Nasehat untuk Buya Arrazy Hasyim dan Pengikutnya

NASEHAT UNTUK BUYA ARRAZY HASYIM DAN PENGIKUTNYA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Kejanggalan demi kejanggalan ajaran guru mursyid Ustadz Arrazi Hasyim yang bernama Maulana Abati telah dibongkar oleh natizen. Testimoni dari mantan pengikut Maulana Abati menunjukkan bahwa dalam tarekat yang diajarkan terdapat kejanggalan dan juga ajaran-ajaran yang tidak biasa ada dalam tarekat-tarekat muktabar, seperti mengakui mursyidnya sebagai al-Ghauts (wali terbaik dimasanya dan hanya ada satu orang), bisa mengetahui nama ruh seseorang, menganjurkan akikah untuk ruh-nya, dan beberapa pengakuan lain yang aneh. 

Dalam beberapa video Ustadz Arrazi, khususnya ketika menjelaskan konsep sufi yang sekilas tampak mirip seperti konsep tasawuf falsafi-nya Syaikh Akbar Ibn Arabi, saya juga merasakan kejanggalan. Saya bukan anti konsep-konsep tasawuf Syaikh Akbar Ibn Arabi, tapi lebih banyak tawaqquf seraya tidak membenarkan masalah daqoiq tasawuf ala Ibn Arabi diajarkan di kalangan awam, apalagi sampai di upload lewat media YouTube atau yang lain. 

Alhamdulillah, sekedar informasi yang mungkin tidak penting, sejak di pondok saya sudah suka membaca kitab-kitab tasawuf, seperti kitab-kitabnya Quthbul Ilmi al-Arif Billah Imam Abdul Wahhab asy-Sya'rani, kitab Fatawa Haditsiyah-nya Khotimatul Muhaqqiqin Imam Ibn Hajar al-Haitami yang terdapat beberapa penjelasan tentang tarekat dan macam-macam nama auliya', kitab-kitab al-Habib Abdullah Alawi al-Haddad, kitab-kitab Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghozali dan ulama' sufi lain-lain. Dan saya juga membaca kitab al-Imam al-Kabir Ahmad Zarruq al-Fasi, seseorang ulama' tarekat sufi yang pakar fikih dan hadits, yang mengkritisi ajaran-ajaran tasawuf atau tarekat yang dianggap menyeleweng dari real syariat dan lain-lain. Paling tidak, pengalaman baca ini bisa saya jadikan modal dalam menilai apakah tarekat seseorang ini baik atau tidak untuk diikuti. 

Baca Juga: Kejanggalan Ajaran Orang yang disebut Al Ghauts Oleh Buya Arrazy Hasyim

Apa yang diajarkan mursyid Ustaz Arrazi Hasyim tentang nama-nama ruh pengikutnya yang kemudian dibumbui aroma klenik, Pertanyaan besarnya, kalau memang mengetahui nama-nama ruh kita adalah bagian ajaran penting dalam sufi atau tarekat, maka mengapa ia tidak diajarkan dalam tarekat-tarekat sufi lain yang muktabar? Bahkan dalam tarekat Qadiriyah yang diasaskan oleh Sayyidi Abdul Qadir al-Jilani, yang diakui Ustadz Arrazi dari gurunya bahwa penjelasan tentang nama ruh itu ada dalam kitab al-Ghunyahnya Sayyidi Abdul Qadir al-Jilani, juga tidak ada. Jadi ini tarekat mau "jualan" tazkiyah nafsi dan bimbingan zikir dan akhlak sebagaimana tarekat lain atau "jualan" ruh dengan segala kleniknya? 

Jika ditanyakan, apakah dalam kitab tasawuf tidak ada istilah nama-nama ruh? Jawabannya ada. Tapi nama-nama ruh dalam kitab tasawuf tidak berkait dengan nama ruh-ruh manusia sebagaimana yang dijelaskan oleh Ustadz Arrazi dalam videonya. 

$ads={1}

Ustaz Arrazi mengklaim bahwa mursyidnya adalah malamatiyah. Malamatiyah adalah wali yang zhahirnya tampak melakukan sesuatu yang ganjil dan bahkan tampak sekilas melanggar syari'at, tapi hakekatnya tidak. Pertanyaan saya, siapakah yang menjamin bahwa mursyid yang bernama Maulana Abati adalah wali malamatiyah? Bukankah ada kaedah masyhur, bahwa yang dapat mengetahui seseorang itu wali adalah sesama wali. Apakah Ustadz Arrazi seorang wali sehingga mampu menilai Maulana Abati adalah wali? Bagaimana jika ternyata bukan. Dalam beberapa kajian dan pemahaman saja, Ustadz Arrazi juga beberapa kali terpeleset dan tidak menunjukkan memiliki pemahaman yang daqiq. Lalu bagaimana bisa mudah sekali menilai? Mengapa Ustadz Arrazi dan pengikutnya tidak memilih jalan yang aman dan yakin kebenarannya saja, yaitu mengikuti tarekatnya para sufi hakiki seperti Imam al-Junaid, al-Ghazali, Syaikh Abdul Qodir al-Jilani, Imam Abul Hasan asy-Syadzili dan lain-lain yang jelas-jelas tidak bertentangan dengan ajaran syariat?!

Dalam pandangan saya, selevel Ustadz Arrazi pasti sudah mengetahui, bahwa mau kasyf, ilham, khothir dan lain-lain jika menentang ajaran al-Qur'an dan as-Sunnah yang qath'i, maka wajib kita buang jauh-jauh. Sebabnya, al-Qur'an dan as-Sunnah sudah qath'i kebenarannya. Sedangkan hal-hal tersebut tidak ada jaminan benar, bahkan bisa jadi talbis dari syetan dan jin. Jika hanya bisa menebak yang ghaib dan bicara tentang istilah tasawuf, maka saya beberapa kali menemui orang yang bisa seperti itu. Dan saya tidak kagum sama sekali, sebelum laku kesehariannya sesuai dengan syariat Allah dan mengajak dekat kepada Allah serta beradab kepada sesama, khususnya kepada guru. Sebab dukun juga bisa melakukannya walaupun berkedok kyai dan memiliki pondok pesantren dengan ratusan santri. Saya punya pengalaman tentang ini. 

Baca Juga: Buya Arrazy: Imam Mahdi Muncul di Indonesia, Maulana Abati Termasuk Ciri-cirinya?

Jika kemudian dikatakan bahwa ini semua bukankah perbedaan dalam akidah, tapi perbedaan dalam masail tasawuf. Maka saya jawab, perbedaan dalam masail tasawuf adalah perbedaan tentang apakah ia memiliki dalil atau tidak atau rajih atau tidak. Tapi jika sudah pengakuan-pengakuan dan kemudian dianggap sebagai amalan tarekat sufi, apalagi secara zhahir melanggar ajaran Islam yang suci, maka ini rentang dimasuki bisikan atau talbis iblis dan bujuk rayu syetan yang menyesatkan. Dan tidak menutup kemungkinan, ajaran yang dipasarkan Ustadz Arrazi adalah halusinasi atau ajaran batiniyah yang ditentang oleh banyak ulama' Ahlussunnah wal Jama'ah. 

Maka dengan ini, saya menyerukan kepada beliau dan pengikut beliau untuk kembali kepada ajaran tasawuf yang hakiki dan diakui oleh auliya' manapun, yaitu tasawuf Ahlussunnah wal Jama'ah yang shahih yang didasarkan kepada al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Saya mencintai kalian semuanya.

Baca Juga: Buya Arrazy Tidak Menganulir Pendapatnya Mengenai 'Laki-laki Menikahi 50 Wanita'

Oleh: Kyai Hidayat Nur 

Demikian Artikel " Nasehat untuk Buya Arrazy Hasyim dan Pengikutnya "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

2 Komentar

  1. Kalo ukuran keturunan nabi adalah alawiyin dg organisasinya: sesungguhnya keturunan wali Songo itu masih terpaut silsilah nya ke Nabi, tapi mereka tidak masuk alawiyiin, juga tidakmsipanggil habib

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi yang Jelas dan pasti bahwa Maulana Muhammad Abya Ahmad Al-Badr (alias Heri Mardjuki) bukanlah seorang Dzurriyat Rasulullah SAW.

      Bisa baca di sini artikelnya: https://www.rumah-muslimin.com/2022/04/benarkah-maulana-abya-ahmad-al-badr.html

      Hapus
Lebih baru Lebih lama