Puasa Ramadhan: Dalil, Definisi, Hikmah dan Keutamaannya

PUASA RAMADHAN: DALIL, DEFINISI, HIKMAH DAN KEUTAMAANNYA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Sesungguhnya puasa romadhon adalah suatu amalan mulia yang Allah Azza Wajalla fardhukan atas setiap hamba-Nya yang beriman,ia adalah salah satu dari rukun islam yang lima,ibadah puasa romadhon diwajibkan pada tahun ke -2 hijriyah,dan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam sendiri telah berpuasa romadhon 9 kali romadhon yang kesemuanya naaqishoot (puasa 29 hari),puasa adalah amalan yang paling agung didalam islam,iman seorang hamba tidak akan sempurna kecuali dengan melaksanakannya,dan disyariatkannya puasa untuk hamba-Nya demi satu tujuan mulia yaitu meraih derajat ketaqwaan.

Pada episod ini,insya Allah ini sebagai tahap awal penulis ingin menyampaikan 4 hal penting yang mendasar :

Dalil diwajibkannya puasa

Puasa romadhon hukumnya wajib secara ijma',hal itu berdasarkan firman Allah Azza Wajalla :  

"Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa" (Q.S. Al-Baqoroh : 183)

Dan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam dari hadits dari ibnu umar rodhiyallahu 'anhuma,Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda "Islam dibangun diatas lima perkara,diantaranya :

"Berpuasa pada bulan romadhon" (Muttafaqun 'alaih)

Dan begitu juga ucapan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam kepada seorang badui : 

"Dan diwajibkan kepadamu puasa bulan romadhon",si badui bertanya : "apa ada lagi yang diwajibkan atasku ? Maka Nabi bersabda : "Tidak,kecuali jika kamu ingin mengamalkan amalan sunnah" (Muttafaqun 'Alaihi)

Adapun secara ijma' maka sesungguhnya tidak ada di naql kepada kami dari para imam yang menyelisihinya (Bidaayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid,Al-Imam Al-Qoodhi Abil Waliid Muhammad Bin Ahmad Bin Rusydiy Al-Qurthubiy,Kitabus Shiyam,Hal : 239,Cet, Muassasah Arrisalah Naasyiirun)

Baca Juga: Niat Puasa Ramadhan: Ramadhana atau Ramadhani?

Defenisi puasa 

Secara bahasa puasa dimaknai Al-Imsak (menahan)

Adapun secara istilah,Imam An-nawawiy rohimahullah mendefinisikan :

"Puasa adalah menahan secara khusus dari sesuatu yang khusus pada waktu yang khusus dari seseorang yang khusus" (Fathul 'Allam Fi Dirosati Ahaadiitsi buluughil marom,jilid II,Hal 545,cet,Makatabah Ibnu Taimiyyah)

Definisi itu juga diikuti oleh Al-Hafidz ibnu Hajar Al-Asqolaniy didalam Fathul Bari bab puasa dengan sedikit perbedaan,beliau berkata puasa adalah :  

"Menahan secara khusus dari sesuatu yang khusus pada waktu yang khusus dengan syarat yang khusus" (Kitab Fathul Bari,bab Shoum)

Al-Imam ibnu Katsir rohimahullah berkata : 

ﻭﻫﻮ اﻹﻣﺴﺎﻙ ﻋﻦ اﻟﻄﻌﺎﻡ ﻭاﻟﺸﺮاﺏ ﻭاﻟﻮﻗﺎﻉ، ﺑﻨﻴﺔ ﺧﺎﻟﺼﺔ ﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ

"Puasa adalah menahan diri dari makan dan minum serta menggunjing dengan niat yang ikhlas lillahi ta'ala (Tafsir Qur'anil 'Adziim,Ibnu Katsir,jilid I,hal : 319,Cet, Darul Fajri Lit-Turoots)

Al-Imam Al-Qurthubiy berkata  : 

"هو الإمساك عن المفطرات مع اقتران النية به من طلوع الفجر إلى غروب الشمس"

"Puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan disertai dengan niat dari terbitnya fajar (shodiq) sampai terbenamnya matahari" (Tafsir Al-Qurthubiy Suroh Al-Baqoroh : 183)

Baca Juga: Istimewanya Kekuatan Iman dan Puasa

HIKMAH PUASA

Disyariatkannya puasa atas orang yang beriman tentunya dengan maksud dan hikmah yang mulia,diantaranya : 

1. Tahqiqut Taqwa (Mencapai derajat ketaqwaan)

2. Tazkiyatun Nafs (Mensucikan jiwa)

3. Hifdzus Shihhah (menjaga kesehatan)

4. Taqwiyatul Iroodah Wa Tahqiiqus Shobri (Memperkuat keinginan serta mewujudkan kesabaran)

$ads={1}

Keutamaan Puasa

Syaikh Muhammad Ibnu Utsaimin rohimahullah didalam "Majmu' fatawa Wa Rosaail-nya" berkata : 

Saudaraku,,ketahuilah bahwasanya puasa adalah ibadah yang paling utama serta ketaatan yang paling agung,telah datang atsar dari nabi tentang keutamaannya,diantaranya : 

1. Puasa adalah ibadah yang diwajibkan atas semua ummat,sebagaimana firman Allah Azza Wajalla : 

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan pada orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 183).

2. Puasa adalah jalan mendapat ampunan serta dihapuskannya dosa,sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam : 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosanya yang telah lalu”.(Muttafaqun 'alaih dari sahabat mulia Abu hurairah)

3. Bahwasanya puasa tidak diikat dengan hitungan pahala tertentu,bahkan diberikan pahala bagi yang berpuasa tanpa batas,firman Allah dalam hadits Qudsi : 

كل عمل بن آدم له إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به 

"Setiap amalan bani adam adalah baginya sendiri kecuali puasanya.Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-KU dan AKULAH yang akan membalasnya.(H.R Muslim dari Sahabat mulia Abu Hurairah Rodhiyallahu anhu)

Baca Juga: 7 Golongan Orang yang tidak Wajib Berpuasa dalam Islam

4. Bahwasanya puasa adalah perisai dari api neraka,sabda nabi shallallahu alaihi wasallam : 

إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ

”Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari siksa neraka.” (H.R Ahmad)

5. Puasa akan memberi syafaat kepada yang berpuasa,sabda nabi shallallahu alaihi wasallam : 

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

”Puasa dan Al Qur’an itu akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak. Puasa akan berkata, ’Wahai Rabbku, aku telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafa’at kepadanya’. Dan Al Qur’an pula berkata, ’Aku telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya.’ Beliau bersabda, ’Maka syafa’at keduanya diperkenankan.’“ (H.R Ahmad dari sahabat mulia Abdullah bin 'Amr)

Barakallahu fiikum

Oleh : Abu Turob dibumi Yaman

============================

Referensi : 

1. Kifayatul Akhyar fi halli Ghoyatil Ikhtishor,Syaikh Taqiyuddin Abu bakar bin muhammad bin Abdul Mu'min Al-Hishniy

2. Al-Yaaqut An-Nafiis Fi madzhab Muhammad Idris,Syaikh Al-Imam Ahmad bin Umar Asy-Syaathiriy

3. Taudhiihul Ahkam min bulughil maroom,Syaikh Abdullah bin abdurrahman Al-Bassam 

4. Fathul Allam Fi Diroosati Ahaadits Buluughil Maroom,Syaikh Abu Abdillah Muhammad Al-Ba'daaniy

5. Tafsiir Al-Qurthubiy,Al-Imam Syamsuddin Al-Qurthubiy.

6. Tafsirul Qur'anil 'Aadziim (Tafsir Ibnu Katsir),Al-Imam Al-Mufassir Abil Fidaa' Ismail Bin Katsiir Al-Qurosyi Ad-Dimasyqiy.

7. Fathul Baariy,Syaikh Al-Haafidz Ibnu Hajar Al-'Asqolaaniy

8. Bidaayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid,Al-Imam Al-Qoodhi Abil Waliid Muhammad Bin Ahmad Bin Rusydiy Al-Qurthubiy.

Oleh: Faruq Sinambela

Demikian Artikel " Puasa Ramadhan: Dalil, Definisi, Hikmah dan Keutamaannya "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama