Rekam Jejak Upaya Pemadaman Cahaya Islam Di Tunisia

REKAM JEJAK UPAYA PEMADAMAN CAHAYA ISLAM DI TUNISIA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Hijab dan Cadar atau niqab di beberapa negara muslim yang mana dahulu adalah bekas wilayah kekhilafahan semenjak zaman nabi Muhammad, telah berusaha dipadamkan dan dihilangkan. Hijab dan Niqab dianggap oleh orang kafir Barat sebagai budaya jumud, kolot dan mengekang kebebasan wanita.

Bourguiba presiden pertama Tunisia, yang memproklamirkan berdirinya republik Tunisia dengan masa jabatan 25 July 1957 – 7 November 1987 ini amat berusaha untuk mereduksi nilai-nilai keislaman yang sudah mengakar di bumi Tunisia.

Beliau sangat getol memusuhi Islam, bahkan juga sempat memaksa agar puasa ramadhan diharamkan, menghina Nabi dan hal hal 'modern' lainnya yang dia lakukan. Menganggap bahwa Islam adalah agama yang harus menerima perubahan dan kemajuan dunia modern dari Barat.

Libas Safsary

Baju adat masyarakat Tunisia, yang populer. Libas Safsary (لباس السفساري) namanya, telah mengurat akar dalam kehidupan masyarakat Tunisia selama berabad abad. Pakaian yang identik dengan syariat Islam, pakaian kehormatan para istri nabi Muhammad dan shabiyat lainnya ini senantiasa dikenakan oleh para muslimah Tunisia ketika berada di luar rumah mereka. Saat mereka keluar untuk belanja, bahkan hingga acara perayaan besar, dan walimah serta hari-hari besar kenegaraan!.

Pakaian yang menutup seluruh permukaan tubuh wanita Tunisia kecuali sorotan mata dan gemulai telapak tangannya ini adalah bukan sembarang pakaian. Ia merupakan 'Nasij', yakni kain tenun yang dirajut secara tradisional, terbuat dari bahan katun dan sutra. Hal inilah yang menjadi nilai dan kehormatan libas safsary asal Tunisia ini.

Baca Juga: Jika Islam tidak Hadir, Busana Kebaya akan Bertelanjang Dada

Beberapa sejarawan mengungkapkan bahwa asal mula adat libas safsary ini berawal dari kebiasaan muslimat Andalusia di abad pertengahan. Yakni saat Andalusia terjajah oleh kerajaan kristen Aragorn dan Castella yang memaksa ratusan ribu kaum muslimin Andalusia terusir dari semenanjung Iberia. Kaum Andalusia itulah yang menyebarkan tradisi berpakaian libas safsary ini. Namun, yang lebih jelas adalah bahwa semenjak zaman Umar bin Khathtab menjadi khalifah dan membebaskan wilayah Afrika Utara, pakaian hijab muslimah ala shahabiyat seperti libas safsary inilah sebenarnya telah mengakar kuat.

Penulis mendadak teringat kembali dengan satu pakaian adat yang masih ada kemiripan dengan libas safsary Tunisia ini. Ya, salah seorang teman penulis asal gugusan pulau NTB pernah menunjukkan bahwa pakaian adat di NTB sana adalah sangat mirip dengan libas Safsary Tunisia. Saudara sebangsa kita, muslimah Sumbawa pun juga memiliki adat berpakaian yang tak kalah 'nyunnah'. Masyarakat suku Bima menyebutnya dengan nama Rimpu. 

$ads={1}

Ini adalah bukti bahwa pengaruh kebudayaan Islam di masyarakat suku Bima sangatlah kuat. Bentuk rimpu sangat menyerupai bentuk mukena, yaitu satu bagian menutupi kepala sampai perut dan satu bagian lainnya menutupi perut hingga kaki. 

Adapun, rimpu sendiri berdasar kegunaannya dibedakan menjadi 2 yaitu, rimpu cili khusus untuk wanita yang belum menikah dan rimpu colo untuk wanita yang sudah menikah. 

Rimpu cili menutupi seluruh tubuh pemakainya kecuali mata, sementara rimpu colo menutupi semua tubuh kecuali wajah pemakainya.

Sallouh Bozkaro

Ratusan tahun semenjak penjajahan Perancis atas Tunisia ini bermula pada tahun 1878 M, belum mampu juga untuk me-modern kan (mem-'barat'kan, baca: menjadikan kafir -pen) kaum muslimin Tunisia. 

Tibalah masa di mana Tunisia merdeka. Saat penjajah Perancis merasa bahwa kaki mereka cepat atau lambat pasti akan lengser, dicarilah sosok pengganti yang akan memajukan Tunisia dengan nilai2 Barat dan membentuk Tunisia modern.

Bourguiba sang mantan perdana menteri di zaman kerajaan Tunisia ini terpilih dan mampu dicitrakan sebagai satu tokoh perjuangan.

Bourguiba mendeklarasikan bentuk pemerintahan Tunisia yang baru. Ya, republik dengan sistem demokrasi.

Baca Juga: Penyebab Perang Arab-Israel Terjadi Karena Moshe Dayan Tersinggung

Di masa Bourguiba inilah terjadi satu peristiwa naas. Pada 3 Agustus 1957 tepat pada saat deklarasi lahirnya Republik Tunisia, Sallouh Bozkaro seorang wanita muslimah Tunisia di lepas pakaian libas safsary nya oleh Bourguiba di depan umum. Sallouh sangat malu dan beliau mengatakan bahwa saat itu ia merasa bahwa ia sedang dilucuti busananya. Seolah tanpa busana. Namun, tatkala hendak menutup kembali libas safsarynya itu, ia mengurungkannya dan tetap membiarkan auratnya terbuka.

Sebagaimana yang dituturkan oleh media 'Huffingston post arabiya' bahwa hal itu terjadi manakala Sallouh melirik kepada suaminya yang berada di samping presiden Bourguiba, ia sebenarnya takut dengan terbukanya aurat itu menjadikan suaminya marah besar. Namun apa yang terjadi, suaminya hanya 'yafkihu', tersenyum seolah bangga dan merestui istrinya menanggalkan kehormatan libas safsary muslimahnya di depan umum.

Semenjak peristiwa itulah, dan persetujuan suaminya atas hal itu. Sallouh senantiasa menyuarakan kebebasan bagi para muslimah Tunisia.

Sallouh adalah istri dari Abdul Qadir, yang mana suaminya ini menjabat sebagai salah satu 'qadhi' (hakim dalam pengadilan islam) di Tunisia, dan ia termasuk rekan perjuangan presiden Bourguiba melawan penjajahan.

Awalnya, Sallouh masih memakai libas safsary tapi hanya ketika ia mengunjungi ibu kandungnya yang senantiasa mendidiknya dengan nilai keislaman di masa kecilnya selama bertahun tahun. Namun, itu hanyalah soal waktu hingga akhirnya Sallouh berubah sedikit demi sedikit.

Sallouh (صلوحة) mengklaim bahwa dirinyalah yang pertama kali menggugat pakaian adat Tunisia yang syar'i ini. Dia mengatakan di sela2 wawancara media bahwa libas safsary merupakan sebuah kungkungan dan penghinaan (خذلة للمرأة والإهانة).

Baca Juga: Sekilas Mengenal Gerakan Zaidiyah

Deislamisasi masih berlanjut

Tercatat pada tgl 28 April 2013, bulan Mei dan Juni di tahun yang sama pernah terjadi demo beberapa oknum wanita yang memahadewakan paham 'feminism'. Mereka berusaha menuntut pemerintah agar menghapus budaya libas safsary tersebut. Di saat demo, mereka mengungkapkan ekspresinya itu dengan cara telanjang, tanpa ada sehalai benang pun tersangkut pada tubuh wanita2 pendemo ini. Naudzubillah. Deislamisasi dan upaya upaya memadamkan cahaya Allah masih berlanjut. Akankah kita diam dan hanya menonton saja ? Semoga Allah mengistiqamahkan para muslimah dalam menjunjung tinggi niqab dan jilbabnya. Mampu mengajarkan pada dunia bahwa jilbab dan niqab bukanlah pengekangan. Namun ia adalah emansipasi hakiki.

Wallahu Alam Wallahu al Mustaan

Ezza Ibnu Hazm El Ghafiqee a.k.a Mas Kyai 

Oleh: Akbar Fachreza 

Demikian Artikel " Rekam Jejak Upaya Pemadaman Cahaya Islam Di Tunisia "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama