Pengertian Dzikir, Keutamaan dan Bacaannya

PENGERTIAN DZIKIR, KEUTAMAAN DAN BACAANNYA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Dzikir yang terbaik harus dimulai dengan ilmu, logika dan pemikiran yang benar dan lurus tentang Dzat yang didzikiri yaitu Gusti Allah. Sehingga apa yang kita ucapkan, harusnya kita paham artinya dan harus sangat bermakna di hati. Gak angger niru sehingga gak ada bekasnya.

Dzikir terbaik ini seperti yang diisyaratkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW lewat dawuh beliau :

أفضل ذكر بعد كتاب الله : سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر

"Paling utamanya dzikir setelah Al Qur'an adalah: Subhaanallah, Wal Hamdu Lillah, Wa Laa Ilaaha Illallah, Wallahu Akbar"

Makna dari kalimat dzikir tersebut menurut Imam Ghozali adalah

1. Subhaanallah (سبحان الله) bermakna taqdis atau mensucikan Gusti Allah dari sesuatu yang tidak layak baginya secara hakikat Dzat, Sifat dan Af'al-Nya. Dan kesucian hakiki hanya milik Gusti Allah.

Dzikir yang baik harus dimulai dari membersihkan pikiran yang mengotori saat mengingat Gusti Allah (taqdis dan tanzih). Bahwa yang namanya Gusti Allah itu Maha Satu, Maha Suci, Maha Sempurna dan tidak dibatasi apapun. Dia tidak terikat waktu, berat, arah, ruang, volume dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kemakhlukan. Lalu menisbatkan segala kesempurnaan pada Gusti Allah, menyingkirkan ketidaksempurnaan dari Gusti Allah. Semua itu harus jadi mindset dan kesadaran diri. Sehingga yang kita dzikiri itu benar-benar Gusti Allah, bukan yang lain. Makanya kita berucap Subhaanallah (Maha Suci Gusti Allah).

2. Alhamdulillah (الحمد لله) bermakna menyadari bahwa segala nikmat lahir batin itu hakikatnya hubungannya dengan kehendak Gusti Allah. Tanpa kehendak-Nya, gak ada kenikmatan. Maka satu-satunya yang pantas dipuji hanya Gusti Allah.

Seperti halnya saat lidah kita ngincip makanan enak, kita memuji chefnya, bukan memuji makanannya atau lidah kita. Maka, karena tiap kenikmatan yang kita rasakan itu dari Gusti Allah, maka puncak pujian hanya kepada Gusti Allah.

Sehingga, setelah mensucikan pikiran kita saat mengingat Gusti Allah, kita menisbatkan segala kesempurnaan dan pujian pada Gusti Allah. Kita ingat2 semua nikmat-Nya yang sudah kita terima dari yang kecil hingga yg besar, dari materi hingga non materi, mulai dari masa kita di rahim hingga bangkotan, kita ingat-ingat semua kebaikan-Nya. Akhirnya kita sadar bahwa kita tidak akan bisa menghitung dan membalas kebaikan-Nya karena kita cuma makhluk. Dan hati kita pun merasa berterima kasih pada Gusti Allah atas kebaikan-Nya. Kita pun hanya bisa berucap Alhamdulillah (Segala puji bagi Gusti Allah).

$ads={1}

3. Setelah kita bisa sadar bahwa pujian hanya mutlak milik Gusti Allah saja, kita jadi sadar posisi kehambaan kita dan tingginya derajat ketuhanan Gusti Allah yang hanya Dia satu-satunya yang sanggup mengisi derajat ketuhanan itu. Hingga kita benar-benar yakin bahwa tidak ada Tuhan yang wujud kecuali Gusti Allah. Maka kita mengucap Laa ilaaha illallah (Tidak ada Tuhan Selain Gusti Allah).

Laa ilaaha illallah (لا إله إلا الله) adalah tauhid secara hakikat. Tidak ada yang wujud kecuali Gusti Allah secara hakikat. Kalimat ini adalah puncak kebenaran (kalimatul haq), karena semua ilmu bisa ditakwil dan semua masalah ada alternatif jawaban. Kecuali Ke-Maha Esa-an Gusti Allah.

4. Setelah bisa mengesakan Gusti Allah, artinya kita sudah ada di puncak pengetahuan, kita pun tahu siapa yang harus dituju. Kepada siapa hidup, mati, amal, ibadah, ilmu dan pengabdian hati ini ditujukan. Yaitu kepada ridho Gusti Allah, bukan pada ridho presiden, boss, istri atau anak. Makanya kita mengucap Allahu Akbar (Gusti Allah Maha Besar).

Allahu Akbar (الله أكبر) bermakna bahwa semua yang kita lihat adalah jejak (atsar) dari Qudroh-Nya. Bukan bermakna ada pencipta yang lebih besar dari pencipta yang lain. Karena hakikatnya semua karakter dan kelakuan makhluk, penciptanya hanya Gusti Allah semata. Sehingga Allahu Akbar bermakna hanya Gusti Allah yang melingkupi (menguasai) semua makhluk. 

Baca Juga: Pengertian, Arti dan Dalil bacaan Tasbih, Tahmid, Takbir, Tahlil dan Istighfar

Allahu Akbar juga bukan bermakna bahwa Gusti Allah berukuran besar. Tapi bermakna Gusti Allah-lah puncak tujuan dan pecipta segala asbab. Karena kita yakin semua wujud di alam ini pasti penciptanya Gusti Allah, walau kita tidak tahu hakikat Gusti Allah seperti apa. Pokoknya kita tahunya hanya Gusti Allah puncak tujuan.

Ketidaktahuan kita terhadap hakikat Dzat, Sifat dan Af'al Gusti Allah ini justru adalah puncak makrifat. Karena ketidaktahuan itu maqom makhluk yang sebenarnya. Jangankan tahu hakikat Gusti Allah, kita aja tidak berdaya di hadapan Qudroh-Nya, tidak akan mampu memuji-Nya dan tidak sanggup mencintai-Nya. 

Perasaan ketidaktahuan tentang Gusti Allah ini harus dieksploitasi dalam diri lewat ilmu dan amal. Ini seperti yang dialami Para Nabi dan Wali. Dimana mereka memperoleh ilmu yang mendalam dan amal yang kontiniu sehingga jadi tidak tahu. Menggali pengetahuan untuk jadi tidak tahu.

Sehingga dari lisan para manusia mulia itu, terucap puncak pujian yang bisa diucapkan makhluk. Seperti doa Kanjeng Nabi SAW

لا أحصي ثناء عليك، أنت كما أثنيت على نفسك

"Tidak ada milyaran pujian makhluk kepada-Mu yang setara dengan pujian-Mu pada Dzat-Mu sendiri"

Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq RA pun dawuh

العجز عن درك الإدراك إدراك

"Mengakui kelemahan untuk memahami adalah pemahaman itu sendiri"

Ada pula dawuh para Wali

لا يعرف الله إلا الله

"Tidak ada yang memahami Gusti Allah kecuali Gusti Allah sendiri"

Semua dawuh tersebut didasari oleh ilmu dan amal yang meresap jadi karakter. Tanpa ilmu dan amal lalu mengucapkan hal itu berdasarkan perasaan saja, maka perkataan kita cuma niru-niru aja. Padahal goblok dan gak tau maknanya.

Baca Juga: Pengertian Al-Qur'an, Al Hadist, Ijma', Qiyas, Istihsan, Mashalih Mursalah, Urf, Istishhab, Syar’u man Qablana dan Istidlal

Maka, saran Imam Ghozali, gali ilmu aqidah dan pemikiran tauhid lewat para guru sedalam-dalamnya, lalu amalkan terus, agar bisa menyaksikan sendiri ketidakmampuan kita dalam memahami Gusti Allah. Sehingga kita pun bisa mengakui bahwa Gusti Allah itu memang benar-benar satu-satunya Tuhan. Dzikir kita pun bisa menancap dalam dan kuat di sanubari kita.

Mugi manfaat.

Oleh: Fahmi Ali N H

Demikian Artikel " Pengertian Dzikir, Keutamaan dan Bacaannya "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama