelisahan dalam kalbu terdalam orang yang berdzikir. Atau apa yang menjadi inti dari kalbu orang yang berdzikir tersebut. Yaitu Sifat dan Asma Allah yang menjadi wakil atau wali di dalam kalbunya.

$ads={1}

Imam Ghozali dawuh

والصفات والأسماء الواردة في حق الله سبحانه، تنقسم إلى ما هو حقيقة في حق العباد، ومؤولة في حقه سبحانه. كالصبور والشكور والرحيم والمنتقم وإلى ما هو حقيقة في حقه سبحانه وإذا استعمل في حق غيره كان مجازا

"Sifat dan Asma tersebut adalah milik Gusti Allah, yang dibagi pada sesuatu yang jadi inti dari seorang manusia, yang merepresentasikan kekuasaan Gusti Allah. Seperti Ash Shobur, Asy Syakur, Ar Rohim, Al Muntaqim dan hakikatnya kembali kepada sesuatu yang merupakan milik Gusti Allah. Dan jika secara penglihatan tampak menggunakan selain milik Gusti Allah, itu hanya majaz"

Asmaullahul Husna adalah representasi luasnya Ke-Maha Esaan Gusti Allah. Seluruh manusia sejagat raya bisa dibilang adalah simbol sekumpulan Asmaul Husna. Dan tiap satu orang adalah mewakili satu Asma Allah. Gak lebih. 

Baca Juga: Bagaimana Cara Istighfar yang Benar dalam Islam?

Asma Allah apa yang ada di dalam tiap manusia inilah sejatinya saripati inti tiap manusia yang bisa terlihat setelah melewati proses mengupas lapisan-lapisan kulit lewat tarbiyah guru tentang banyak dzikir, mewirid dzikir secara kontinui dan otomatis akan tersortir mana yang afdhol dan tidak afdhol. Dzikir yang afdhol itu secara naluriah akan tersaring tergantung Sifat dan Asma Gusti Allah apa yang disematkan pada kita. 

Jika kita udah nemu dzikir yang afdhol bagi kita, kita bisa fokus pada dzikir itu hingga mencapai intinya hati. Fokus di sini selain mewiridnya, juga mempelajari makna dan fadhilahnya sedalamnya lewat pemahaman guru.

Bersamaan dengan bertambahnya ilmu, pemahaman dan semakin terbiasa berdzikir baik lisan maupun kalbu lewat bimbingan guru, Gusti Allah sendiri yang akan memperkenalkan diri-Nya lewat salah satu Asma-Nya. Apa yang kita dapat, ini hak preogratif Gusti Allah. Seperti Syaikh Abdul Qodir Jailani yang diberi asma Al Muhith, Robiah Adawiyah dengan asma Adz Dzohir, Maulana Jalaluddin Ar Rumi dengan Al Basith dan lain-lain.

Kita gak akan tau intisari Asma Allah dalam diri kita sebelum melewati proses itu semua. Dengan mengetahui siapa diri kita lewat dzikir, maka kita akan menemukan Asma Allah yang disematkan Gusti Allah bagi kita. Lewat Asma Allah yang disematkan dalam kalbu, kita bisa lebih mudah kenal dekat dengan Gusti Allah secara lebih intim. Asma Allah ini juga nantinya jadi dasar cara pandang dan dasar perilaku dan adab seorang ahli dzikir. Termasuk bagaimana dia memandang alam musyahadah yang merupakan majaz (simbol) dari kekuasaan Gusti Allah. Makanya gak heran, adat perilaku para wali itu macam-macam dalam menanggapi alam musyahadah ini. Ini di luar pangkat kewaliannya. 

Baca Juga: Proses menuju Allah dan Tujuan manusia Hidup adalah Dzikrullah

Inilah yang dimaksud man 'arofa nafsahu, faqod 'arofa robbahu. Siapa yang mengetahui jati dirinya, maka akan mengenal Tuhannya. Maka, know your dzikr. Cari tahu dzikirmu agar kenal siapa diri kita dan menemukan Gusti Allah.

Mugi manfaat.

Oleh: Fahmi Ali N H

Demikian Artikel " Perbedaan Pendapat Ulama Seputar Ismul A'dzom "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama