Wara' Lisan

WARA' LISAN

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Kyai yang aktif di medsos dalam menanggapi berbagai isu-isu kekinian, dari pengamatan saya, ada 2 macem. Yang reaktif dan yang tidak reaktif.

Kyai yang reaktif biasanya senang komentar dan mengomentari isu terkini. Dari mereka, banyak ilmu yang kita dapat karena sifat reaktif mereka.

Kyai yang tidak reaktif, biasanya adem saja dalam menanggapi isu, malah cerita kesehariannya. Di medsos jarang terlihat mereka menebar ilmu. Tapi kalo udah ketemu langsung, kita bisa gemetar karena aura wibawanya.

Semuanya tidak boleh kita remehkan. Terutama Kyai medsos yang tidak reaktif, kita jangan anggap remeh ilmu beliau-beliau. Di balik sikap diam mereka, kadang ada pelajaran yang bisa kita raih sehingga kita bisa tetap waras di tengah badai permedsosan. Mereka diam karena mereka punya sifat wara' dalam berkata-kata. Sehingga, diamnya saja mengandung ilmu, apalagi sampai dawuh.

Kyai yang tidak reaktif itu kalo boleh dianalogikan seperti Syaikh Abdul Qadir Al Jailani Qadasallahu Sirrahu. Diceritakan beliau punya majelis rutinan yang dihadiri orang berbagai kalangan. Dalam satu majelis, kalo beliau bicara, selalu berhasil bikin orang satu majelis baper dan tobat. Bahkan pernah dalam satu majelis beliau, 7 orang meninggal gara-gara saking bapernya ingat akhirat di majelis Syaikh Abdul Qadir Al Jailani.

Ada seorang putra Syaikh Abdul Qadir yang baru lulus dari mondok. Mendengar kabar santer tentang keadaan majelis Syaikh Abdul Qadir, ayahnya, membuat si anak heran. Si anak iseng datang ke majelis tersebut, penasaran apa yang dibicarakan Syaikh Abdul Qadir, ayahnya. Lalu Sang Syaikh menyuruh sang anak untuk berpidato. Sang Syaikh memperkenalkan anaknya kepada hadirin sebagai seorang alim alamah.

Maka berpidatolah si anak dengan kata-kata memukau, tak lupa untaian ayat, hadits dan qoul ulama dibeber semua. Tapi keadaan majelis tidak seheboh saat Syaikh Abdul Qadir berpidato. Semua hadirin adem ayem saja. Putra Syaikh Abdul Qadir sempat heran.

Lalu tiba waktunya Syaikh Abdul Qadir berpidato, si anak memperhatikan. Ternyata di depan hadirin, sang ayah tidak mengumbar mauidzoh yang berhias dalil-dalil selayaknya mubaligh. Sang Syaikh cuma bercerita singkat, "Tadi malem saya beli ayam, lalu ayam itu saya kasih ke istri, ndilalah habis dimasak kok ayamnya dicuri kucing, ya akhirnya kami gigit jari, Wassalam". 

Segera setelah Syaikh Abdul Qadir bercerita singkat sesederhana itu, kehebohan pun terjadi. Seluruh hadirin tiba-tiba menangis tak henti-henti, hingga ada yang pingsan segala. Anak Sang Syaikh takjub, sang ayah cuma bercerita sesederhana itu, tapi hebohnya kayak mau kiamat kurang semenit? Apa-apaan ini?!

$ads={1}

Usut punya usut, ternyata apa yang dirasakan hadirin dari pidato aneh Syaikh Abdul Qadir tadi, lebih menakjubkan. Hati para hadirin mentakwil bahwa ayam merupakan perlambang dari amal, bisa hilang dicuri kucing yang melambangkan hawa nafsu, kalo tidak kita jaga dengan baik. Dibalik kesederhanaan, ada koneksi hati ke hati antara Syaikh Abdul Qadir dengan jamaahnya. Itu yang bikin sangat mind blowing sekali buat putra Sang Syaikh.

Syaikh Abdul Qadir Al Jilani mendapat keistimewaan tersebut karena beliau adalah manusia yang selalu menjaga lisan dari sesuatu yang haram dan syubhat. Wara' lisannya. Baik wara' pada hal yang masuk ke lisan beliau maupun yang keluar lisan.

Mugi manfaat.

Oleh: Fahmi Ali N H

Demikian Artikel " Wara' Lisan "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama